TUO6BUOpGUd9BUYpGSroBSGiGY==
Light Dark
Pura Kerta Bhuana Giri Willis Tongggak Awal Kebangkitan Umat Hindu di Kabupaten Nganjuk Jawa Timur

Pura Kerta Bhuana Giri Willis Tongggak Awal Kebangkitan Umat Hindu di Kabupaten Nganjuk Jawa Timur

Daftar Isi
×
Pura Kerta Bhuwana Giri Wilis,Nganjuk,Jawa Timur

SINGARAJA FM,-Pura Kerta Bhuwana Giri Wilis di Dusun Curik, Desa Bajulan, Kecamatan Loceret, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, menyimpan perjalanan sejarah panjang tentang perkembangan umat Hindu, pelestarian tradisi leluhur, serta keberlanjutan identitas budaya masyarakat di lereng Gunung Wilis.

Pura yang mulai dibangun pada 1998 dan diresmikan pada 2001 ini tidak sekadar menjadi tempat persembahyangan, tetapi juga memiliki keunikan dari sisi sejarah, konsep pemujaan, serta arsitektur bangunan suci, khususnya keberadaan Meru Tumpang Tujuh.

Romo Mangku Damri menjelaskan, sebelum tahun 1966, masyarakat setempat belum secara resmi mengidentifikasi diri sebagai umat Hindu. Meski demikian, masyarakat telah menjalankan ajaran monoteisme serta mempertahankan adat istiadat dan tradisi yang diwariskan oleh leluhur.

Perubahan mulai terjadi ketika pemerintah menerapkan ketentuan administrasi kependudukan yang mengharuskan masyarakat memiliki identitas agama yang jelas. Kondisi tersebut mendorong masyarakat mencari ajaran agama yang sesuai dengan kepercayaan dan tradisi leluhur yang selama ini dijalankan.

"Dari proses pencarian itulah akhirnya kami mengenal ajaran Hindu dan mulai memiliki identitas sebagai umat Hindu. Setelah beridentitas Hindu, tentu kami membutuhkan tempat suci sebagai tempat persembahyangan," ungkap Romo Mangku Damri.

Pada awalnya, kegiatan persembahyangan hanya dilakukan di tempat sederhana. Namun, seiring bertambahnya umat dan kebutuhan terhadap tempat ibadah, muncul inisiatif untuk membangun sebuah pura yang dapat menjadi pusat kegiatan keagamaan dan spiritual masyarakat.

Dalam proses perintisan tersebut, sejumlah tokoh turut memberikan kontribusi. Salah satunya Ketut Sumiyarta dari Singaraja yang ikut membantu memetakan dan merintis pembangunan pura.

"Beliau datang ke sini ketika masih muda. Dari situlah proses perintisan mulai berjalan, termasuk pemetaan lokasi dan rencana pembangunan pura," jelasnya.Pembangunan pura kemudian dimulai secara resmi pada 2 Oktober 2001, bertepatan dengan Purnama Kapat. Perjalanan pembangunan berlanjut hingga tahun 2004 dengan pelaksanaan upacara Ngenteg Linggih.

Namun, dalam perkembangannya muncul petunjuk dan kajian bahwa kelengkapan bangunan pura saat itu belum sepenuhnya memenuhi kriteria yang diperlukan. Karena itu, masih diperlukan penyempurnaan terhadap sejumlah bangunan suci.

"Kalau di Jawa Timur, umumnya pelinggih pura dibuat lebih sederhana, biasanya hanya terdapat Panglurah dan Padmasana. Namun, berdasarkan berbagai petunjuk dan kajian, ternyata pura ini membutuhkan kelengkapan bangunan yang lebih banyak," paparnya.

Dari proses tersebut kemudian muncul arahan untuk melengkapi bangunan suci dengan Candi Sapta Arga atau yang kini dikenal sebagai Meru Tumpang Tujuh.Selain sejarah pembangunan, pelaksanaan upacara keagamaan juga memiliki perjalanan tersendiri. Romo Mangku Damri menjelaskan, pelaksanaan upacara Ngenteg Linggih berlangsung pada Purnama Kalima. Momentum tersebut kemudian menjadi dasar penetapan waktu piodalan pura yang hingga kini tetap dilaksanakan setiap Purnama Kalima.

"Untuk Ngenteg Linggih dilaksanakan saat Purnama Kalima. Karena itu, sampai sekarang pelaksanaan odalan atau piodalan di pura ini tetap mengambil waktu Purnama Kalima," jelasnyaKeunikan Pura Kerta Bhuwana Giri Wilis tidak hanya terlihat dari sejarah pendiriannya, tetapi juga dari struktur bangunan suci dan tata ruang pelinggih yang berbeda dibandingkan pura-pura pada umumnya di wilayah Jawa Timur.

Jika sebagian besar pura di Jawa Timur memiliki bangunan utama yang relatif sederhana dengan dua pelinggih utama, yakni Panglurah dan Padmasana, pura ini justru memiliki susunan bangunan yang lebih lengkap.

Perbedaan tersebut berangkat dari petunjuk leluhur yang diwariskan secara turun-temurun kepada generasi penerus. Petunjuk tersebut mengarahkan agar pembangunan pura dilengkapi dengan Meru Tumpang Tujuh beserta sejumlah pelinggih pendukung lainnya.

"Petunjuk dari leluhur yang diwariskan kepada orang tua kami, termasuk melalui wangsit, mengarah agar di pura ini dibangun Meru. Dengan adanya Meru, kemudian diperlukan pelinggih-pelinggih pendukung lainnya, seperti Lumbung dan bangunan suci lainnya. Di Mandala Madya juga terdapat Taman Sari dan Sanggah Kamulan. Inilah yang akhirnya membuat susunan pura ini berbeda dengan pura-pura di wilayah lain," ungkap Romo Mangku Damri

Lebih jauh, pura tersebut memiliki kedudukan khusus sebagai tempat pemujaan leluhur atau Kawitan bagi keluarga dan umat keturunan Jawa yang memiliki keterikatan dengan pura tersebut.

Berdasarkan petunjuk leluhur, pura ini memiliki konsep Parahyangan Jaga Kami. Keberadaan Meru Tumpang Tujuh menjadi salah satu bagian penting dalam konsep spiritual tersebut, khususnya berkaitan dengan pemujaan leluhur.

"Konsepnya adalah Sapta Arta atau Meru Tumpang Tujuh. Pemujaan melalui konsep Kawitan ini ditujukan kepada leluhur, sedangkan untuk pemujaan kepada Sang Pencipta tetap ditujukan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa," paparnya.

Konsep tersebut memperlihatkan bagaimana tradisi leluhur tetap dipertahankan dalam kehidupan beragama masyarakat. Pemujaan kepada leluhur melalui konsep Kawitan berjalan berdampingan dengan keyakinan kepada Tuhan Yang Maha Esa.Dari sisi jumlah umat, Romo Mangku Damri menyebutkan bahwa masyarakat Hindu yang berada di desa setempat saat ini mencapai sekitar 98 kepala keluarga (KK).

Sementara itu, apabila dihitung bersama keluarga dari luar desa yang memiliki keterikatan dengan pura tersebut, jumlahnya diperkirakan mencapai sekitar 113 kepala keluarga.

"Kalau di desa ini sekarang sekitar 98 kepala keluarga. Namun, kalau termasuk keluarga dari luar desa yang juga memiliki hubungan dengan pura ini, jumlahnya kurang lebih 113 kepala keluarga," pungkasnya.

0Komentar

sn
sn
Special Ads