![]() |
| Ogoh-ogoh Gregek Tunggek |
SINGARAJAFM,- Nama Nyoman Martono mungkin tidak sementereng karya-karyanya yang kerap menjadi buah bibir setiap menjelang hari raya Nyepi. Seniman asal Tampaksiring, Gianyar ini adalah sosok di balik ogoh-ogoh fenomenal seperti Bregan Pring (2025) dan yang terbaru, Regek Tunggek (2026), yang viral hingga tingkat nasional. Meski karyanya diakui luar biasa, Martono tetap memilih tampil sederhana dan jauh dari sorot kamera.
Satu hal yang membedakan Martono dengan kreator lainnya adalah kedisiplinannya dalam memulai karya. Setiap ogoh-ogoh yang ia buat selalu diawali dengan pembuatan maket detail. "Maket itu acuan. Dari sana kita tahu skalanya agar tidak kebesaran, dan yang paling penting, meminimalisir cekcok atau salah arah saat pengerjaan bersama tim," ungkap alumnus SMSR (kini SMK Negeri 1 Sukawati) tersebut.
Karya teranyarnya, Gregek Tunggek, menampilkan sosok perempuan misterius yang bisa berayun tanpa bantuan mesin, melainkan hanya mengandalkan perhitungan ilmu fisika dan keseimbangan konstruksi. Baginya, menciptakan wajah yang "cantik tapi seram" adalah tantangan tersendiri yang belum pernah ia lakukan sebelumnya.
Meski banyak yang menjulukinya sebagai maestro, Martono justru merasa keberatan dengan sebutan itu. Ia mengaku masih melihat banyak celah dan kekurangan dalam setiap detail anatomi maupun gestur karyanya.
![]() |
| Nyoman Martono |
"Bagi saya, pujian adalah teror karena bisa membuat kita merasa sudah di atas dan berhenti belajar. Sebaliknya, kritik adalah motivasi. Jika dibilang jelek, itu justru menjadi bahan 'jengah' untuk membuktikan diri di karya berikutnya," tuturnya merendah.
Prinsip kerendahhatian ini pula yang membuatnya kerap menolak saat ditawari menjadi juri lomba ogoh-ogoh. Ia merasa tidak pantas mencela atau menilai karya orang lain sementara dirinya sendiri masih merasa perlu banyak belajar.
Bagi Martono, esensi membuat ogoh-ogoh di Banjar bukanlah sekadar hasil akhir yang megah, melainkan proses kebersamaannya. Ia menekankan kepada generasi muda bahwa nilai gotong royong dan rasa memiliki antar krama (warga) jauh lebih mahal daripada sebuah piala.
"Bagus atau tidaknya ogoh-ogoh itu nomor dua. Yang utama adalah rasa kebersamaan. Itulah ajang kita mengenal satu sama lain sebelum nanti kita benar-benar terjun bermasyarakat setelah menikah," pesan pria yang juga merupakan pematung beton profesional ini.
Setelah sukses dengan berbagai karya eksperimental yang "tidak berpijak di tanah", Martono menyimpan satu impian besar yang masih ia pendam: membangun sebuah patung monumental berbahan perunggu atau kuningan di tanah kelahirannya, Tampaksiring.
"Bukan untuk pamer, tapi sebagai pengingat bagi anak cucu nanti bahwa leluhur mereka adalah seorang pematung. Sebuah warisan karya yang bisa dinikmati melintasi zaman," pungkasnya.


0Komentar