TUO6BUOpGUd9BUYpGSroBSGiGY==
Light Dark
Sugihan Manik Jawa dan Bali,  Dari Empati Menuju Kedamaian Sejati.

Sugihan Manik Jawa dan Bali, Dari Empati Menuju Kedamaian Sejati.

Daftar Isi
×
Umat Hindu Melaksanakan Kegiatan Persembahyangan


Oleh, Luh Irma Susanthi, S.Sos.,M.Pd

Koordinator Penyuluh Agama Hindu Kecamatan Tejakula


Ketika Yadnya Bukan Lagi Tentang Pamer, Tetapi tentang Mengenal Tuhan Dalam Diri.

Kemajuan peradaban di era digital sering terlihat dari banyak hal, kita rajin membersihkan cache ponsel, menghapus file yang tidak diperlukan, dan memperbarui aplikasi agar kinerjanya tetap optimal. Namun, ada satu hal yang sering terlupakan, kapan terakhir kali kita membersihkan hati?

Pertanyaan sederhana ini justru menjadi inti dari esensi hari suci Sugihan Manik, sebuah perayaan keagamaan  yang diwariskan oleh Leluhur Nusantara,  lebih dari sekadar rangkaian upacara menjelang Galungan, Sugihan Manik adalah pengingat bahwa manusia perlu menyucikan dirinya sebelum mempersembahkan sesuatu kepada Tuhan.

Ketika Sugihan dianalogikan dalam pemecahan dua suku kata, yakni sugih dan akhiran an, maka artinya adalah berkelimpahan. Namun, kekayaan yang dimaksud bukan sekadar harta benda, melainkan kaya akan kebijaksanaan, kejujuran, kasih sayang, dan kejernihan hati. Sementara Manik berarti permata, sesuatu yang paling berharga. Permata itu bukan emas atau berlian, melainkan hati nurani manusia.

Di Bali, Sugihan Manik dimaknai sebagai proses penyucian diri sebelum memasuki rangkaian Hari Raya Galungan, yakni pembersihan Buana Agung dan Buana Alit, bukan hanya menyucikan sarana upacara, tetapi juga menyelaraskan pikiran (manacika), ucapan (wacika), dan perbuatan (kayika). Sebab, yadnya yang suci hanya dapat lahir dari hati yang terus berusaha disucikan. Pesan ini terasa sangat relevan bagi generasi Z, gen alpha, di tengah budaya media sosial, sering kali nilai seseorang diukur dari apa yang tampak: jumlah likes, followers, atau seberapa megah sesuatu yang ditampilkan. Tanpa disadari, cara pandang itu juga merembes ke dalam kehidupan beragama. Upacara kadang dinilai dari kemewahan banten, besarnya biaya, atau banyaknya dokumentasi yang diunggah.

Padahal, hakikat yadnya bukan untuk dipamerkan, tetapi untuk mempertemukan manusia dengan Tuhan yang bersemayam di dalam dirinya.

Bhagavad Gita 9.26 mengingatkan:

patraṁ puṣpaṁ phalaṁ toyaṁ yo me bhaktyā prayacchati

tad ahaṁ bhakty-upahṛtam aśnāmi prayatātmanaḥ

(Bhagavad Gita 9.26)

Artinya:

"Siapa pun yang mempersembahkan kepada-Ku sehelai daun, setangkai bunga, sebiji buah, atau seteguk air dengan penuh bhakti, persembahan yang tulus itu Aku terima."

Sloka ini sangat revolusioner. Tuhan tidak meminta persembahan yang paling mahal. Tuhan menerima persembahan yang lahir dari hati yang tulus. Artinya, nilai yadnya tidak ditentukan oleh harga, tetapi oleh kesadaran.

Karena itu, Sugihan Manik sesungguhnya mengajarkan pendidikan karakter yang sangat mendalam. Sebelum menghias pelinggih, hiasilah hati. Sebelum membuat banten yang indah, bentuklah kepribadian yang jujur. Sebelum mempersembahkan bunga kepada Tuhan, persembahkan terlebih dahulu ego yang selama ini menguasai diri.

Inilah sebabnya tujuan agama tidak berhenti pada empati. Empati memang membuat kita mampu merasakan penderitaan orang lain, tetapi kedamaian sejati lahir ketika hati telah bersih dari kesombongan, iri hati, dan keinginan untuk selalu dipuji. Lalu, bagaimana menumbuhkan keikhlasan dalam yadnya?

Mulailah dari hal-hal sederhana.

Saat membuat canang, jangan bertanya, "Apakah ini cukup mewah?" Bertanyalah, "Apakah ini saya persembahkan dengan cinta?"

Saat ngayah di pura, jangan mencari pekerjaan yang terlihat. Justru pekerjaan yang sederhana menyapu halaman, membersihkan tempat sembahyang, merapikan sandal umat, atau membantu tanpa diminta sering kali menjadi latihan terbaik untuk mengikis ego.

Saat memberi punia, jangan melihat besar kecilnya nominal. Lihatlah seberapa besar ketulusan yang menyertainya.

Keikhlasan tumbuh ketika kita berhenti membandingkan diri dengan orang lain. Setiap keluarga memiliki kemampuan yang berbeda. Tuhan tidak membandingkan persembahan kita dengan persembahan orang lain. Tuhan melihat isi hati kita. Ajaran ini selaras dengan Bhagavad Gita

uddhared ātmanātmānaṁ nātmānam avasādayet

ātmaiva hyātmano bandhur ātmaiva ripur ātmanaḥ

(Bhagavad Gita 6.5)

Artinya:

"Hendaklah seseorang mengangkat dirinya sendiri dengan kekuatan batinnya dan jangan merendahkan dirinya. Sebab diri sendirilah sahabat bagi dirinya, dan diri sendirilah pula musuhnya. Musuh terbesar manusia bukanlah orang lain, melainkan ego yang terus ingin diakui. Karena itu, Sugihan Manik bukan hanya mengajarkan membersihkan sarana upacara, tetapi juga membersihkan "algoritma hati" dari iri, gengsi, amarah, dan haus validasi. Bayangkan jika setiap menjelang Galungan kita tidak hanya membersihkan rumah, tetapi juga meminta maaf kepada orang tua, berdamai dengan saudara, menghentikan ujaran kebencian di media sosial, lebih bijak dalam berkomentar, dan lebih peduli kepada alam. Bukankah itu juga bentuk yadnya? Sesungguhnya, Yadnya tidak berakhir ketika dupa habis terbakar. Yadnya terus hidup dalam cara kita berbicara, bekerja, melayani, menghormati orang tua, menjaga lingkungan, dan memperlakukan sesama. Ketika pikiran, ucapan, dan tindakan menjadi persembahan yang suci, seluruh kehidupan berubah menjadi yadnya,

 di tengah dunia yang semakin bising oleh pencitraan, Sugihan Manik mengajak kita kembali pada keheningan. Mengingatkan bahwa kekayaan sejati bukanlah apa yang kita miliki, melainkan hati yang bersih, pikiran yang jernih, dan jiwa yang damai. Sebab pada akhirnya, Tuhan tidak sedang mencari persembahan yang paling megah. Tuhan sedang mencari hati yang paling tulus. Itulah "manik" yang sesungguhnya permata dalam diri manusia. Ketika permata itu kembali bersinar, yadnya tidak lagi menjadi pertunjukan, melainkan perjalanan suci untuk mengenal Tuhan dalam diri, menumbuhkan karakter mulia, dan menghadirkan kedamaian sejati bagi semesta.

0Komentar

sn
sn
Special Ads