![]() |
| Menjelang Perayaan Tahun Baru Imlek, Pengurus Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Ling Gwan Kiong Singaraja Melaksanakan Tradisi Bersih-Bersih Patung Dewa-Dewi dan Altar, Rabu (11/2). |
SINGARAJA FM,-Menjelang perayaan Tahun Baru Imlek, pengurus Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Ling Gwan Kiong Singaraja melaksanakan tradisi bersih-bersih patung dewa-dewi dan altar, Rabu (11/2).
Humas TITD Ling Gwan Kiong Singaraja, Gunadi Yetial, menjelaskan bahwa sejak Rabu dini hari, dewa-dewi yang berstana di klenteng tersebut bersama Dewa Dapur naik ke khayangan untuk menyampaikan laporan kehidupan umat manusia selama setahun terakhir.
“Melalui Dewa Dapur itu dilaporkan apa saja yang terjadi selama 2025, mana yang baik dan mana yang perlu diperbaiki,” jelasnya.
Usai prosesi tersebut, pengurus tempat ibadah mulai membersihkan sebanyak 15 patung dewa-dewi, altar, serta berbagai benda sakral yang ada di klenteng. Salah satu patung yang dibersihkan adalah Chen Fu Zhen Ren, leluhur etnis Tionghoa yang dipuja oleh umat Tri Dharma, bersama dua patihnya, Ida Bagus Den Kayu dan I Gusti Ngurah Tubuh.
Keunikan prosesi ini terletak pada penggunaan air tirta dari tiga pura di Buleleng, yakni Pura Ponjok Batu, Pura Sudamala, dan Pura Taman Sari. Air suci tersebut kemudian dicampur dengan berbagai jenis bunga harum sebelum digunakan untuk membersihkan patung-patung dewa-dewi.
Gunadi menuturkan, pihaknya meyakini Chen Fu Zhen Ren merupakan sosok nyata yang pernah hidup dan datang ke Bali Utara pada abad ke-17. Ia masuk ke wilayah Bali Utara bersama rombongan pelaut dari China yang berada di bawah komando Laksamana Cheng Ho.Pada masa itu, Chen Fu Zhen Ren dikenal sebagai sosok sakti yang menguasai feng shui dan teknik bangunan. Keahliannya membuat ia diminta Raja Mengwi untuk membangun Pura Taman Ayun sekitar tahun 1634.
Namun setelah pembangunan pura rampung, terjadi perbedaan pandangan dengan raja. Chen Fu Zhen Ren kemudian meninggalkan wilayah kerajaan ke arah barat, menyeberangi Selat Bali dan moksa.
Kepergian tersebut memicu kemarahan raja yang kemudian memerintahkan dua patihnya, Ida Bagus Den Kayu dan I Gusti Ngurah Tubuh, untuk menangkap Chen Fu Zhen Ren.
"Karena dua patihnya itu tidak berhasil membawa Chen Fu Zhen Ren, mereka pun takut kembali ke kerajaan karena takut dihukum. Mereka ikut menjadi murid Chen Fu Zhen Ren, dan menjelma menjadi buaya dan macan," tutur Gunadi.
Gunadi juga menjelaskan bahwa kedatangan masyarakat Tionghoa ke wilayah Buleleng diyakini telah terjadi sejak ribuan tahun lalu. Hal tersebut diperkuat dengan temuan situs bersejarah di Pangkung Paruk, Desa Seririt, berupa sarkofagus batu yang pernah diteliti oleh arkeolog Universitas Udayana.
"Sekitar 2000 tahun lalu banyak negara berperang. Jadi rakyat menderita, tidak bisa makan dan hidup tenang. Sehingga banyak masyarakat Tionghoa yang mengungsi ke negara lain, termasuk Buleleng ini. Mereka masuk dari Pelabuhan Tua Buleleng," tandasnya.

0Komentar