![]() |
| Pengrajin Koran dan Kertas Bekas,Luh Rusmiati |
SINGARAJA FM,-Tumpukan koran dan kertas bekas yang selama ini dianggap sebagai limbah ternyata mampu menjadi sumber penghasilan. Di tangan Luh Rusmiati, warga Banjar Dinas Ceblong, Desa Sudaji, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng, bahan bekas tersebut disulap menjadi beragam produk kerajinan bernilai ekonomi.
Melalui usaha Gegaen Lima Craft, Rusmiati mengolah berbagai jenis kertas menjadi produk kerajinan, mulai dari anyaman, tempat pensil, nampan, tatakan gelas, gantungan kunci hingga perabotan seperti meja dan kursi.
Usaha tersebut dirintis sejak 2016. Ide awalnya muncul ketika Rusmiati melihat tumpukan koran bekas di rumah saudaranya. Dari bahan sederhana itu, ia mencoba membuat keranjang untuk tempat air mineral.
“Awalnya saya melihat tumpukan koran di rumah saudara. Saya ingin membuat keranjang untuk tempat air mineral. Setelah ada saudara yang tertarik dan meminta dibuatkan, akhirnya berkembang dan ada yang meminta dibuatkan produk lain seperti bokor,” tuturnya saat dikonfirmasi senin (5/10).
Dari percobaan sederhana tersebut, Rusmiati kemudian terus mengembangkan keterampilannya secara mandiri. Tanpa latar belakang pendidikan khusus di bidang kerajinan, ia belajar melalui proses mencoba dan membuat berbagai bentuk produk.
Bahan baku yang digunakan juga berasal dari berbagai sumber. Untuk koran bekas, sebagian dibeli, sementara jenis kertas lainnya diperoleh dari donasi teman-temannya.
Menariknya, Rusmiati tidak hanya menerima kertas bekas secara cuma-cuma. Ia juga menerapkan sistem barter dengan para penyumbang. Kertas yang diberikan kemudian diolah menjadi produk dan sebagian hasilnya dikembalikan kepada mereka.
“Kalau koran biasanya saya beli. Kalau kertas-kertas lainnya banyak yang dapat dari donasi teman. Kadang saya barter, mereka memberikan kertas, kemudian saya kasih tempat pensil atau nampan kecil,” jelasnya.
Kreativitas tersebut perlahan membuka peluang pasar yang lebih luas. Produk Gegaen Lima Craft tidak hanya dipasarkan di lingkungan sekitar, tetapi juga pernah menjangkau konsumen dari luar daerah hingga mancanegara.
Pada 2017, Rusmiati sempat bekerja sama dengan sebuah art shop di Denpasar. Produk berupa tatakan gelas dan nampan bahkan dibawa hingga ke Jepang dan Afrika.
Selain melalui kerja sama dengan art shop, produk kerajinannya juga menarik perhatian wisatawan yang menginap di sejumlah homestay di sekitar tempat usahanya. Beberapa wisatawan membeli produk tersebut sebagai suvenir untuk dibawa pulang ke negara masing-masing.
Dari usaha kerajinan tersebut, Rusmiati memperkirakan omzet yang diperoleh dapat mencapai sekitar Rp5 juta dalam satu bulan. Namun, angka tersebut tidak selalu sama karena bergantung pada jumlah pesanan dan penjualan.
Harga produk yang dihasilkan juga cukup beragam. Untuk produk sederhana seperti gantungan kunci, harganya mulai sekitar Rp5 ribu per buah. Sementara produk berukuran lebih besar seperti meja dan kursi dijual dalam bentuk set dengan harga yang menyesuaikan jenis dan ukurannya.
Bagi Rusmiati, mengembangkan kerajinan dari limbah kertas bukan semata-mata untuk mendapatkan keuntungan. Ia ingin usaha tersebut tumbuh menjadi kegiatan ekonomi yang juga melibatkan masyarakat di sekitarnya.
“Harapannya usaha ini terus berkembang. Saya juga berharap ada orang-orang di sekitar yang mau ikut bersama-sama mengembangkan usaha ini, sehingga bisa memberikan manfaat lebih bagi orang-orang di sekitar,” ungkapnya.
Potensi tersebut juga mendapat dukungan dari Pemerintah Desa Sudaji. Rusmiati beberapa kali mendapat kesempatan mengikuti pameran dan kegiatan promosi produk lokal, seperti Lovina Festival, Buleleng Festival serta kegiatan di tingkat kecamatan.
Kesempatan mengikuti pameran dinilai penting karena menjadi ruang untuk memperkenalkan produk kepada masyarakat sekaligus membuka peluang pasar baru.
Perbekel Desa Sudaji, I Made Ngurah Fajar Kurniawan, mengapresiasi kreativitas para pelaku UMKM di wilayahnya. Menurutnya, pengolahan limbah kertas menjadi produk kerajinan merupakan contoh inovasi masyarakat desa yang memiliki nilai ekonomi sekaligus dapat mengurangi limbah.
“Pemerintah Desa Sudaji sangat mendukung dan mengapresiasi semangat UMKM kami. Salah satunya pengelolaan limbah kertas yang diolah menjadi sebuah karya seni yang nantinya bisa dipasarkan di seluruh Nusantara maupun dunia,” ujarnya.
Fajar mengatakan, pemerintah desa terus berupaya membantu pelaku UMKM dalam menghadapi berbagai kendala, terutama berkaitan dengan permodalan, pemasaran dan kebutuhan pengembangan usaha.
Dukungan dilakukan melalui pemberian motivasi, pembinaan serta membangun komunikasi dengan berbagai stakeholder yang dinilai dapat membantu pengembangan UMKM di Desa Sudaji.
Menurutnya, UMKM berbasis kreativitas seperti Gegaen Lima Craft memiliki peluang untuk terus berkembang apabila mendapat dukungan yang berkelanjutan. Produk yang awalnya dibuat dari bahan sederhana dan limbah rumah tangga pun dapat memiliki nilai ekonomi apabila dikelola dengan kreativitas dan strategi pemasaran yang tepat.
Pemerintah Desa Sudaji berharap dukungan terhadap UMKM semakin kuat, baik dari pemerintah maupun stakeholder lainnya. Dengan demikian, para pelaku usaha memiliki ruang lebih besar untuk memperluas pasar, meningkatkan produksi dan pada akhirnya ikut mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat desa.

0Komentar