TUO6BUOpGUd9BUYpGSroBSGiGY==
Light Dark
Mengenal Ni Made Sasih Arini “Mongkeg” Sosok Dayang Ikonik Drama Gong

Mengenal Ni Made Sasih Arini “Mongkeg” Sosok Dayang Ikonik Drama Gong

Daftar Isi
×

Ni Made Sasih Arini “Mongkeg”

SINGARAJAFM,- Dunia seni pertunjukan tradisional Bali, khususnya Drama Gong, takkan pernah lepas dari sosok-sosok yang memberi warna melalui karakter yang kuat. Salah satunya adalah Ni Made Sasih Arini, atau yang lebih dikenal luas dengan nama panggung Luh Mongkeg. Dalam sebuah obrolan santai, seniman senior kelahiran 25 Mei 1952 ini membagikan perjalanan karirnya yang penuh dedikasi sejak era 60-an.

Perjalanan seni Made Sasih Arini dimulai secara otodidak. Lahir di Cau Belayu, Tabanan, ia mengaku ketertarikannya pada seni mengalir dari sang ayah yang merupakan penari topeng. Sejak kelas 3 SD, ia sudah aktif menari Janger sebelum akhirnya terjun ke dunia drama pada tahun 1968 saat masih duduk di bangku SMP di Blahkiuh.

Nama "Mongkeg" sendiri lahir secara spontanitas di atas panggung. Tanpa direncanakan sebelumnya, nama tersebut muncul saat ia melakukan improvisasi dialog bersama rekan mainnya dan terus melekat hingga menjadi ikon hingga saat ini.

Meski dikenal sebagai pemeran Dayang yang lincah dan jenaka, Made Sasih Arini sebenarnya mengawali karirnya dengan memerankan karakter Putri. Namun, karena postur tubuhnya yang dianggap lebih cocok dan kemampuannya dalam menghidupkan suasana, ia kemudian lebih sering dipercaya menjadi Dayang.

Salah satu masa keemasannya adalah saat bergabung dengan grup-grup besar seperti Drama Gong Kerta Budaya, di mana ia sering dipasangkan dengan almarhum suaminya, seorang seniman yang kerap memerankan tokoh Raja Buduh. Salah satu lakon yang paling berkesan baginya adalah "Suketi", yang ia perankan selama puluhan tahun hingga berkeliling Bali dan Lombok.

Made Sasih Arini mengenang masa-masa kejayaan Drama Gong di mana honor saat itu masih berkisar Rp2.500 per pementasan, namun kepuasan batinnya tak ternilai. Ia memutuskan untuk berhenti dari panggung profesional pada tahun 2015, tak lama setelah kepergian sang suami, karena merasa kehilangan rekan duet sejatinya di atas panggung.

Meski kini sudah jarang tampil, rasa rindu akan panggung tetap ada. Di usia senjanya, ia berpesan kepada generasi muda untuk terus mencintai dan melestarikan budaya Bali. "Adik-adik yang senang dengan kesenian, terutama Drama Gong, lanjutkanlah perjuangan kami agar kesenian ini tidak punah," pesannya menutup pembicaraan.  

0Komentar

sn
sn
Special Ads