TUO6BUOpGUd9BUYpGSroBSGiGY==
Light Dark
Sembahyang Tapi Masih Overthinking? Nilai Buda Wage Merakih Dalam Mental Health.

Sembahyang Tapi Masih Overthinking? Nilai Buda Wage Merakih Dalam Mental Health.

Daftar Isi
×

 

Nilai Buda Wage Merakih Dalam Mental Health

Oleh, Luh Irma Susanthi, S.Sos.,M.Pd

Koordinator Penyuluh Agama Hindu Kecamatan Tejakula.


SINGARAJA FM,-Setiap enam bulan sekali, kalender Bali mempertemukan umat dengan Buda Wage Merakih, perpaduan Sapta wara (Buda), Pancawarna (Wage),wuku (Merakih)  umat Hindu selalu penuh dengan rutinitas sembahyang, banyak yang mebanten, banyak juga yang mengabadikan lewat momen upload di media digital, tetapi pertanyaannya jujur dan menjadi realita, mengapa setelah melaksanakan yadnya, hati masih ribut?

Kalau setiap umat pernah merasa begitu, tentulah kita semua nggak sendirian, dan justru di situlah makna Buda Wage Merakih bekerja.

Buda Wage Merakih sebenarnya ditujukan untuk memuja Dewa siapa?

dalam tradisi Hindu Bali berdasarkan Lontar Sundarigama, Buda Wage Merakih dipersembahkan kepada Bhatari Manik Galih dalam Payogannya. Personifikasi   yang dipuja  hari ini adalah  energi yang menenangkan, membersihkan, dan melepaskan beban batin, dalam Lontar Sundarigama disebutkan,

“Buda Wage, ngaraning Buda Cemeng, kalingania adnyana suksema pegating indria, Betari Manik Galih sira mayoga, nurunaken Sang Hyang Ongkara Mertha ring sanggar, muang ring luwuring aturu, astawakna ring seri nini kunang duluring diana semadi ring latri kala.”

Artinya,

Bahwa hari ini adalah waktu terbaik untuk membersihkan mala (kekotoran batin), terutama pikiran yang penuh iri, marah, dan lelah mental.

Artinya:

Merakih itu bukan soal merapikan banten, tetapi merapikan isi kepala.

Mengapa namanya “Merakih”?

Merakih berarti merajut ulang.

Bukan hidup baru, tapi menata ulang hidup yang sudah terlalu kusut, kalau akhir-akhir ini umat sering merasa lelah,

capek tapi nggak tahu capek karena apa, itulah tanda mental health kita sedang tidak baik- baik saja, dengan langkah sederhana

senyum tipis, rajin sembahyang, tetapi ternyata ada juga fenomena semakin mendekat dengan Tuhan  malah gampang emosi,

itu tanda kamu butuh Merakih batin atau menata bathin  bukan sekadar ritual.

Tetapi Bukannya Yadnya Itu Janji Ketenangan?

Jawabannya,  nggak otomatis.

Hindu itu jujur. Agama ini nggak pernah janji:

“Sembahyang rajin = hidup mulus.”

Yang dijanjikan adalah:

hati yang kuat saat hidup nggak mulus.

Kitab suci Bhagavadgita III.9 mewacanakan,

 

yajñārthāt karmaṇo 'nyatra

loko 'yaḿ karma-bandhanaḥ

tad-arthaḿ karma kaunteya

mukta-sańgaḥ samācara

Artinya,

“Perbuatan yang tidak dilakukan sebagai yadnya akan mengikat manusia pada penderitaan.”

Kalau ritual cuma formalitas, hasilnya ya capek doang.

Yadnya itu bukan transaksi,

“Aku sembahyang, Tuhan tenangin hidupku dong.”

Yadnya itu latihan,

“Aku berani jujur sama diriku sendiri.”

Fenomena Sekarang serasa Ritual Ramai, Jiwa Sepi.

Kita hidup di zaman yang serba digital, Pura penuh dengan formalitas bahkan  juga penuh drama.

Banten mahal, emosi murah

Doa panjang, kualitas spiritual dipertanyakan dengan tingkat kesabaran yang kehilangan marwahnya. Buda Wage Merakih datang sebagai reminder halus, yang perlu dibersihin bukan pelinggih, tapi ego. Sarasamuccaya  sloka 14 mewacanakan, Dharma yang dijaga akan melindungi.

Artinya:

Bukan Tuhan yang jauh yang melindungi, tetapi sikap hidup kita yang menentukan damai atau tidak

Lalu, Apa yang Dijanjikan Hindu Sebenarnya?

Hindu nggak janji umat kaya.

Hindu nggak janji umat populer.Hindu nggak janji hidup tanpa luka, yang dijanjikan, kamu nggak hancur oleh luka

kamu nggak dikendalikan emosi, kamu punya arah saat hidup terasa kosong

Kitab suci Bhagavadgita XVIII.66 memberi ruang,

“Berserahlah, jangan takut.”

Versi Gen Z-nya adalah nilai sebuah ketenangan, kamu nggak sendirian, tetapi kamu juga harus jalan dalam sebuah peta Dharma. Makna Buda Wage Merakih buat setiap umat adalah bagaimana menata kehidupan kita sekarang. Buda Wage Merakih itu bukan soal, banten paling lengkap, foto paling estetik

doa paling keras, tetapi soal berani bertanya,

“Apa yang selama ini aku simpan tapi nggak pernah aku beresin? nilai sederhana tentang ketenangan bathin.

Buda Wage Merakih memberi ruang dalam diri dalam berdamai sama diri sendiri

melepas dendam yang capek dijagain, berhenti nyalahin Tuhan atas hidup yang kita sendiri belum jujur  kita jalanin dan kadang tidak sesuai dengan ekspetasi yang kita inginkan. Buda Wage Merakih ngajarin satu hal penting,

Yadnya bukan buat bikin hidup sempurna, tetapi bikin hati lebih dewasa. Kalau setelah sembahyang kamu masih berproses, itu bukan gagal.

Itu tanda kamu manusia yang sedang belajar sadar, dan itu dalam Hindu sudah sangat mulia.“Buda Wage Merakih mengajarkan, menyembuhkan diri adalah bagian dari menjaga kesucian hidup.”

“Hari suci ini mengajak kita berhenti sejenak, bukan untuk menyerah, tetapi untuk pulih dengan sadar. Buda Wage Merakih mengingatkan kita, menenangkan pikiran adalah yadnya paling jujur yang bisa kita lakukan hari ini. Kesehatan mental dalam ajaran Hindu bukan lari dari luka, tapi berani duduk tenang bersama kesadaran. Konsep Buda dalam ilmu Wariga dengan Urip 7 mengajarkan mengatur Sapta Timira yang ada dalam diri setiap umat, Wage dengan Urip 4 mengajarkan ada empat jalan untuk menuju kebahagiaan yang disebut Catur Purusa Artha, dan Merakih dengan Urip 9 adalah konsep pelayanan umat dalam konsep Nawa Wida Bakthi, mari muliakan kehidupan kita bukan  untuk terlihat spiritual, tetapi bertumbuh dalam nilai spiritual dalam sebuah Sadhana kesadaran yang hakiki.


0Komentar

sn
sn
Special Ads