![]() |
| Jro Made Mariasa |
SINGARAJAFM,- Kepedulian terhadap kelestarian seni tradisional Bali terus digaungkan oleh salah satu penekun seni, salah satunya Jro Made Mariasa. Ia secara aktif mengajak para penari joged untuk kembali pada pakem joged klasik di tengah maraknya fenomena joged bumbung yang dinilai menyimpang dari nilai budaya.
Menurut Jro Mariasa, kemunculan joged bumbung yang kerap mengedepankan unsur sensualitas bahkan cenderung mengarah pada pornografi, telah merusak citra seni budaya Bali di mata dunia. Ia menilai praktik tersebut tidak hanya mencederai nilai estetika seni, tetapi juga merendahkan martabat perempuan Bali.
“Joged itu seni hiburan rakyat yang penuh etika dan keindahan gerak. Kalau disalahgunakan, justru merusak citra budaya kita sendiri,” ujarnya.
Kepedulian tersebut sempat mendapat perhatian luas, termasuk ketika Jro Mariasa diwawancarai oleh media lokal. Respons positif pun datang dari pemerintah daerah Bali yang kemudian mengeluarkan kebijakan tegas berupa larangan terhadap pertunjukan joged seronok, baik di panggung maupun di media sosial seperti Facebook dan TikTok.
Kebijakan tersebut disertai dengan sanksi tegas bagi pelanggar, termasuk ancaman penindakan hukum. Selain itu, pemerintah juga memberikan pembinaan kepada para pelaku seni agar kembali menghidupkan pakem joged klasik sebagai warisan budaya yang adiluhung.
Langkah ini menjadi motivasi bagi Jro Made Mariasa untuk terus bergerak memberikan edukasi kepada generasi muda, khususnya para penari joged. Ia aktif mencontohkan gaya joged klasik era 1970–1980-an sebagai referensi, terutama dalam bagian pembuka tari (pepeson atau mungkah lawang) yang sarat nilai estetika dan etika.
Namun demikian, Jro Made Mariasa tidak menutup ruang kreativitas. Ia memperbolehkan adanya inovasi saat sesi interaksi dengan pengibing (penonton yang diajak menari), selama tetap menjaga norma kesopanan. Gerakan seperti ngengkog atau ngitir menurutnya cukup sebagai pemanis dalam membangun interaksi, bukan menjadi unsur utama yang berlebihan.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga batasan dalam interaksi antara penari dan pengibing. Pada masa lalu, tindakan yang mengarah pada pelecehan, seperti menyentuh bagian sensitif penari, akan langsung dihentikan oleh penabuh gamelan sebagai bentuk perlindungan terhadap penari.
“Dulu, kalau ada yang melanggar etika, gamelan langsung dihentikan. Itu bentuk penghormatan terhadap penari,” jelasnya.
Di sisi lain, Jro Made Mariasa juga mengapresiasi kreativitas para penabuh yang kini mulai mengembangkan unsur musik, seperti memasukkan genjek, namun tetap menjaga struktur dan pakem joged klasik agar tidak kehilangan jati diri.
Ia berharap generasi muda Bali dapat menjadi garda terdepan dalam menjaga, melestarikan, dan mengembangkan seni budaya daerah. Menurutnya, pelestarian budaya bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga seluruh masyarakat. “Kalau bukan kita yang menjaga dan melestarikan budaya Bali, lalu siapa lagi?” pungkasnya.

0Komentar