TUO6BUOpGUd9BUYpGSroBSGiGY==
Light Dark
Gambar

Daftar Isi
×
Kegiatan Timbang Rasa Prajaniti Hindu Indonesia Buleleng di Kedai Kopi Dekakiang,Sabtu (5/9)

SINGARAJA FM,-Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Prajaniti Hindu Indonesia Buleleng menggelar kegiatan “Timbang Rasa” dengan mengusung semangat “Temu Rasa, Gagas Makna”, Sabtu (5/9/2026).

Kegiatan yang berlangsung di Kedai Kopi Dekakiang mulai pukul 17.00 WITA tersebut menjadi ruang dialog untuk mempertemukan berbagai gagasan, pengalaman, dan perspektif dalam suasana santai dan terbuka.

Mengangkat tema “Kelas Tanpa Dinding: Menghidupkan Empati dan Kolaborasi Lewat Secangkir Kopi”, kegiatan ini menghadirkan dua narasumber, yakni Dr. I Made Rasta, M.Pd., Kepala Sekolah SMKN 1 Sawan sekaligus budayawan, serta Suwardi Rasyid, S.Pd., Guru SMAN 2 Gerokgak sekaligus sejarawan.

Dr. I Made Rasta mengatakan, ruang belajar tidak selalu harus berlangsung di dalam kelas. Pertemuan dan dialog di tengah masyarakat juga menjadi bagian penting dalam proses membangun pengetahuan sekaligus karakter.

“Kelas tanpa dinding memberikan ruang bagi kita untuk belajar dari pengalaman, lingkungan, dan orang-orang yang kita temui. Dari dialog yang sederhana, kita bisa menemukan gagasan yang besar,” ujar I Made Rasta.

Menurutnya, empati menjadi salah satu hal penting yang perlu terus dibangun, khususnya di tengah perubahan sosial yang berlangsung begitu cepat.

“Ketika kita mau mendengar dan memahami sudut pandang orang lain, di situlah empati tumbuh. Dari empati kemudian lahir kepedulian dan kolaborasi untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat,” imbuhnya.

Sementara itu, Suwardi Rasyid menilai kegiatan seperti “Timbang Rasa” penting sebagai ruang untuk melihat kembali berbagai pengalaman dan perjalanan masyarakat, termasuk dari perspektif sejarah dan kebudayaan.

“Sejarah mengajarkan kita bahwa banyak hal besar lahir dari perjumpaan dan proses saling bertukar gagasan. Karena itu, ruang dialog seperti ini sangat penting untuk menjaga hubungan antargenerasi dan memahami perubahan yang terjadi di masyarakat,” kata Suwardi.

Ia juga menekankan bahwa kolaborasi membutuhkan kemauan untuk saling menghargai dan tidak merasa paling benar dalam melihat sebuah persoalan.

“Kita tidak harus selalu memiliki pandangan yang sama. Yang paling penting adalah bagaimana kita bisa duduk bersama, saling mendengar, kemudian mencari titik temu untuk menghasilkan gagasan yang bisa memberikan manfaat bagi Buleleng,” tegasnya.

Ketua DPC Prajaniti Hindu Indonesia Buleleng, Dewa Made Januarta, mengatakan kegiatan “Timbang Rasa” merupakan upaya menghadirkan ruang perjumpaan yang lebih dekat dengan masyarakat. Menurutnya, gagasan tidak selalu lahir dari forum formal, tetapi juga dapat muncul melalui percakapan sederhana dalam suasana yang santai.

“Melalui Timbang Rasa ini kami ingin membuka ruang perjumpaan yang tidak kaku. Secangkir kopi menjadi media untuk bertemu, ngobrol, bertukar pikiran, sekaligus belajar memahami persoalan yang ada di sekitar kita,” ujar Dewa Made Januarta.

Ia menambahkan, perbedaan pandangan seharusnya tidak menjadi penghalang untuk membangun kebersamaan. Sebaliknya, perbedaan dapat menjadi kekuatan apabila disikapi dengan sikap saling menghargai dan keterbukaan.

“Kami percaya bahwa empati dan kolaborasi tidak bisa tumbuh tanpa komunikasi. Karena itu, kami ingin Timbang Rasa menjadi ruang yang terus hidup, tempat kita saling mendengar, saling menghargai, dan bersama-sama mencari gagasan yang bisa memberikan manfaat bagi masyarakat Buleleng,” tegasnya.

Dewa Made Januarta berharap semangat “ngopi, ngobrol, dan ngayomi” dapat menjadi bagian dari gerakan untuk memperkuat kepedulian sosial dan membangun kolaborasi lintas kelompok di Buleleng.

“Ngopi bukan sekadar berkumpul, ngobrol bukan sekadar berbicara, dan ngayomi bukan sekadar slogan. Ketiganya harus menjadi bagian dari gerakan untuk membangun kepedulian, memperkuat persaudaraan, dan menghadirkan kolaborasi nyata untuk Buleleng,” pungkasnya.

Melalui kegiatan “Timbang Rasa”, DPC Prajaniti Hindu Indonesia Buleleng berharap tercipta ruang perjumpaan yang mampu melahirkan gagasan sekaligus memperkuat semangat kebersamaan.

Konsep “ngopi, ngobrol, dan ngayomi” menjadi pesan utama kegiatan tersebut, dengan semangat membangun komunikasi, empati, dan kolaborasi bersama untuk Buleleng.

0Komentar

sn
sn
Special Ads