![]() |
| Umat Hindu Melaksanakan Melasti di Pantai |
Oleh, Luh Irma Susanthi, S.Sos.,M.Pd.
Koordinator Penyuluh Agama Kecamatan Tejakula.
SINGARAJA FM,-Menjelang Hari Raya Nyepi, sering muncul pertanyaan yang sederhana namun sangat mendalam,
Mengapa umat Hindu melaksanakan Melasti?
Mengapa ada Tawur Kesanga?
Mengapa Nyepi harus sepi?
Dan mengapa umat menyembah Tuhan melalui budaya?
Jika kita memahami maknanya, maka kita akan sadar bahwa seluruh rangkaian Nyepi sesungguhnya adalah perjalanan manusia kembali kepada keseimbangan hidup.
Mengapa Umat Melaksanakan Melasti?
Melasti bukan sekadar tradisi berjalan ke laut.
Melasti adalah simbol membersihkan diri dan alam semesta, dalam kehidupan modern hari ini, manusia begitu sibuk dengan pekerjaan, teknologi, media sosial, dan berbagai ambisi dunia. Pikiran manusia sering penuh dengan kecemasan, kemarahan, iri hati, bahkan keserakahan, dalam ajaran Hindu, kondisi ini disebut Sad Ripu, enam musuh dalam diri manusia
Kama – nafsu yang tidak terkendali
Lobha – keserakahan
Krodha – kemarahan
Moha – kebingungan
Mada – kesombongan
Matsarya – iri hati
Sad Ripu inilah yang membuat manusia sering kehilangan kedamaian.Pengetahuan akan setiap relevansi kehidupan tidak terlepas dari 24 jam waktu yang diberikan oleh Tuhan… dalam segi numerologi… 2 ditambah 4 menghasilkan angka 6, angka yang penuh makna bagi umat,
dalam ajaran Hindu, angka 6 dimuliakan karena melambangkan kesempurnaan keseimbangan hidup dan pengendalian diri manusia. Banyak konsep spiritual Hindu tersusun dalam enam unsur yang menjadi pedoman hidup.
Relevansi Angka 6 dalam Hindu.
Sad Kerti (Enam Upaya Memuliakan Alam)
Enam bentuk yadnya untuk menjaga keharmonisan alam semesta,
Atma Kerti, Danu Kerti, Wana Kerti, Segara Kerti, Jana Kerti, Jagat Kerti.
Ini menegaskan bahwa manusia memiliki tanggung jawab spiritual menjaga alam.
Sad Angga Yoga (Enam Tahapan Yoga)
Dalam beberapa teks yoga Hindu disebutkan enam tahapan menuju kesadaran spiritual:
Asana, Pranayama, Pratyahara, Dharana, Dhyana, Samadhi.
Sad Rasa (Enam Rasa Kehidupan)
Dalam filosofi Ayurveda dan kehidupan, dikenal enam rasa yang melambangkan keseimbangan hidup:
manis, asam, asin, pahit, pedas, dan sepat.
Angka 6 melambangkan keseimbangan antara tubuh, pikiran, dan jiwa. Manusia diminta mengendalikan enam musuh dalam diri, menjaga enam keharmonisan alam, dan menempuh enam tahapan kesadaran spiritual.
Angka 6 dalam Hindu bukan sekadar bilangan, tetapi simbol kesempurnaan pengendalian diri dan harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan. Angka ini mengingatkan bahwa kehidupan yang harmonis harus seimbang dari segala aspek. Karena itu Melasti mengajarkan manusia untuk membersihkan pikiran dari kotoran kehidupan.
Dalam kitab suci Rig Veda disebutkan
Air adalah sumber kebahagiaan dan kesucian bagi kehidupan.
Manawa Dharmasastra, V.109)
Adbhirgatrani suddhyanti,
manah satyena suddhyanti
widyatapobhyam bhutatma
budhhir jnyanena suddyanti.
Artinya, Badan dibersihkan dengan udara, pikiran disucikan dengan kebenaran dan kebenaran (satya), atman dibersihkan dengan ilmu pengetahuan suci dan tapa brata, budhi disucikan dengan jnana. Filosofis yang sangat mendalam dalam pemuliaan konsep Air. Air bukan hanya membersihkan tubuh, tetapi menjadi simbol penyucian batin manusia.
Karena itu umat datang ke laut untuk memohon agar pikiran, alam, dan kehidupan kembali suci.
Mengapa Laut Menjadi Tempat Melasti?
