
Ketua PHRI Buleleng, Dewa Ketut Suardipa
SINGARAJA FM,-Gangguan pada jalur penerbangan internasional akibat konflik di Timur Tengah menyebabkan sejumlah wisatawan asal Eropa gagal berlibur ke Kabupaten Buleleng. Bahkan, beberapa turis yang sudah berada di Bali dilaporkan mengalami keterlambatan kepulangan karena belum dapat kembali ke negara asal mereka.
Ketua PHRI Buleleng, Dewa Ketut Suardipa, Kamis (5/2), mengungkapkan bahwa pangsa pasar pariwisata di Buleleng selama ini didominasi wisatawan asal Eropa, seperti Jerman, Swiss, dan Belanda. Namun, memanasnya situasi geopolitik berdampak pada jalur mobilitas wisatawan menuju Bali.
"Penerbangan Bali ke Eropa biasanya melewati Doha atau Singapura. Itu yang menjadi masalah. Wisatawan Eropa yang sebelumnya memiliki reservasi hotel di Buleleng harus membatalkan.Ada juga tamu yang belum bisa pulang karena terkendala penerbangan."ungkap Suardipa
Ia menambahkan, kondisi tersebut cukup memengaruhi tingkat hunian hotel di Buleleng. Saat ini, okupansi hotel memang sedang berada di angka rendah karena memasuki musim sepi (low season), yakni berkisar 30 hingga 40 persen. Pembatalan dari wisatawan Eropa semakin menekan tingkat hunian di sejumlah akomodasi.
Situasi ini juga menjadi perhatian serius menjelang Hari Raya Idul Fitri, yang biasanya diikuti oleh peningkatan jumlah turis di dalam dan luar negeri. PHRI Buleleng berharap pemerintah pusat dapat memberikan insentif kepada wisatawan domestik dengan menurunkan harga tiket pesawat untuk mencegah penurunan kunjungan.
0Komentar