![]() |
| Foto Ilustrasi |
SINGARAJA FM,-Kasus dugaan Demam Berdarah Dengue (DBD) kembali menelan korban jiwa di wilayah Kelurahan Banyuning, Kecamatan/Kabupaten Buleleng. Seorang balita perempuan, Kadek Giara Dwitya Pradyanti, 4, meninggal dunia pada Selasa (7/4) setelah sempat menjalani perawatan intensif di rumah sakit.
Korban merupakan anak kedua dari pasangan Gede Andy Pradnyana, 31, dan Ni MadeWityanti, 30. Kepergian korban meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, terlebih sang ibu tengah hamil delapan bulan.
Ayah korban, Gede Andy Pradnyana, menuturkan anaknya mulai mengalami demam pada Kamis (2/4). Saat itu, kondisi belum dianggap serius karena baru berlangsung sehari. Namun, keesokan harinya, Jumat (3/4), korban masih demam disertai mual dan muntah hingga dibawa ke fasilitas kesehatan.
“Awalnya demam biasa, dikasih obat untuk mual, muntah, dan demam, lalu rawat jalan,” ujar Andy.
Karena demam tak kunjung reda, pada Sabtu (4/4) korban sempat menjalani pemeriksaan darah di laboratorium. Hasilnya masih dalam batas normal. Namun kondisi kembali memburuk pada Minggu (5/4), dengan keluhan tambahan berupa sakit perut.
Minggu malam, korban kembali dibawa ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) dan menjalani pemeriksaan ulang. Saat itu, tenaga medis mulai mencurigai gejala mengarah ke DBD.
Memasuki Senin (6/4), demam korban sempat turun, namun kondisi fisik justru melemah. Tubuh korban terasa dingin, disertai buang air besar berwarna hitam. Siang harinya, korban dipindahkan ke ruang ICU dan mendapat bantuan oksigen. Hasil pemeriksaan menunjukkan trombosit turun drastis hingga 60.000.
“Selasa pagi makin lemas, trombosit turun lagi jadi 30.000. Siangnya sekitar jam 1 sudah tidak tertolong,” ungkap ayah korban.
Korban juga sempat mengalami buang air besar berdarah pada hari terakhir sebelum meninggal. Keluarga mengaku tidak mengetahui pasti sumber penularan, karena di lingkungan sekitar tidak terdeteksi kasus serupa. “Cepat sekali, kami tidak menyangka. Hanya dua malam dirawat,” tambahnya.
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Puskesmas Buleleng III dr Siti Nurul Aisiyah menyebut korban didiagnosis mengalami Dengue Shock Syndrome (DSS) atau sindrom syok dengue, yang merupakan kondisi paling berat dari infeksi DBD.
“Kami menerima informasi pasien meninggal pada 7 April malam dari rumah sakit. Pasien tidak sempat kontak dengan puskesmas,” jelas Nurul.
Puskesmas Buleleng III akan segera melakukan penyelidikan epidemiologi di lingkungan tempat tinggal korban, termasuk pengecekan kemungkinan adanya warga lain yang mengalami gejala serupa, serta pemeriksaan jentik nyamuk.
“Rencana fogging dilakukan Minggu, disertai kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN).Karena fogging saja tidak cukup jika jentik masih ada,” imbuhnya.
Terpisah, Anggota Komisi IV DPRD Buleleng, Nyoman Dhuka Jaya, menegaskan bahwa DBD merupakan penyakit endemik yang berpotensi meningkat saat musim hujan, terutama di kawasan padat penduduk seperti Banyuning.
Ia menilai kasus ini harus menjadi perhatian serius pemerintah daerah, khususnya dalam upaya pencegahan melalui pengendalian lingkungan.
“Ini berkaitan dengan sanitasi, sampah, dan kepadatan penduduk. Jangan sampai endemik berubah menjadi wabah,” tegas politisi Golkar asal Kelurahan Banyuning, Buleleng ini.
Dhuka mendorong Dinas Kesehatan bersama puskesmas untuk lebih intens turun ke lapangan melakukan edukasi dan pengawasan lingkungan, termasuk memastikan tidak ada sarang nyamuk berkembang.
“Wilayah Banyuning ini tiap tahun selalu ada kasus. Saat musim hujan, harus ada gerakanbersama, libatkan desa dan masyarakat. Jangan sampai kejadian seperti ini terusberulang,” Pungkas dia.

0Komentar