![]() |
| Pajegan Sokok Dalam Puncak Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah/2026 Masehi di Desa Pegayaman,Sukasada, Rabu (26/8). |
SINGARAJA FM,-Sebanyak 24 ribu butir telur digunakan sebagai pajegan sokok dalam puncak peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah/2026 Masehi di Desa Pegayaman, Kecamatan Sukasada, Buleleng, Bali, Rabu (26/8/2026).
Ribuan telur tersebut dihias dan ditata menjadi pajegan sokok, salah satu tradisi khas masyarakat Muslim Desa Pegayaman yang hingga kini masih dipertahankan secara turun-temurun setiap perayaan Maulid Nabi.
Pajegan sokok tidak hanya menjadi bagian dari kemeriahan perayaan. Telur yang telah dihias dan disusun tersebut nantinya disedekahkan kepada anak-anak dan masyarakat. Tradisi ini sekaligus menjadi sarana berbagi serta memperkuat hubungan sosial antarwarga.
Ketua Panitia Maulid Nabi Desa Pegayaman, Abdul Manaf, mengatakan rangkaian peringatan Maulid Nabi telah berlangsung sejak 13 Agustus 2026 dan mencapai puncaknya pada 26 Agustus 2026.
“Ada sekitar 24 ribu telur yang digunakan dalam pajegan sokok tahun ini. Telur-telur tersebut nantinya akan dibagikan sebagai bentuk sedekah kepada anak-anak dan masyarakat,” ujar Abdul Manaf.
Menurutnya, puncak Maulid Nabi menjadi bagian dari rangkaian kegiatan yang cukup panjang. Berbagai kegiatan keagamaan dan kebersamaan masyarakat digelar sebelum pelaksanaan puncak Maulid.
“Rangkaian kegiatan sudah dimulai sejak 13 Agustus, mulai dari wiridan di masjid, pekan lomba Maulid, parade hadrah dan burdah, muludan tanggal akut, rotibul haddad dan hiziban, hingga gotong royong pemasangan ambu,” katanya.
Perbekel Desa Pegayaman, A. Asyghor Ali atau Agus Asyghor Ali, menyebut seluruh rangkaian Maulid Nabi merupakan bentuk rasa syukur masyarakat dalam memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.
“Peringatan Maulid Nabi ini merupakan wujud rasa syukur masyarakat Desa Pegayaman atas momentum kelahiran Nabi Muhammad SAW. Tradisi ini juga menjadi bagian penting yang terus diwariskan kepada generasi berikutnya,” kata Agus Asyghor Ali.
Ia menambahkan, berbagai tradisi yang dilaksanakan selama Maulid Nabi tidak hanya memiliki nilai keagamaan. Kegiatan tersebut juga menjadi ruang untuk memperkuat kebersamaan dan kepedulian sosial masyarakat.
“Di dalam rangkaian Maulid ini ada nilai kebersamaan, berbagi, gotong royong, dan mempererat persaudaraan. Karena itu, tradisi seperti pajegan sokok perlu terus dijaga dan dilestarikan,” imbuhnya.
Setelah puncak peringatan pada 26 Agustus, rangkaian Maulid Nabi di Desa Pegayaman masih berlanjut hingga 29 Agustus melalui kegiatan Manis Muludan yang akan diisi dengan atraksi pencak silat.
Rangkaian tersebut menunjukkan bahwa peringatan Maulid Nabi di Pegayaman tidak hanya menghadirkan nuansa religius, tetapi juga menjadi ruang untuk merawat tradisi, memperkuat semangat gotong royong, berbagi dengan sesama, serta menjaga identitas masyarakat Pegayaman.

0Komentar