![]() |
| Luh Irma Susanthi, S.Sos., M.Pd |
Oleh: Luh Irma Susanthi, S.Sos., M.Pd.
Koordinator Penyuluh Agama Hindu Kecamatan Tejakula.
SINGARAJA FM,-Ada kisah-kisah yang
tidak lahir dari lembaran novel, melainkan dari kenyataan yang menggores hati.
Sebuah tragedi yang sempat mengundang perhatian publik kembali mengingatkan
kita bahwa kehidupan tidak selalu dapat dinilai hanya dari apa yang tampak di permukaan.
Ketika seseorang terjerat dalam sebuah kesalahan, dunia begitu mudah
menghakimi. Namun, sangat sedikit yang bersedia bertanya: "Apa yang sedang
ia perjuangkan?"
Di balik langkah yang
mungkin keliru, bisa saja tersimpan seorang ayah yang sedang berusaha
mempertahankan kehidupan keluarganya. Di balik wajah yang dipenuhi penyesalan,
mungkin ada doa yang tak pernah putus agar anak-anaknya tetap dapat tersenyum.
Kisah itu bukanlah pembenaran terhadap kesalahan, melainkan panggilan bagi
nurani agar kita belajar melihat manusia dengan mata belas kasih.
Dalam ajaran Hindu, kasih
sayang bukan sekadar perasaan, melainkan diwujudkan melalui Dharma. Seorang
ayah dipandang sebagai penuntun keluarga yang memikul tanggung jawab lahir dan
batin. Ia sering kali memilih diam ketika lelah, tersenyum ketika hatinya
terluka, dan tetap berdiri tegak meskipun beban hidup hampir meruntuhkannya.
Pengorbanannya jarang diumbar, tetapi selalu nyata dalam setiap tetes keringat
yang dipersembahkan demi keluarga.
Hal ini sejalan dengan
ajaran luhur dalam Sarasamuccaya Sloka 14:
Ikang dharma ngaran ika,
hetuning mara ring swarga ika, kadi gatining prahu, an hetuning banyaga
entasing tasik.
(Sarasamuccaya, Sloka 14)
Artinya:
"Adapun yang disebut
Dharma itu adalah jalan untuk mencapai kebahagiaan sejati (kesempurnaan hidup),
sebagaimana perahu menjadi alat bagi nelayan untuk menyeberangi lautan."
Sloka ini mengajarkan
bahwa Dharma merupakan penuntun kehidupan. Sebagaimana perahu mengantarkan
seseorang menyeberangi lautan yang luas, demikian pula Dharma menuntun manusia
melewati gelombang kehidupan menuju kebahagiaan yang sejati. Seorang ayah yang
menjalankan tanggung jawabnya dengan penuh kejujuran, kasih sayang, dan
pengorbanan sesungguhnya sedang mengayuh "perahu Dharma" bagi
keluarganya.
Dalam keluarga Hindu,
ayah bukan hanya pencari nafkah. Ia adalah guru pertama tentang keteguhan,
pelindung yang memberi rasa aman, sekaligus teladan yang mengajarkan bahwa
kehidupan harus dijalani dengan kerja keras, kejujuran, dan pengabdian. Melalui
sikapnya, anak belajar arti keberanian, kesabaran, dan tanggung jawab.
Tidak semua ayah mampu
mengungkapkan kasih sayangnya melalui kata-kata. Banyak di antara mereka
mencintai dengan cara bekerja lebih keras, pulang lebih larut, menahan lapar
agar anak-anaknya dapat makan lebih dulu, atau menyembunyikan air mata agar
keluarganya tetap merasa kuat. Cinta seorang ayah sering kali hadir dalam
bentuk yang sunyi. Namun justru di dalam kesunyian itulah cinta itu menjadi
begitu agung.
Sebagai seorang anak
perempuan, ayah akan selalu menjadi cinta pertama yang mengajarkan bagaimana
seorang laki-laki seharusnya menghormati, melindungi, dan mengasihi. Bahkan
ketika dunia menilai ayah dengan berbagai kekurangannya, di mata putrinya ia
tetap menjadi pahlawan yang tidak tergantikan. Sebab kasih seorang ayah tidak
pernah diukur dari kesempurnaannya, melainkan dari ketulusan pengorbanannya.
Karena itu, marilah kita
belajar untuk tidak mudah menghakimi kehidupan orang lain. Kita mungkin
mengetahui kesalahannya, tetapi belum tentu memahami penderitaannya. Kita
melihat perbuatannya, tetapi belum tentu mengetahui doa-doa yang ia panjatkan
setiap malam demi keluarganya. Dharma mengajarkan bahwa keadilan harus selalu
berjalan berdampingan dengan welas asih (karuṇā).
Bukan berarti setiap
kesalahan harus dibenarkan. Kesalahan tetaplah kesalahan dan memiliki
konsekuensi. Namun, sebagai umat yang menjunjung tinggi Dharma, kita dipanggil
untuk tetap memelihara rasa kemanusiaan. Sebab sering kali, seseorang tidak
membutuhkan cemoohan, melainkan kesempatan untuk memperbaiki dirinya.
Pada akhirnya,
pengorbanan seorang ayah adalah pelajaran kehidupan yang tidak pernah selesai
dibaca. Ia mengajarkan bahwa cinta sejati bukanlah tentang memiliki, melainkan
memberi. Bukan tentang dipuji, melainkan tentang tetap berbuat baik meski tak
selalu dimengerti.
Sebagaimana Dharma
menjadi perahu yang menyeberangkan manusia menuju pantai kebahagiaan, demikian
pula kasih seorang ayah menjadi perahu yang mengantarkan anak-anaknya menuju
masa depan yang lebih baik.
"Ayah adalah
perwujudan Dharma dalam keluarga. Dengan kebijaksanaan ia menuntun, dengan
belas kasih ia merangkul, dan dengan pengorbanan ia mengajarkan bahwa cinta
sejati adalah memberi tanpa mengharap balasan."
Semoga setiap ayah
senantiasa diberi kekuatan untuk tetap berjalan di jalan Dharma, setiap
keluarga dianugerahi keharmonisan, dan setiap anak mampu menghargai pengorbanan
yang sering kali tersembunyi di balik diamnya seorang ayah. Karena di balik
diam itu, tersimpan cinta yang tak pernah berhenti berjuang.
Semoga Semua Mahluk
Berbahagia.

0Komentar