Mengapa Melasti dilakukan di laut?
Karena laut adalah simbol kehidupan dan keseimbangan alam.
Semua sungai pada akhirnya bermuara ke laut. Ini mengajarkan bahwa segala perjalanan kehidupan pada akhirnya kembali pada satu sumber, dalam kisah Bhagavata Purana diceritakan tentang Samudra Manthana, pengadukan samudra yang menghasilkan amrta, air kehidupan. Maknanya sangat dalam, dari samudra kehidupan, manusia bisa mendapatkan dua hal,
racun atau amrta, diperkuat dalam makna yang terdapat dalam kitab Sarasamuccaya sloka 128. Jika manusia hidup dengan keserakahan dan kemarahan, racun kehidupan yang akan muncul.Namun jika manusia hidup dengan dharma, maka kehidupan akan menghasilkan amrta atau kedamaian. Kemudian ritual sehari sebelum Nyepi dilaksanakan Tawur Kesanga.Tawur adalah simbol mengharmoniskan energi alam semesta.
Manusia hidup tidak sendiri. Kita hidup bersama alam.
Jika manusia hanya mengambil dari alam tanpa menjaga keseimbangan, maka alam akan kehilangan keharmoniannya.
Karena itu Tawur Kesanga adalah simbol bahwa manusia belajar menghormati alam.
Ini sejalan dengan konsep Tri Hita Karana, yaitu tiga sumber kebahagiaan hidup:
Parahyangan – hubungan manusia dengan Tuhan
Pawongan – hubungan manusia dengan sesama
Palemahan – hubungan manusia dengan alam
Tawur Kesanga adalah bentuk penghormatan manusia terhadap alam semesta.
Mengapa Nyepi Harus Sepi?
Setelah Melasti dan Tawur Kesanga, umat menjalankan Nyepi.
Mengapa Nyepi harus sepi?
Karena dalam kehidupan sehari-hari manusia terlalu banyak suara dunia.
Suara pekerjaan.
Suara ambisi.
Suara media sosial.
Suara ego.
Kadang-kadang suara itu begitu keras, sampai manusia tidak lagi mendengar suara hatinya sendiri. Karena itu Nyepi menghadirkan keheningan, dalam Kitab Sarasmuscaya sloka 80
Mano hi mulan,
Sarvesqmindrayanam Pravartate,
Subhasubhasvavasthasu,
Karyam Tat Suvyavasthitam
Apan ikang manah ngarannya
Ya ika witning indriya, maprawerti ta ya
Ring subha asubhakharma
Matangyan, ikang manah juga, Prihen Kahrtangya sekareng.
Artinya, Pikiran manusia adalah penyebab keterikatan dan juga kebebasan.
Jika pikiran dipenuhi Sad Ripu, manusia akan hidup dalam kegelisahan.
Namun jika pikiran dikendalikan, manusia akan menemukan kedamaian. Nyepi adalah hari ketika manusia belajar mengendalikan pikirannya sendiri.
Ada juga yang bertanya,
Mengapa umat Hindu menyembah Tuhan melalui tradisi dan budaya? Mengapa menggunakan bunga, banten, upacara, dan berbagai simbol?
dalam ajaran Hindu dikenal konsep Desa, Kala, Patra:
Desa – tempat
Kala – waktu
Patra – keadaan
Artinya, cara manusia berbhakti kepada Tuhan bisa menyesuaikan dengan budaya dan kondisi masyarakat,
dalam kitab Bhagavad Gita 4.11 dijabarkan,
Dengan cara apa pun manusia datang kepada-Ku, dengan cara itu pula Aku menerima mereka. Karena itu budaya bukan penghalang spiritualitas. Budaya justru menjadi jalan yang membuat manusia lebih mudah memahami Tuhan.
Melasti mengajarkan manusia membersihkan diri.Tawur Kesanga mengajarkan manusia menghormati alam.
Nyepi mengajarkan manusia mengendalikan diri.Jika manusia mampu menjaga Tri Hita Karana dan mengendalikan Sad Ripu, maka kehidupan akan penuh kedamaian.
Sesungguhnya Nyepi bukan sekadar hari sepi.
Nyepi adalah hari ketika manusia kembali menemukan dirinya sendiri. Ketika dunia menjadi sunyi, manusia akhirnya menyadari satu hal,
bahwa kedamaian yang dicari di luar, sebenarnya sudah ada di dalam dirinya sendiri.

0Komentar