TUO6BUOpGUd9BUYpGSroBSGiGY==
Light Dark
Di Balik Penjor Galungan, Tersimpan Misteri 36 Hari Perjalanan Spiritual Umat Hindu

Di Balik Penjor Galungan, Tersimpan Misteri 36 Hari Perjalanan Spiritual Umat Hindu

Daftar Isi
×
Koordinator Penyuluh Agama Hindu Kecamatan Tejakula,Luh Irma Susanthi, S.Sos., M.Pd

SINGARAJA FM,-Tradisi mencabut penjor pada Buda Kliwon Pahang atau Pegat Uwakan (Pegatwakan) setiap enam bulan sekali dalam kalender Pawukon Bali selama ini dikenal sebagai penanda berakhirnya rangkaian Hari Raya Galungan dan Kuningan. Namun, di balik tradisi tersebut tersimpan makna filosofis yang jauh lebih dalam daripada sekadar menurunkan sarana upacara.

Hal itu disampaikan Luh Irma Susanthi, S.Sos., M.Pd., Koordinator Penyuluh Agama Hindu Kecamatan Tejakula. Menurutnya, Pegat Uwakan sejatinya merupakan momentum refleksi spiritual agar nilai-nilai Dharma yang telah dipupuk selama perayaan Galungan tetap hidup dalam kehidupan sehari-hari.

"Penjor memang dicabut hari ini. Namun, apakah Dharma yang tumbuh selama Galungan juga ikut tercabut dari dalam hati kita?" ujarnya.

Ia menjelaskan, dalam Lontar Sundarigama, Budha Kliwon Pahang disebut sebagai hari berakhirnya tapa brata atau masa laku spiritual. Umat dianjurkan melakukan renungan suci, yoga semadi, serta mempersembahkan sesajen kepada Sang Hyang Tunggal sebagai bentuk penyempurnaan perjalanan spiritual.

Menariknya, kata Irma, lontar tersebut tidak secara eksplisit memerintahkan pencabutan penjor. Tradisi tersebut berkembang sebagai simbol bahwa seluruh rangkaian Galungan dan Kuningan telah selesai sehingga sarana upacara dikembalikan kepada alam.

Menurutnya, rentang waktu sekitar 36 hari sejak Penampahan Galungan hingga Pegat Uwakan juga menghadirkan ruang refleksi yang menarik. Walaupun tidak ada naskah yang secara langsung mengaitkan angka tersebut dengan konsep 36 Tattwa dalam filsafat Saiva Siddhanta maupun Kashmir Shaivism, kesamaan angka tersebut dapat menjadi bahan perenungan mengenai perjalanan kesadaran manusia menuju kesempurnaan spiritual.

Selain itu, angka 36 juga dapat dimaknai melalui simbol-simbol ajaran Hindu. Angka tiga mengingatkan umat pada Tri Kaya Parisudha, yakni berpikir, berkata, dan berbuat yang baik. Sementara angka enam melambangkan Sad Ripu, enam musuh dalam diri manusia yang harus ditaklukkan.

"Selama kurang lebih 36 hari, umat seolah diajak melatih Tri Kaya Parisudha untuk mengendalikan Sad Ripu. Inilah kemenangan Dharma yang sesungguhnya," jelasnya.

Irma menambahkan, apabila angka 36 dijumlahkan menjadi sembilan, hal tersebut dapat menjadi refleksi terhadap konsep Dewata Nawa Sanga sebagai simbol keseimbangan alam sekaligus Nawa Widha Bhakti, sembilan bentuk pengabdian kepada Tuhan.

Sementara itu, hasil perkalian tiga dan enam menghasilkan angka 18 yang mengingatkan pada berbagai ajaran penting dalam Hindu, seperti 18 Parwa Mahabharata, 18 Purana, serta 18 bab Bhagavad Gita. Angka tersebut kemudian bermuara pada angka delapan yang merefleksikan nilai Asta Brata, Asta Aiswarya, hingga Asta Kosala Kosali sebagai pedoman membangun karakter dan kehidupan yang harmonis.

Meski demikian, Irma menegaskan bahwa pemaknaan angka-angka tersebut bukanlah ajaran yang tertulis secara eksplisit dalam Lontar Sundarigama, melainkan sebuah pendekatan reflektif agar makna ritual lebih mudah dipahami oleh generasi masa kini.

Ia berharap umat Hindu tidak berhenti pada pelaksanaan ritual semata, melainkan mampu membawa nilai-nilai kebajikan ke dalam kehidupan sehari-hari.

"Simbol boleh diturunkan, tetapi Dharma jangan pernah ikut diturunkan. Upacara memang memiliki akhir, namun nilai-nilai Dharma harus tetap berdiri tegak di dalam hati setiap umat sepanjang kehidupan," pungkasnya.

0Komentar

sn
sn
Special Ads