![]() |
| Umat Hindu Sembahyang di Pura |
SINGARAJA FM,-Umat Hindu di Bali bersiap menyambut Hari Raya Galungan dengan melaksanakan rangkaian upacara suci Sugihan Jawa dan Sugihan Bali. Kedua hari raya tersebut dirayakan secara berurutan pada pekan Wuku Sungsang, tepat sepekan sebelum Galungan, sebagai simbol penyucian alam semesta dan diri manusia.
Meski menggunakan istilah “Jawa” dan “Bali”, kedua perayaan ini tidak merujuk pada wilayah geografis tertentu. Dalam ajaran Hindu, istilah tersebut memiliki makna filosofis yang berkaitan dengan proses penyucian lahir dan batin sebagai persiapan menyambut kemenangan Dharma melawan Adharma pada Hari Raya Galungan.
Sugihan Jawa diperingati pada Kamis Wage, Wuku Sungsang. Hari suci ini dimaknai sebagai momentum penyucian Bhuana Agung atau alam semesta. Kata “Jawa” diyakini berasal dari kata jaba yang berarti luar, sehingga fokus utama perayaan ini adalah membersihkan lingkungan sekitar, baik secara fisik maupun spiritual.
Pada hari tersebut, umat Hindu biasanya melakukan pembersihan pura, sanggah atau pemerajan, rumah, serta lingkungan sekitar. Selain kegiatan bersih-bersih secara sekala (nyata), umat juga melaksanakan upacara penyucian secara niskala melalui berbagai sarana upakara guna menetralisir pengaruh negatif atau bhuta kala.
Sehari setelahnya, umat Hindu merayakan Sugihan Bali yang jatuh pada Jumat Kliwon, Wuku Sungsang. Berbeda dengan Sugihan Jawa, hari suci ini berfokus pada penyucian Bhuana Alit, yakni diri manusia sebagai mikrokosmos.
Secara filosofis, kata “Bali” berasal dari makna yang merujuk pada unsur dalam atau diri sendiri. Oleh karena itu, Sugihan Bali menjadi momentum untuk membersihkan pikiran, jiwa, dan perilaku dari berbagai sifat buruk yang dapat menghalangi terciptanya kehidupan yang harmonis.
Dalam pelaksanaannya, umat Hindu melakukan berbagai bentuk penyucian diri, seperti mandi keramas, persembahyangan, hingga introspeksi diri atau mulat sarira. Sebagian umat juga memanfaatkan momen tersebut untuk memperdalam spiritualitas melalui meditasi dan pengendalian diri.
Tokoh agama Hindu menilai Sugihan Jawa dan Sugihan Bali merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Penyucian lingkungan dianggap penting sebagai upaya menciptakan keharmonisan alam, sementara penyucian diri menjadi langkah utama untuk membangun keseimbangan batin.
Melalui dua rangkaian upacara tersebut, umat Hindu diingatkan bahwa kesucian tidak hanya diwujudkan melalui lingkungan yang bersih dan tertata, tetapi juga melalui hati dan pikiran yang terbebas dari sifat-sifat negatif.
Dengan demikian, Sugihan Jawa dan Sugihan Bali menjadi landasan spiritual bagi umat Hindu dalam mempersiapkan diri menyambut Hari Raya Galungan sebagai simbol kemenangan Dharma atas Adharma.

0Komentar