![]() |
| Penyuluh Agama Hindu Kementerian Agama Kabupaten Buleleng, Putu Sariada dan Made Puspa Mardiani Sibang |
Sementara itu, Made Puspa Mardiani Sibang menyoroti tantangan perempuan Hindu di era modern yang semakin kompleks. Ia menggarisbawahi pentingnya perempuan untuk tetap berakar pada nilai-nilai agama di tengah derasnya arus globalisasi dan digitalisasi. Menurutnya, menjadi “Kartini Hindu” berarti mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan jati diri. Perempuan didorong untuk berani mengambil peran di ruang publik, meningkatkan kualitas diri melalui pendidikan, serta aktif dalam kegiatan sosial dan keagamaan.
Kedua narasumber sepakat bahwa ajaran dharma memberikan ruang yang luas bagi perempuan untuk berkembang. Konsep swadharma menjadi kunci dalam memahami peran masing-masing individu sesuai dengan kapasitas dan tanggung jawabnya. Dengan memahami swadharma, wanita Hindu dapat menyeimbangkan peran sebagai ibu, pekerja, dan anggota masyarakat secara harmonis.
Lebih jauh, pentingnya transformasi semangat Kartini ke dalam aksi nyata. Tidak cukup hanya memperingati secara simbolik, tetapi perlu diwujudkan dalam bentuk kontribusi konkret, seperti meningkatkan literasi, memperkuat pendidikan karakter, serta menjaga nilai-nilai budaya lokal. Wanita Hindu diharapkan mampu menjadi pelopor perubahan yang berlandaskan dharma, sehingga mampu memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitarnya.
Sebagai penutup, “Kartini Wanita Hindu” bukan sekadar figur historis, melainkan representasi nilai yang terus hidup dan relevan. Dengan menyalakan lentera dharma, perempuan Hindu tidak hanya menerangi dirinya sendiri, tetapi juga menjadi sumber cahaya bagi keluarga, masyarakat, dan bangsa di Bumi Pertiwi.

0Komentar