![]() |
| Direktur Utama Perumda Air Minum Tirta Hita Buleleng, I Made Lestariana |
SINGARAJA FM,-Perumda Air Minum Tirta Hita Buleleng menyiapkan proyek strategis senilai sekitar Rp20 miliar untuk mengatasi defisit pasokan air bersih di sejumlah wilayah pelayanan, khususnya Banyuning dan Petandakan.
Direktur Utama Perumda Air Minum Tirta Hita Buleleng, I Made Lestariana, mengatakan proyek yang diprioritaskan adalah pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Mata Air Pegadungan dengan kapasitas produksi mencapai 100 liter per detik.
Menurutnya, tambahan kapasitas tersebut diharapkan mampu menutup kekurangan pasokan air yang selama ini masih dirasakan masyarakat di dua kawasan tersebut.
"Pengembangan Mata Air Pegadungan kami arahkan untuk meningkatkan pelayanan di Petandakan dan Banyuning. Kapasitas yang direncanakan mencapai 100 liter per detik sehingga diharapkan mampu mengatasi defisit air di wilayah itu," ujar Senin 03 Agustus 2026
Untuk merealisasikan proyek tersebut, Perumda Tirta Hita membutuhkan investasi sekitar Rp20 miliar. Pendanaan itu diupayakan melalui kerja sama dengan investor yang dijajaki dalam ajang Bali Jagadhita Investment Forum. Proyek SPAM Mata Air Pegadungan pun menjadi salah satu peluang investasi yang ditawarkan kepada calon investor.
Selain Pegadungan, Perumda Tirta Hita juga menyiapkan pengembangan Mata Air Ambengan. Proyek ini diproyeksikan memperkuat layanan air bersih bagi masyarakat di wilayah Sambangan dan Baktiseraga yang saat ini masih mengalami keterbatasan pasokan.
Lestariana menjelaskan, sebagian sistem distribusi air di kawasan tersebut masih menggunakan pompa sehingga biaya operasionalnya relatif lebih tinggi dibandingkan sistem gravitasi.
"Kami juga menyiapkan pengembangan Mata Air Ambengan untuk membantu mengatasi defisit layanan di Sambangan dan Baktiseraga," katanya.
Ia mengungkapkan, upaya menawarkan proyek pengembangan infrastruktur air bersih mulai mendapat respons positif. Sejumlah investor telah menyatakan ketertarikannya dan dalam waktu dekat dijadwalkan melakukan pembahasan lanjutan mengenai peluang kerja sama.
Namun demikian, bentuk kerja sama yang saat ini dapat dilakukan masih terbatas pada skema business to business (B to B). Hal itu karena Perumda Tirta Hita masih berstatus perusahaan umum daerah sehingga belum dapat menerapkan skema investasi berbasis kepemilikan saham.
"Saat ini kerja sama yang memungkinkan adalah business to business karena Perumda belum berbentuk persero," jelasnya.
Di sisi lain, Perumda Tirta Hita juga berharap Pemerintah Kabupaten Buleleng kembali memberikan dukungan penyertaan modal. Menurut Lestariana, dalam empat tahun terakhir perusahaan belum menerima tambahan modal dari pemerintah daerah.
Padahal, nilai penyertaan modal yang telah diberikan Pemkab Buleleng tercatat sekitar Rp62 miliar, sedangkan total dividen yang disetorkan Perumda Tirta Hita ke kas daerah telah mencapai sekitar Rp68 miliar.
"Dividen yang kami setorkan sudah melebihi nilai penyertaan modal dari pemerintah daerah. Kami berharap ke depan ada tambahan penyertaan modal agar pengembangan layanan air bersih kepada masyarakat bisa berjalan lebih cepat," tegasnya.

0Komentar