![]() |
| Pameran Kawisesan Bertema “Kawisesan Pinaka Tetamian Budaya Bali” di Museum Sunda Ketjil, Pelabuhan Buleleng, Selasa (20/10) |
SINGARAJA FM,- Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Buleleng melalui UPTD Gedong Kirtya menggelar Pameran Kawisesan bertema “Kawisesan Pinaka Tetamian Budaya Bali” di Museum Sunda Ketjil, Pelabuhan Buleleng, Selasa (20/10). Pameran yang berlangsung hingga 26 Oktober 2026 ini dibuka oleh Kepala Disbudpar Buleleng, Nyoman Wisandika.
Kegiatan tersebut bertujuan memperkenalkan sekaligus melestarikan warisan pengetahuan leluhur Bali yang terdokumentasi dalam naskah lontar.
Nyoman Wisandika mengatakan, kawisesan merupakan bagian dari kekayaan budaya Bali yang diwariskan secara turun-temurun. Pengetahuan tersebut mencakup tradisi sastra, pengobatan tradisional, hingga aspek spiritual yang perlu dipahami secara bijak dan tidak semata-mata dipandang dari sisi negatif.
Melalui pameran ini, masyarakat diharapkan dapat mengenal dan memahami warisan leluhur dengan pendekatan yang menarik dan edukatif. Menurutnya, museum juga memiliki peran strategis dalam mempublikasikan koleksi melalui konsep edutainment, yakni memadukan edukasi dan hiburan, terutama untuk menarik minat generasi muda terhadap kebudayaan.
“Melalui pameran ini, masyarakat diharapkan dapat mengenal, mempelajari, serta memahami warisan leluhur yang kita miliki dengan cara yang lebih menarik dan menyenangkan,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala UPTD Gedong Kirtya, Dewa Ayu Putu Susilawati, menjelaskan bahwa pameran menampilkan pengetahuan kawisesan yang tercatat dalam koleksi lontar Gedong Kirtya. Sejumlah lontar yang dipamerkan antara lain Lontar Pengiwa, Pengujanan, Penerangan, Pematuh Agung, Ukuring Keris, Pakakas, dan Piwelas.
Susilawati menegaskan, pameran ini merupakan bagian dari upaya penguatan, pengembangan, dan pelestarian kebudayaan Bali secara berkelanjutan. Penyajian informasi yang menarik diharapkan dapat memperluas pemahaman masyarakat mengenai kawisesan sebagai bagian dari kearifan lokal dan warisan intelektual masyarakat Bali.
Pameran terbuka untuk masyarakat umum setiap hari selama pelaksanaan, dengan jam kunjungan pukul 08.00–13.00 Wita dan 17.00–22.00 Wita. Masyarakat diharapkan memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mengenal lebih dekat kekayaan budaya Bali sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap warisan leluhur.

0Komentar