![]() |
| Putu Ayu Ekadini alias Mocca |
SINGARAJAFM,- Sosok inspiratif datang dari perempuan muda asal Bali, Putu Ayu Ekadini, yang akrab disapa Mocca. Dengan perjalanan hidup penuh lika-liku, ia membuktikan bahwa setiap pengalaman, baik manis maupun pahit, bisa menjadi warna dalam kehidupan—layaknya seni tato yang sarat makna.
Perempuan yang lahir dan besar di Desa Mayong, Kabupaten Buleleng ini menghabiskan masa kecil hingga lulus SMK di kampung halamannya. Namun, tekad kuat membawanya merantau ke Denpasar bahkan sebelum menerima ijazah kelulusan.
“Awalnya Bapak menyarankan saya untuk kuliah jadi guru. Tapi saya merasa itu bukan passion saya dan tidak ingin membebani orang tua,” ungkapnya.
Berbekal keberanian, Mocca memulai karier dari nol sebagai sales obat. Seiring waktu, ia terus berkembang dan kini menekuni berbagai bidang usaha. Saat ini, ia aktif sebagai marketing jual beli mobil bekas, menjalankan usaha open trip ke Thailand, serta merintis tempat nongkrong dan home studio tato bersama sang suami. Selain itu, ia juga mulai aktif sebagai content creator untuk mencari pengalaman baru.
Dalam perjalanan usahanya, Mocca mengaku banyak menghadapi tantangan. Ia pernah mengalami kerugian besar akibat penipuan hingga ratusan juta rupiah, termasuk mobil yang dibawa kabur dan uang yang disalahgunakan oleh rekan kerja.
Meski demikian, ia tetap mengambil sisi positif dari setiap kejadian. “Sukanya, saya bisa kenal banyak orang dari berbagai daerah bahkan negara. Dukanya ya itu, banyak pengalaman pahit juga, tapi semuanya jadi pelajaran hidup,” ujarnya.
Untuk menjaga keseimbangan hidup, Mocca memiliki prinsip sederhana: mempersempit lingkar pergaulan, fokus membahagiakan diri sendiri dan keluarga, serta tidak mempedulikan gunjingan orang lain.
Di balik kiprahnya, Mocca juga ingin mengedukasi masyarakat tentang stigma negatif terhadap tato. Ia menegaskan bahwa tato bukanlah simbol kriminalitas.
“Menurut saya, seni tato adalah cara saya bercerita tentang perjuangan hidup. Banyak orang menganggap bertato itu identik dengan hal negatif, padahal kita tidak tahu cerita di baliknya,” tegasnya.
Ia pun mengajak masyarakat untuk mengubah cara pandang terhadap tato dan lebih menghargai sebagai bentuk ekspresi seni.
Menutup kisahnya, Mocca membagikan filosofi hidup yang ia pegang teguh: “Hidup itu seperti seni tato; penuh warna, penuh makna, dan unik dengan caranya sendiri. Jadilah versi terbaik dari dirimu sendiri, bukan salinan orang lain.”

0Komentar