![]() |
| Ni Kadek Astini |
SINGARAJAFM,- Di balik gemerlapnya seni pertunjukan Bali, terdapat sosok-sosok tangguh yang berjuang memberikan ruang bagi mereka yang sering terpinggirkan. Ni Kadek Astini, pendiri Sanggar Tari Pradnya Swari, menjadi salah satu pelopor yang mendedikasikan hidupnya untuk melatih anak-anak penyandang disabilitas agar mampu berdiri tegak di atas panggung melalui seni tari.
Sanggar yang berlokasi di Jembrana ini tidak hanya melatih anak-anak umum, tetapi juga fokus pada anak-anak dengan kebutuhan khusus, mulai dari tunarungu, tunagrahita, hingga tunadaksa. Bagi Kadek Astini, seni tari adalah bahasa universal yang bisa dipelajari oleh siapa saja, asalkan ada ketulusan dan kesabaran.
Salah satu muridnya yang inspiratif adalah Gek Resya, seorang anak tunadaksa. Meski memiliki keterbatasan fisik, Gek Resya mampu menarikan Tari Puspanjali dengan memukau dan bahkan memiliki cita-cita mulia untuk menjadi seorang guru tari di masa depan.
Melatih anak-anak disabilitas tentu membutuhkan trik tersendiri. Kadek Astini mengungkapkan bahwa ia menggunakan bahasa tubuh dan gerakan bibir yang sangat ekspresif agar murid-muridnya yang tunarungu bisa mengikuti irama tari meski tanpa mendengar musik secara langsung.
"Anak-anak tunarungu sangat memperhatikan gerakan bibir dan ekspresi wajah saya. Saat tampil, saya harus berdiri di depan memberikan kode agar mereka tahu kapan harus maju atau berpindah posisi," ujar Kadek Astini.
Di sanggarnya, Kadek Astini menerapkan kedisiplinan tinggi namun tetap penuh kasih sayang. Murid-murid diajarkan untuk bertanggung jawab atas perlengkapannya sendiri, menjaga kerapian rambut, dan datang tepat waktu. Tujuannya bukan sekadar mahir menari, tetapi membentuk mentalitas yang kuat agar mereka siap berbaur dengan masyarakat luas.
Prestasi murid-murid sanggar ini pun tak main-main. Mereka sudah sering tampil di berbagai acara bergengsi, termasuk di hadapan Bupati Jembrana, yang menjadi bukti nyata bahwa keterbatasan bukanlah halangan untuk berkarya.
Kadek Astini berharap para orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus tidak merasa malu atau menyembunyikan potensi anaknya. Ia mengajak semua pihak untuk memberikan dukungan moral dan ruang seluas-luasnya bagi anak-anak ini untuk berekspresi.
"Jangan biarkan keterbatasan menjadi penghalang. Melalui seni, kita bisa melihat bahwa setiap anak memiliki cahaya dan kemampuannya masing-masing," pungkasnya.

0Komentar