![]() |
| Jro Mangku Dalang Wayan Nardayana |
SINGARAJAFM,- Siapa yang tak kenal dengan Wayang Ceng Blonk? Sosok di balik fenomena Wayang Kulit Cenk Blonk ini telah menjadi ikon seni pedalangan modern di Bali. Melalui obrolan mendalam di Tokoh Bali Channel, Jro Mangku Dalang Wayan Nardayana mengupas tuntas perjalanan kariernya, filosofi hidup, hingga tantangan menjaga tradisi di tengah gempuran media sosial.
Banyak yang mengira nama "Ceng Blonk" adalah ciptaan baru. Namun, Jro Nardayana mengungkapkan bahwa nama tersebut berakar dari tokoh tradisional Nang Klenceng dan Nang Cengblong yang sudah ada sejak zaman leluhur. Nama grupnya awalnya adalah "Gita Loka," namun karena masyarakat lebih sering memanggil "Wayang Cengblong" akibat dialog interaktif tokoh Ceng dan Blonk, ia akhirnya meresmikan nama tersebut pada tahun 1995.
Tokoh Ceng dan Blonk sengaja dihadirkan untuk mewakili suara masyarakat. Ceng digambarkan sebagai sosok yang energik dan intelek, sementara Blonk adalah karakter lugu yang sering bicara ceplas-ceplos (blong) namun kerap mengandung kebenaran.
Meski dikenal piawai, Jro Nardayana dengan rendah hati mengakui kelemahannya dalam penguasaan Bahasa Kawi yang mendalam. Namun, ia menyiasatinya dengan menggunakan bahasa yang komunikatif agar pesan moral dan filosofi raja-raja tetap sampai ke hati penonton tanpa rasa bosan.
Ia juga menceritakan suka duka menjadi dalang laris. Tantangan terberat baginya bukanlah soal teknis menggerakkan wayang, melainkan menjaga kualitas dialog agar tetap relevan dan lucu tanpa kehilangan esensi tuntunan. "Membangun 'pingpong' bahasa dengan penonton itu yang paling berat," ujarnya.
Melalui wadah "Ceng Blonk Generation," Jro Nardayana memberikan ruang bagi anak-anak muda untuk belajar mendalang. Ia menekankan bahwa menjadi dalang bukan soal gelar akademik semata, melainkan soal ketekunan, bakat, dan "taksu". Bagi mereka yang ingin berguru, ia selalu berpesan agar tidak hanya meniru gayanya, tetapi harus menemukan karakter diri sendiri.
Di balik panggung yang riuh, Jro Nardayana adalah sosok yang sangat mempedulikan ketenangan batin. Ia percaya bahwa semua permasalahan hidup, termasuk kesehatan dan rezeki, berawal dari cara berpikir (mindset). Ia mengajak masyarakat untuk tidak hanya fokus pada ritual (Banten), tetapi juga pada bagaimana memanajemen pikiran agar tetap bersih dari "kotoran batin".
Terkait hal-hal mistis yang sering dikaitkan dengan dunia pedalangan, ia menanggapinya dengan santai. Baginya, keselamatan saat pentas adalah berkat keyakinan dan niat baik untuk menghibur sekaligus memberi tuntunan.
Menutup perbincangan, Jro Mangku Dalang Wayan Nardayana mengajak seluruh generasi muda untuk bangga dan konsisten melestarikan budaya Bali, khususnya wayang kulit. "Wayang adalah jati diri kita sebagai orang Bali. Inilah yang membedakan kita dengan budaya luar," pungkasnya dengan penuh semangat.

0Komentar