TUO6BUOpGUd9BUYpGSroBSGiGY==
Light Dark
Purnama Kedasa, Ritual Suci, Tapi Kenapa Bumi Jadi Korban? (Refleksi Lontar Sundarigama)

Purnama Kedasa, Ritual Suci, Tapi Kenapa Bumi Jadi Korban? (Refleksi Lontar Sundarigama)

Daftar Isi
×
Purnama Kedasa, Ritual Suci, Tapi Kenapa Bumi Jadi Korban? Sebuah Refleksi Lontar Sundarigama


Oleh, Koordinator Penyuluh Agama Hindu Kecamatan Tejakula. 

Luh Irma Susanthi, S.Sos.,M.Pd

SINGARAJA FM,-Purnama Kedasa bukan sekadar Purnama biasa. Ia adalah puncak getaran kesucian, ketika manusia, alam, dan Ida Sang Hyang Widhi diharapkan menyatu dalam harmoni… banyak  Desa adat berbondong-bondong melaksanakan Melasti, umat menghaturkan yadnya dengan penuh rasa bhakti, dan upacara Purnama Kedasa kerap disebut Upacara Neduh yang digelar untuk memohon keselamatan jagat. Namun, di balik kesakralan itu, muncul fenomena yang menggugah kesadaran, semakin besar yadnya, semakin besar pula jejak sampah yang ditinggalkan, dalam perspektif Lontar Sundarigama, hari-hari suci bukan hanya soal waktu baik untuk berupacara, tetapi juga momentum untuk menyelaraskan diri dengan rta tatanan kosmis yang menjaga keseimbangan semesta.Lontar Sundarigama mengajarkan bahwa setiap yadnya harus dilandasi oleh suddha citta (pikiran yang suci), suddha karma (perbuatan yang suci), dan suddha upakara (sarana yang suci). Jika salah satu tercemar, maka yadnya kehilangan taksunya.

Prosesi Melasti, upacara Neduh, hingga piodalan besar dilaksanakan dengan khidmat dan megah. Namun di balik kemegahan itu, muncul pertanyaan yang semakin relevan di zaman ini, ketika manusia berusaha menyucikan diri, mengapa justru alam yang menjadi korban? Fenomena ini bukan sekadar kritik sosial, tetapi refleksi spiritual yang mendalam, dalam ajaran Hindu, yadnya sejatinya bukan hanya tentang persembahan fisik, tetapi tentang kesadaran batin, dalam Bhagavad Gita III.13 disebutkan:

"Yajña-śiṣṭāśinaḥ santo mucyante sarva-kilbiṣaiḥ

bhunjate te tv agham papa, tye pacanty atma karanat. 

Artinya: Mereka yang memakan sisa dari yadnya akan terbebas dari segala dosa. Makna sloka ini sangat dalam. Yadnya bukan sekadar ritual, tetapi jalan pembebasan dari dosa. Namun, pembebasan itu hanya terjadi jika yadnya dilakukan dengan kesadaran suci dan tidak melahirkan penderitaan bagi makhluk lain. Ketika yadnya justru menghasilkan tumpukan sampah plastik, sisa banten, dan limbah upacara, maka nilai kesucian itu patut dipertanyakan, di sinilah persoalan plastik menjadi sangat relevan. Plastik adalah simbol kepraktisan zaman modern, ringan, murah, dan mudah digunakan. Namun, di balik kepraktisan itu, ia membawa sifat yang bertentangan dengan prinsip kesucian dalam Hindu, tidak mudah terurai, mencemari alam, dan merusak keseimbangan bhuwana agung. Pertanyaannya bukan sekadar “bolehkah menggunakan plastik?”, tetapi “apakah plastik selaras dengan nilai kesucian yadnya?”

Lontar Sundarigama secara implisit menegaskan bahwa segala sarana yadnya seharusnya berasal dari alam dan kembali ke alam. Daun, bunga, air, api, semuanya adalah bagian dari siklus suci Panca Mahabhuta. Ketika kita mengganti unsur alami itu dengan plastik, kita memutus siklus tersebut. Kita menciptakan yadnya yang tidak lagi menyatu dengan alam, tetapi justru meninggalkan luka pada alam.

Kesadaran ini penting, karena sering kali pembenaran muncul dalam bentuk “praktis”. Plastik dianggap solusi: lebih cepat, lebih efisien, lebih mudah dalam jumlah besar. Namun, dalam dharma, tidak semua yang praktis adalah benar. Tidak semua yang mudah adalah suci, dalam ajaran Hindu, dikenal prinsip desa, kala, patra, penyesuaian terhadap tempat, waktu, dan keadaan. Tetapi prinsip ini sering disalahartikan sebagai legitimasi untuk mengabaikan nilai dasar. Desa kala patra bukan alasan untuk menurunkan kesucian, melainkan cara untuk menjaga esensi tetap hidup dalam perubahan zaman.

