TUO6BUOpGUd9BUYpGSroBSGiGY==
Light Dark
Ketua DPRD Buleleng Dukung Pemanfaatan Lahan Kering Jadi Lahan Produktif

Ketua DPRD Buleleng Dukung Pemanfaatan Lahan Kering Jadi Lahan Produktif

Daftar Isi
×
Ketua DPRD Buleleng, Ketut Ngurah Arya Saat Mendampingi Kunjungan Staf Presiden RI Prabowo Subianto ke Desa Sumberkima


SINGARAJA FM,-Upaya mendorong kemandirian ekonomi berbasis pertanian terus digencarkan di Kabupaten Buleleng. Ketua DPRD Buleleng, Ketut Ngurah Arya, menekankan pentingnya pemanfaatan lahan kering, khususnya di Kecamatan Gerokgak, sebagai pusat pengembangan komoditas bawang merah.

Dorongan tersebut disampaikan usai dirinya mendampingi kunjungan staf Presiden RI Prabowo Subianto ke Desa Sumberkima. Menurut Arya, momen ini dimanfaatkan untuk menunjukkan potensi nyata sektor hortikultura yang dimiliki Buleleng.

Ia mengungkapkan, agenda awal kunjungan sebenarnya diarahkan ke kawasan wisata anggur. Namun, fokus kemudian dialihkan ke lahan pertanian bawang merah yang dinilai memiliki dampak ekonomi lebih besar bagi masyarakat.

“Yang kita perlihatkan adalah tanaman bawang di lahan yang dulunya kering, seperti lahan mangga dan kayu jati, kini bisa disulap menjadi lahan produktif dengan nilai ekonomi tinggi,” ujarnya,selas(07/04)

Arya menilai, pengembangan bawang merah di lahan kering merupakan strategi tepat agar tidak mengganggu lahan sawah produktif yang selama ini difokuskan untuk tanaman pangan utama seperti padi. Di sisi lain, langkah ini juga menjadi solusi konkret dalam menghidupkan kembali lahan tidur yang belum tergarap optimal.

Dari sisi hasil, ia menyebut potensi produksi di wilayah Gerokgak sangat menjanjikan. Dalam kondisi ideal, 1 kilogram bibit mampu menghasilkan hingga 10–15 kilogram bawang saat panen.

“Artinya perbandingan hasilnya bisa sampai 1 banding 15. Ini sangat menguntungkan. Bahkan saat harga di kisaran Rp25.000 sampai Rp30.000 per kilogram, keuntungan bisa mencapai hampir 150 persen,” jelasnya.

Meski peluang terbuka lebar, Arya mengingatkan adanya tantangan yang perlu diantisipasi, terutama fluktuasi harga akibat masuknya bawang impor ilegal dari sejumlah negara seperti Thailand dan India yang berpotensi menekan harga di pasar lokal.

Saat ini, luas pengembangan bawang merah di Gerokgak telah mencapai sekitar 25 hektare. Ke depan, program ini akan diperluas melalui proyek percontohan di wilayah Pemuteran dengan target antara 50 hingga 100 hektare. Rencana ini bahkan mulai menarik minat investor dan mendapat dukungan dari Kementerian Pertanian.

Selain peningkatan produksi, program ini juga diarahkan untuk memperkuat kapasitas petani lokal. Edukasi dan pendampingan langsung menjadi fokus utama agar masyarakat mampu mengelola usaha tani secara mandiri dan berkelanjutan.

“Kita ingin masyarakat yang sebelumnya tidak pernah menanam bawang bisa belajar langsung, memahami prosesnya, dan melihat hasilnya. Dengan begitu ke depan mereka bisa berdikari,” tegasnya.

Ketersediaan sumber air tanah di wilayah tersebut juga menjadi faktor pendukung penting. Pemanfaatan teknologi sederhana seperti kincir air dinilai cukup efektif untuk mengairi lahan kering tanpa bergantung pada sistem irigasi sawah konvensional.

Kedepan, Pemerintah Kabupaten Buleleng melalui instansi terkait akan menjadikan komoditas bawang merah sebagai salah satu program unggulan, termasuk melalui skema bantuan bibit bagi petani kecil.

“Cukup sekali pemerintah memberi stimulus berupa bibit unggul. Setelah itu masyarakat akan bergerak sendiri karena sudah melihat potensi hasilnya yang sangat baik,” pungkasnya.

0Komentar

sn
sn
Special Ads