TUO6BUOpGUd9BUYpGSroBSGiGY==
Light Dark
Tenun Cag-Cag Sembiran Krisis Regenerasi Ditengah Meningkatnya Permintaan

Tenun Cag-Cag Sembiran Krisis Regenerasi Ditengah Meningkatnya Permintaan

Daftar Isi
×

Hasil Produksi Tenun Cag-Cag Desa Sembiran


SINGARAJA FM,-Keberlanjutan kerajinan tradisional tenun Cag-Cag khas Desa Sembiran, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, dihadapkan pada tantangan besar ditengah  meningkatnya permintaan pasar untuk produk tenun cag-cag Desa Sembiran.

Jumlah penenun yang masih aktif dan tingkat regenerasi perajin yang rendah, mengakibatkan kelestarian warisan budaya masyarakat Bali Aga semakin terancam.

Menurut Wayan Suseni, pembina Kelompok Tenun Ikat Cag-Cag Wukir Samirana, tenun Cag-Cag memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat Desa Sembiran. Busana tradisional ini adalah bagian dari tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.

“Kalau di Sembiran, anak perempuan yang sudah memasuki usia dewasa atau menek bajang wajib memiliki kamen dan selendang tenun Cag-Cag,” ujarnya.

Ia menyatakan bahwa ciri khas tenun Cag-Cag Sembiran adalah motif garis-garis sederhana tanpa lekukan. Meskipun motifnya sederhana, memiliki makna filosofis yang menggambarkan perjalanan hidup manusia.

Kain itu terdiri dari bagian tepi yang melambangkan kelahiran, bagian tengah yang menunjukkan perjalanan kehidupan, dan bagian akhir yang melambangkan kematian. Selain itu, hanya empat warna dasar yang dapat digunakan: merah, hitam, kuning, dan putih.

Tenun Cag-Cag tidak hanya digunakan dalam tradisi menek bajang, tetapi juga digunakan dalam upacara pernikahan, Hari Raya Galungan, Kuningan, dan banyak acara adat lainnya. Kain ini dapat digunakan oleh laki-laki maupun perempuan, tetapi keberadaan kain ini sangat penting bagi perempuan Sembiran karena merupakan bagian dari kebiasaan adat dalam tradisi tertentu.

Suseni mengungkapkan, minat masyarakat terhadap tenun Cag-Cag terus meningkat. Pesanan tidak hanya datang dari wilayah Buleleng, tetapi juga dari berbagai daerah lainnya di Bali. Namun, tingginya permintaan tersebut belum diimbangi dengan ketersediaan sumber daya manusia yang memadai.

“Sekarang penenun yang aktif hanya sekitar 10 orang dan rata-rata usianya sudah 40 sampai 50 tahun. Tantangan terbesar kami adalah sumber daya manusia, karena masih sedikit generasi muda yang mau belajar menenun,” jelasnya.

Harga selendang tenun Cag-Cag sekitar Rp 400 ribu, dan kamen sekitar Rp 800 ribu per lembar, dan proses pengerjaan sekitar satu minggu. Ketut Suryani (54), seorang penenun, mengatakan dia belajar menenun sejak 2012. Ia belajar keterampilan ini dari almarhum Dadong Landri, maestro penenun Desa Sembiran.

“Saya belajar karena ingin tenun ini tetap ada. Harus ada generasi yang meneruskan supaya tidak punah,” kata Suryani.

Dia mengatakan bahwa kelompok penenun di Desa Sembiran telah menerima dukungan dari pemerintah untuk mengembangkan keterampilan tradisional tersebut. Di sisi lain, menarik minat generasi muda untuk belajar menenun masih menjadi masalah yang perlu ditangani bersama.

“Masyarakat Desa Sembiran masih berupaya mempertahankan tenun Cag-Cag sebagai identitas budaya Bali Aga. Namun tanpa regenerasi yang memadai, keberlanjutan warisan leluhur tersebut berpotensi menghadapi tantangan yang semakin berat,” tandasnya.

0Komentar

sn
sn
Special Ads