![]() |
| Prof. Dr. I Made Bandem |
SINGARAJAFM,- Pesta Kesenian Bali (PKB) bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan sebuah ekosistem kebudayaan yang telah bertahan selama hampir setengah abad. Ajang ini tetap menjadi headlight kebudayaan yang paling dinanti oleh krama Bali maupun dunia. Namun, di balik kemegahannya, tersimpan sejarah panjang dan visi besar para tokoh yang membidani kelahirannya.
Dalam sebuah diskusi mendalam, tokoh seni legendaris Bali, Prof. Dr. I Made Bandem, membagikan kisah di balik layar lahirnya PKB yang bermula pada tahun 1979.
Sosok utama yang merancang cetak biru PKB adalah Prof. Dr. Ida Bagus Mantra. Saat menjabat sebagai Direktur Jenderal Kebudayaan (1968-1988) dan kemudian menjadi Gubernur Bali, beliau memiliki visi untuk menggali, mengembangkan, dan melestarikan seni budaya Bali secara terstruktur.
Pembangunan Taman Budaya (Art Center) Denpasar pun dilakukan secara bertahap sejak 1973. Menariknya, gedung ikonik Arda Candra justru merupakan bangunan terakhir yang diselesaikan setelah gedung pameran dan Gedung Ksirarnawa.
Terdapat alasan filosofis mengapa nama "Pesta Kesenian Bali" dipilih ketimbang "Pesta Kebudayaan Bali". Menurut Prof. Bandem, Prof. Mantra yang juga seorang filsuf, merasa cakupan "kebudayaan" terlalu luas. Beliau lebih memilih fokus pada transformasi keindahan bentuk seni yang lebih spesifik dan perfeksionis untuk dikembangkan.
Sejak awal, PKB dirancang dengan tiga sasaran utama: pemerintah, seniman, dan masyarakat. Penentuan tema setiap tahunnya selalu merujuk pada sastra dan filosofi mendalam. Di masa awal, tema PKB banyak mengambil inspirasi dari Ramayana dan Mahabharata, lalu berkembang ke cerita Panji (Malat), hingga cerita rakyat.
Prof. Bandem menegaskan bahwa PKB bukan hanya ajang pameran, tetapi juga alat pelestarian vertikal (meningkatkan mutu seni melalui lomba) dan horizontal (pembinaan hingga tingkat Banjar dan Kecamatan).
Salah satu lompatan besar yang sedang disiapkan adalah pembangunan Ceraken Kebudayaan Bali. Ini merupakan database kebudayaan berbasis desa adat yang mencakup 19 objek pemajuan kebudayaan, mulai dari seni, kearifan lokal, hingga teknologi tradisional seperti keris dan Subak.
"Harapannya, Bali tidak hanya menjadi tempat pementasan, tetapi benar-benar menjadi hub kebudayaan dunia yang autentik," ujar Prof. Bandem yang juga terlibat dalam pengukuhan tari Bali di UNESCO.
Berbeda dengan banyak festival di dunia yang sering terhenti, PKB tercatat hampir tidak pernah absen, bahkan tetap dilaksanakan secara daring saat pandemi COVID-19. Keberhasilan ini tidak lepas dari kerja sama antara tim kurator dan tim kreatif yang menjaga agar sajian PKB tetap variatif, indah, dan memberikan tuntunan moral bagi publik.
Bagi Prof. Bandem, dedikasinya selama puluhan tahun untuk PKB bersumber dari satu hal sederhana: cinta. "Intinya adalah love terhadap seni. Saya tidak akan pernah jemu belajar dari lingkungan seni budaya kita sendiri," pungkasnya.

0Komentar