Menggunakan plastik dalam yadnya bukan sekadar persoalan teknis, tetapi persoalan kesadaran. Ketika kita sadar bahwa setiap plastik yang kita gunakan akan tetap ada selama ratusan tahun, maka kita juga harus sadar bahwa yadnya yang seharusnya menyucikan justru meninggalkan jejak penderitaan jangka panjang bagi bumi, dalam konteks Tri Hita Karana, ini adalah ketidakseimbangan yang nyata. Kita mungkin merasa telah menyempurnakan hubungan dengan Tuhan (parahyangan), tetapi pada saat yang sama merusak hubungan dengan alam (palemahan). Padahal, keduanya tidak bisa dipisahkan. Menyakiti alam adalah bentuk ketidakharmonisan spiritual.

Purnama Kedasa seharusnya menjadi titik balik. Bukan hanya tentang seberapa besar yadnya yang kita lakukan, tetapi seberapa dalam kesadaran yang kita miliki. Melasti bukan sekadar membersihkan simbol-simbol kotoran, tetapi juga membersihkan cara berpikir yang keliru, termasuk pola pikir instan yang mengorbankan alam.

Kesucian tidak lahir dari kemewahan. Ia lahir dari keselarasan. Maka, kembali pada ajaran Lontar Sundarigama, yadnya yang utama adalah yadnya yang menjaga keseimbangan. Yadnya yang tidak hanya indah di mata manusia, tetapi juga ringan bagi bumi. Yadnya yang tidak meninggalkan jejak kerusakan, melainkan jejak kesucian yang menyatu dengan alam. Karena pada akhirnya, bumi bukan hanya tempat kita melakukan yadnya, ia adalah bagian dari yadnya itu sendiri, dan jika kita benar-benar memahami makna Purnama Kedasa, maka kita akan sadar,  menjaga bumi dari sampah plastik bukan sekadar pilihan, tetapi bagian dari Dharma. Bukan karena tren, bukan karena aturan, tetapi karena kesadaran bahwa kesucian sejati tidak pernah menyakiti, di sanalah yadnya menemukan maknanya yang paling dalam. Atharva Veda XII.1.12 ditegaskan, 

"Mata bhumih putro aham prithivyah."

Artinya, Bumi adalah ibu, dan aku adalah anaknya.

Sloka ini menegaskan hubungan sakral antara manusia dan bumi. Jika bumi adalah ibu, maka mencemarinya setelah sebuah yadnya adalah bentuk ketidaksadaran spiritual. Bagaimana mungkin seorang anak menyakiti ibunya atas nama bhakti?

Realitas hari ini menunjukkan adanya pergeseran makna. Yadnya sering kali menjadi simbol status sosial, siapa yang paling besar, paling ramai, paling megah. Estetika lebih diutamakan daripada esensi. Bahkan, dalam beberapa kasus, penggunaan bahan non-organik seperti plastik dalam sarana upacara menjadi hal yang dianggap biasa. Setelah prosesi selesai, sisa-sisa itu ditinggalkan di pantai, sungai, atau area suci tempat yang seharusnya menjadi ruang pemurnian, di sinilah pentingnya kembali pada esensi ajaran, dalam Manava Dharmasastra disebutkan bahwa kebersihan adalah bagian dari dharma. Kesucian bukan hanya pada mantra dan upakara, tetapi juga pada tindakan nyata. Yadnya yang sejati adalah yadnya yang tidak meninggalkan luka baik pada manusia maupun alam.

Purnama Kedasa seharusnya menjadi momentum introspeksi. Melasti bukan hanya tentang menghanyutkan simbol-simbol kotoran ke laut, tetapi juga tentang membuang ego, kesombongan, dan ketidaksadaran. Jika setelah Melasti pantai justru dipenuhi sampah, maka yang terjadi bukan penyucian, melainkan pemindahan masalah.

Kesucian sejati adalah kesucian yang menyeluruh. Tidak cukup hanya bersih di altar, tetapi juga bersih di bumi. Tidak cukup hanya indah di mata manusia, tetapi juga harmoni di mata semesta.

Maka, Purnama Kedasa hari ini mengajak kita untuk bertanya lebih dalam: apakah kita benar-benar sedang ber-yadnya, atau hanya sedang merayakan ritual tanpa jiwa?

Jika yadnya adalah persembahan kepada Tuhan, maka menjaga bumi adalah bagian dari persembahan itu sendiri. Karena pada akhirnya, Tuhan tidak hanya hadir di pura dIa juga hadir dalam setiap helai daun, setiap tetes air, dan setiap butir tanah yang kita pijak. Adan mungkin, kesucian terbesar bukan terletak pada seberapa megah upacara yang kita lakukan, tetapi pada seberapa tulus kita menjaga ciptaan-Nya.Kesadaran akan mulia tertanam  ketika kita berhenti melihat alam sebagai objek, dan mulai merasakannya sebagai ibu., Kesadaran sejati lahir saat kita menyadari alam bukan milik kita, tapi kita adalah bagian dari napasnya.

0Komentar

sn
sn
Special Ads