![]() |
| Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Buleleng, dr. Sucipto, S.Ked., M.A.P |
SINGARAJA FM,-Pemerintah Kabupaten Buleleng terus memperkuat berbagai upaya dalam percepatan pencegahan dan penanganan stunting sebagai bagian dari komitmen menciptakan generasi yang sehat, cerdas, dan berkualitas. Dinas Kesehatan Kabupaten Buleleng menegaskan bahwa penanganan stunting tidak hanya menjadi tanggung jawab sektor kesehatan, tetapi memerlukan dukungan seluruh elemen masyarakat.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Buleleng, dr. Sucipto, S.Ked., M.A.P., mengatakan bahwa stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis yang berlangsung dalam waktu lama. Dampaknya tidak hanya terlihat pada tinggi badan anak, tetapi juga memengaruhi perkembangan otak, kemampuan belajar, hingga produktivitas ketika dewasa.
"Pencegahan stunting harus dimulai sejak sebelum kehamilan, selama masa kehamilan, hingga anak memasuki usia dua tahun. Masa 1.000 Hari Pertama Kehidupan menjadi periode yang sangat menentukan kualitas tumbuh kembang anak," ujar dr. Sucipto.Melalui program Geliat Buleleng Selasa (14/7/2026).
Menurutnya, Pemerintah Kabupaten Buleleng terus mengoptimalkan berbagai program mulai dari pelayanan kesehatan ibu dan anak, pemantauan pertumbuhan balita di posyandu, pemberian edukasi gizi, hingga penguatan kolaborasi lintas sektor.
"Keberhasilan penurunan stunting tidak bisa hanya mengandalkan tenaga kesehatan. Dibutuhkan keterlibatan pemerintah desa, kader kesehatan, PKK, dunia pendidikan, hingga keluarga agar upaya pencegahan berjalan secara berkelanjutan," tegasnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Buleleng, Nilu Putu Witari, SKM., M.A.P., menjelaskan bahwa deteksi dini menjadi salah satu langkah penting dalam mencegah stunting. Oleh karena itu, masyarakat diimbau rutin memanfaatkan layanan posyandu untuk memantau pertumbuhan dan perkembangan balita.
"Posyandu merupakan garda terdepan dalam pemantauan tumbuh kembang anak. Orang tua diharapkan secara rutin membawa balitanya ke posyandu agar setiap gangguan pertumbuhan dapat diketahui sedini mungkin," jelas Nilu Putu Witari.
Ia menambahkan bahwa edukasi mengenai pola makan bergizi seimbang, pemberian ASI eksklusif, serta pemberian makanan pendamping ASI yang sesuai menjadi bagian penting dalam mencegah terjadinya stunting.
"Pemenuhan gizi yang baik tidak selalu identik dengan makanan mahal. Yang terpenting adalah kebutuhan gizi anak terpenuhi melalui makanan yang beragam, bergizi, seimbang, dan aman," katanya.
Selain itu, Dinas Kesehatan juga terus meningkatkan edukasi kepada remaja putri dan calon pengantin agar memiliki kesiapan kesehatan sebelum memasuki masa kehamilan. Langkah tersebut dinilai penting untuk mencegah lahirnya bayi dengan risiko stunting.
Menambahkan hal tersebut, dr. Sucipto menegaskan bahwa perubahan perilaku masyarakat menjadi faktor penting dalam upaya percepatan penurunan stunting.
"Kesadaran masyarakat untuk menerapkan pola hidup bersih dan sehat, memenuhi kebutuhan gizi keluarga, serta rutin memanfaatkan layanan kesehatan merupakan kunci keberhasilan pencegahan stunting," ungkapnya.
Di sisi lain, Nilu Putu Witari menilai keberhasilan program percepatan penurunan stunting memerlukan sinergi yang berkelanjutan dari seluruh pihak.
"Kami mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama peduli terhadap tumbuh kembang anak. Pencegahan stunting merupakan investasi jangka panjang dalam menciptakan sumber daya manusia yang unggul dan berdaya saing," ujarnya.
Melalui berbagai program yang dijalankan secara terintegrasi, Pemerintah Kabupaten Buleleng berharap angka stunting dapat terus ditekan sehingga mampu mewujudkan generasi yang sehat, cerdas, produktif, serta mendukung terwujudnya Indonesia Emas 2045.

0Komentar