TUO6BUOpGUd9BUYpGSroBSGiGY==
Light Dark
Isu Mebanten dan Lingkungan, Ida Bhagawan Agra Sagening : Ini Saatnya Introspeksi Bersama

Isu Mebanten dan Lingkungan, Ida Bhagawan Agra Sagening : Ini Saatnya Introspeksi Bersama

Daftar Isi
×
Ida Bhagawan Agra Sagening


SINGARAJA FM,-Manusia pada hakikatnya tidak pernah terlepas dari kelebihan dan kekurangan dalam perjalanan hidupnya. Dalam berbagai situasi, seseorang bisa berada pada posisi yang tepat, namun tidak jarang pula terjadi kekeliruan dalam memilih diksi maupun cara penyampaian yang kemudian menimbulkan beragam tafsir di tengah masyarakat.

Hal tersebut disampaikan oleh narasumber Ida Bhagawan Agra Sagening saat memberikan pandangan terkait dinamika pernyataan seorang tokoh adat yang belakangan menjadi perbincangan publik. Menurutnya, setiap pernyataan sebaiknya tidak serta-merta dipahami secara sempit, melainkan dilihat dalam konteks yang lebih utuh.

“Saya pribadi tidak melihat itu semata-mata sebagai ajakan untuk mengurangi mebanten. Kita perlu melihat sosok beliau secara menyeluruh. Beliau adalah penekun lontar, pelestari naskah-naskah sastra Bali, dan pengabdi budaya yang panjang. Karena itu, kurang bijak jika satu pernyataan menghapus seluruh pengabdian yang telah beliau lakukan,” ujarnya.

Ia menilai, pernyataan yang memicu perdebatan tersebut kemungkinan besar merupakan bentuk penekanan terhadap kesadaran masyarakat terkait persoalan lingkungan, khususnya sampah yang semakin nyata dampaknya dalam kehidupan sehari-hari.

“Barangkali yang ingin disampaikan adalah ajakan untuk lebih sadar terhadap persoalan sampah. Walaupun cara penyampaiannya bisa menimbulkan perdebatan, substansinya tetap perlu kita renungkan,” tambahnya.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa tradisi Bali sesungguhnya telah memiliki sistem yang sangat harmonis melalui wariga dan rerahinan seperti Purnama, Tilem, Kajeng Kliwon, dan berbagai hari suci lainnya. Pada momen tersebut umat diberikan ruang untuk meningkatkan kualitas yadnya sesuai kemampuan dan tuntunan sastra.

Sementara dalam keseharian, tradisi saiban dan persembahan sederhana tetap menjadi bagian dari praktik spiritual yang menghubungkan manusia dengan alam, leluhur, dan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

“Jika umat menghaturkan canang setiap hari, itu bukan sesuatu yang salah. Itu adalah bentuk bhakti. Namun yang perlu direnungkan adalah bagaimana menjalankannya secara bijaksana, selaras dengan sastra dan tidak menimbulkan persoalan lingkungan, terutama sampah plastik yang kini menjadi tantangan bersama,” jelasnya.

Ia menekankan bahwa persoalan utama bukan terletak pada praktik mebanten itu sendiri, melainkan pada keseimbangan antara bhakti dan tanggung jawab terhadap alam.

“Yadnya yang sejati tidak hanya ditujukan kepada Tuhan, tetapi juga kepada alam semesta yang menjadi bagian dari kehidupan kita,” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga menyoroti persoalan pengelolaan sampah yang hingga kini masih menjadi pekerjaan rumah bersama. Menurutnya, berbagai program, wacana, hingga studi banding yang telah dilakukan belum sepenuhnya memberikan solusi yang efektif di lapangan.

“Banyak gagasan sudah disampaikan, banyak pula contoh dari luar daerah bahkan luar negeri yang dipelajari. Namun kenyataannya persoalan sampah masih menjadi masalah yang belum tuntas,” katanya.

Ia mengajak masyarakat untuk tidak hanya berfokus pada perdebatan, tetapi menjadikan momentum ini sebagai ruang refleksi bersama.

“Kadang satu pernyataan bisa membuka ruang diskusi yang luas. Setidaknya dari sini kita kembali berbicara tentang sampah, tentang wariga, tentang yadnya, dan tentang hubungan kita dengan alam,” ujarnya.

Menurutnya, sejarah tidak selalu bergerak karena orang yang merasa benar, tetapi sering kali karena adanya pemicu yang menggugah kesadaran kolektif masyarakat.

“Daripada sibuk mencari siapa yang salah, lebih baik kita bertanya apa yang perlu diperbaiki bersama,” tambahnya.

Ia menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa Bali tidak kekurangan orang yang pandai berbicara, namun membutuhkan lebih banyak pihak yang mau menjaga keseimbangan antara nilai spiritual dan kelestarian lingkungan.

“Yang kita butuhkan adalah kebersamaan menjaga kesucian yadnya sekaligus kebersihan alam tempat yadnya itu dilaksanakan,” pungkasnya.

0Komentar

sn
sn
Special Ads