TUO6BUOpGUd9BUYpGSroBSGiGY==
Light Dark
Desa Panji Wakili Bali di WIA 2026, Bidik DBH Pajak untuk Perkuat Kemandirian Desa

Desa Panji Wakili Bali di WIA 2026, Bidik DBH Pajak untuk Perkuat Kemandirian Desa

Daftar Isi
×
Perbekel Desa Panji, Jro Mangku Made Ariawan, SST.Par., MBA

SINGARAJA FM,-Desa Panji, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, resmi ditunjuk mewakili Provinsi Bali dalam ajang nasional Wonderful Indonesia Awards (WIA) 2026 yang digelar Kementerian Pariwisata RI.

Keikutsertaan Desa Panji dalam ajang tersebut tidak hanya dipandang sebagai upaya meraih prestasi pariwisata. Pemerintah Desa Panji menjadikannya sebagai bagian dari strategi untuk memenuhi indikator kinerja desa wisata, sekaligus membuka peluang mendapatkan Dana Bagi Hasil (DBH) Pajak Daerah Provinsi Bali.

Perbekel Desa Panji Jro Mangku Made Ariawan, SST.Par., MBA mengatakan keikutsertaan dalam WIA 2026 merupakan langkah strategis untuk memperkuat posisi Desa Panji sebagai desa wisata yang memiliki tata kelola, potensi budaya, ekonomi kreatif, serta daya tarik wisata yang layak diperhitungkan di tingkat nasional.

“Kami tidak hanya ikut lomba. Keikutsertaan Desa Panji di WIA 2026 adalah bagian dari perjuangan untuk memenuhi indikator penilaian desa wisata dan membuka peluang mengakses Dana Bagi Hasil Pajak Provinsi Bali,” tegas Perbekel Panji Sabtu 15 Agustus 2026.

Menurutnya, apabila Desa Panji mampu meraih prestasi dalam ajang tersebut, status dan rekam jejak sebagai desa wisata berprestasi akan semakin kuat.

“Target kami bukan sekadar mendapatkan penghargaan. Yang lebih penting adalah bagaimana prestasi tersebut memberikan dampak langsung terhadap pembangunan dan kesejahteraan masyarakat Desa Panji,” ujarnya.

Langkah Desa Panji tersebut sejalan dengan kebijakan Pemerintah Provinsi Bali mengenai penyaluran Belanja Bagi Hasil Pajak Daerah kepada kabupaten/kota dan pemerintah desa.

Skema tersebut menempatkan potensi dan kinerja sebagai salah satu dasar dalam penyaluran bagi hasil pajak daerah. Karena itu, pemerintah desa dituntut memiliki kinerja serta program yang mampu menunjukkan keberhasilan pengelolaan potensi lokal.

Mangku menegaskan, peluang mendapatkan DBH akan menjadi tambahan kekuatan fiskal bagi desa.

“Bagi kami, DBH bukan sekadar tambahan anggaran. Ini bisa menjadi instrumen untuk mempercepat pembangunan desa berbasis potensi lokal,” katanya.

Ia mengatakan, apabila peluang tersebut terealisasi, dana yang diperoleh akan diarahkan untuk memperkuat sektor budaya, pariwisata, dan ekonomi masyarakat.

“Kami ingin dana tersebut nantinya bisa mendukung pelestarian budaya, penataan kawasan Tugu Bhuana Kertha, pengembangan destinasi wisata, serta memperkuat BUMDes agar semakin produktif,” jelasnya.

Mangku mengatakan Desa Panji sendiri telah ditetapkan sebagai Desa Wisata melalui SK Bupati Buleleng Nomor 430/239/HK/2022 dengan luas wilayah sekitar 1.061 hektare.

Desa ini mengusung branding Desa Perjuangan dan Desa Eco Living. Desa Panji juga sebelumnya pernah masuk dalam Top 20 Desa BRILian se-Indonesia.

Sejumlah potensi menjadi modal utama dalam penilaian WIA 2026. Di antaranya Tugu Bhuana Kertha, Pura Bhuana Kertha, Pura Bukit Panji, kawasan hutan Pura Bukit, serta pengembangan pariwisata berbasis masyarakat.

“Kami memiliki kekuatan pada wisata budaya, alam, sejarah dan keterlibatan masyarakat. Ini yang terus kami kembangkan agar wisata tidak hanya mendatangkan kunjungan, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi warga,” ujar Perbekel Panji.

