![]() |
| Tari Rejang Unda Desa Cempaga |
SINGARAJA FM,-Di tengah kekayaan tradisi dan budaya Bali, Desa Cempaga masih teguh menjaga salah satu warisan sakral yang diwariskan secara turun-temurun, yakni Tari Rejang. Tarian ini menjadi bagian penting dalam rangkaian upacara adat dan wajib dipentaskan setiap enam bulan sekali, tepat pada Hari Umanis Galungan.
Pelaksanaan Tari Rejang berlangsung pada malam hari setelah umat selesai melaksanakan persembahyangan di natar Pura Puseh Desa Dalem Bale Agung, Desa Pakraman Cempaga. Suasana sakral menyelimuti pura ketika para penari mulai menarikan gerakan yang lembut dan penuh makna sebagai bentuk persembahan suci.
Tari Rejang bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan identitas budaya sekaligus pelengkap spiritual masyarakat setempat. Tarian ini dibawakan oleh para remaja putri (daha) yang mengenakan busana adat lengkap dengan hiasan kepala khas berupa onggar dan sekar taji, yang menjadi ciri tersendiri dari Rejang Cempaga.
Secara filosofis, Tari Rejang dimaknai sebagai perwujudan para widyadari yang berstana di pura desa. Gerakan yang ditampilkan menjadi simbol penghormatan dan pengabdian kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Tarian berlangsung sepanjang malam hingga menjelang pagi dengan pola gerak mengitari natar pura. Pada bagian akhir pementasan, beberapa penari dapat mengalami kondisi kerauhan—meskipun tidak semua—yang ditandai dengan gerakan tubuh yang berubah menjadi lebih luwes dan di luar kendali sadar. Bagian ini dikenal sebagai Rejang Unda, yang dipercaya sebagai pertanda rangkaian upacara telah mencapai puncaknya dan dinyatakan selesai (puput).
Tradisi ini menjadi bukti bahwa di tengah perkembangan zaman, masyarakat Desa Cempaga tetap menjaga kesucian adat dan nilai spiritual yang hidup dalam setiap gerak tarian sakralnya.

0Komentar