TUO6BUOpGUd9BUYpGSroBSGiGY==
Light Dark
Ngayah ke Pura Bukan Sekadar Bekerja, Melainkan Wujud Pengabdian dan Yadnya

Ngayah ke Pura Bukan Sekadar Bekerja, Melainkan Wujud Pengabdian dan Yadnya

Daftar Isi
×
Mayarakat Hindu Bali Sedang Melaksanakan Ngayah di Pura


SINGARAJA FM,-Tradisi ngayah yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat Bali kembali menjadi perbincangan setelah Anggota DPR RI I Nyoman Parta, S.H. membagikan pandangannya mengenai makna mendalam di balik kegiatan yang selama ini menjadi bagian penting dalam kehidupan adat dan spiritual masyarakat Bali.

Menurut Nyoman Parta, ngayah tidak dapat dimaknai sebagai bekerja di pura semata. Lebih dari itu, ngayah merupakan bentuk pengabdian atau yadnya yang dilakukan dengan tulus sebagai persembahan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, para leluhur, dan alam semesta.

"Ngayah ada juga yang menyebut dengan kata ngayahin, artinya mengabdi. Jadi ngayah itu bentuk yadnya, persembahan krama yang mengorbankan waktu, tenaga, dan ego. Namun yang dipersembahkan bukan hanya keringat, melainkan niat baik dan rasa hormat kepada Ida Sang Hyang Widhi, leluhur, serta semesta," ujar Nyoman Parta.

Ia menjelaskan, salah satu nilai luhur yang diajarkan dalam tradisi ngayah adalah kemampuan untuk menanggalkan ego dan status sosial. Dalam kegiatan ngayah, tidak ada perbedaan antara pejabat, dokter, petani, pengusaha maupun masyarakat biasa. Semua bekerja bersama-sama menyiapkan sarana upacara, membersihkan area pura, hingga mengangkat sesajen.

"Di banjar dan desa semua sama. Tidak ada pangkat. Itu latihan spiritual yang paling jujur. Tidak ada yang lebih besar dari desa," katanya.

Lebih lanjut, Nyoman Parta menilai bahwa tradisi ngayah juga menjadi jembatan yang menghubungkan generasi saat ini dengan warisan spiritual para leluhur yang telah membangun pura dan tradisi adat selama ratusan tahun.

"Setiap batu pura dan setiap rangkaian odalan dibangun oleh leluhur. Saat kita ngayah, sebenarnya kita sedang menyambung spirit itu, menyambung untaian doa, niat tulus, dan bhakti yang diwariskan turun-temurun," ungkapnya.

Meski harus bangun pagi dan menghadapi berbagai tantangan fisik, ia meyakini bahwa mereka yang menjalankan ngayah dengan tulus akan merasakan kedamaian batin dan kebanggaan karena mampu melanjutkan warisan leluhur.

"Ada rasa damai dan bangga seolah mengatakan kepada leluhur, 'Iraga nu ngelanturang', kami masih meneruskan," ujarnya.

Bagi Nyoman Parta, ngayah merupakan sekolah kehidupan yang tidak dipungut biaya. Guru-gurunya adalah desa, krama banjar, krama desa, para tetua, serta lingkungan sosial tempat masyarakat Bali tumbuh dan belajar bersama.

Ia menambahkan, dalam filosofi hidup masyarakat Bali terdapat keyakinan bahwa alam, desa, dan manusia merupakan satu kesatuan sistem yang saling terhubung. Oleh karena itu, ngayah dipandang sebagai cara untuk mengembalikan keseimbangan atau rta, yakni keteraturan energi dalam kehidupan.

"Makanya kita menyebutnya ngayah ke pura, bukan kerja di pura. Karena yang dilakukan bukan sekadar bekerja, melainkan mengabdi dengan hati sebagai bagian dari yadnya," tegasnya.

0Komentar

sn
sn
Special Ads