Ditambahkan Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah Village Safari Tour atau Jeep Tour, yang disebut sebagai salah satu layanan wisata berbasis petualangan di Buleleng.

Dengan tarif sekitar Rp75 ribu per orang, wisatawan mendapatkan pengalaman menjelajah desa sekaligus kontribusi terhadap program penghijauan dan perlindungan wisata.

“Konsepnya bukan hanya wisata jalan-jalan. Wisatawan kami ajak mengenal lingkungan, budaya dan kehidupan masyarakat desa. Sebagian kontribusi juga diarahkan untuk kegiatan penghijauan,” katanya.


Dijelaskan mangku Selain destinasi wisata, Desa Panji juga mengembangkan produk ekonomi kreatif yang melibatkan masyarakat.

Beberapa produk yang dikembangkan antara lain olahan sorgum berupa bolu dan kukis, kopi, madu, sari temulawak hingga jamu.

Kelompok wanita tani juga dilibatkan melalui pengembangan homestay sebagai bagian dari konsep community based tourism.

“Kami ingin masyarakat menjadi pelaku utama. Ketika wisatawan datang, yang bergerak bukan hanya destinasi, tetapi juga homestay, UMKM, kelompok wanita tani, BUMDes dan pelaku ekonomi kreatif,” ungkapnya.

Menurutnya, pola tersebut diharapkan membuat perputaran ekonomi dari sektor pariwisata tetap berada di desa.

“Semakin banyak masyarakat yang terlibat, semakin besar manfaat ekonomi yang bisa dirasakan. Ini yang menjadi prinsip kami dalam mengembangkan Desa Wisata Panji,” tambahnya.


Selain potensi destinasi dan produk ekonomi kreatif, tata kelola menjadi bagian penting dalam menghadapi penilaian WIA 2026.

Desa Panji terus melengkapi dokumen Jadesta, profil desa, data destinasi, kelembagaan Pokdarwis, hingga berbagai inovasi yang telah dilakukan.

Mangku menilai, keberhasilan desa wisata tidak cukup hanya mengandalkan keindahan destinasi.

“Destinasi yang bagus harus dibarengi dengan tata kelola yang baik. Data harus jelas, kelembagaan harus berjalan, masyarakat harus terlibat dan pelayanan kepada wisatawan harus terus ditingkatkan,” tegasnya.

Ia juga menyebut transparansi informasi publik dan keaktifan kelompok sadar wisata menjadi bagian yang terus diperkuat.

“Kami ingin Desa Panji tidak hanya dikenal karena destinasi, tetapi juga karena tata kelolanya. Kalau tata kelola kuat, pengembangan wisata akan lebih berkelanjutan,” ujarnya.


Mangku mejelaskan Pendaftaran WIA 2026 untuk pengelola desa wisata dibuka pada 22 Juni hingga 1 Agustus 2026. Selanjutnya dilakukan proses kurasi oleh Dinas Provinsi hingga 8 Agustus 2026.

Dengan ditunjuk sebagai wakil Bali, Desa Panji kini tengah mempersiapkan berbagai dokumen dan profil untuk menghadapi penilaian tingkat nasional.

“Kami menyadari persaingannya tidak mudah karena akan bertemu desa-desa wisata terbaik dari berbagai daerah. Tetapi kami akan tampilkan seluruh potensi yang kami miliki secara apa adanya dan berbasis data,” kata Perbekel Panji.

Ia berharap keikutsertaan Desa Panji tidak berhenti pada ajang penghargaan, tetapi mampu memberikan dampak jangka panjang terhadap pembangunan desa.

“Kami ingin WIA menjadi pintu masuk untuk memperluas jejaring, meningkatkan kualitas pariwisata dan memperkuat peluang fiskal desa. Pada akhirnya yang kami perjuangkan adalah kesejahteraan masyarakat,” tegasnya.

Mangku juga berharap peluang mendapatkan Belanja Bagi Hasil Pajak Daerah dapat dimanfaatkan untuk mempercepat pembangunan berbasis budaya dan pariwisata.

“Kalau kami lolos dan berprestasi, tentu peluang untuk mendapatkan alokasi Belanja Bagi Hasil kepada Pemerintah Desa sesuai ketentuan yang berlaku akan semakin besar. Ini bukan sekadar mengejar penghargaan, tetapi bagian dari perjuangan menuju kemandirian fiskal desa,” pungkasnya.

0Komentar

sn
sn
Special Ads