![]() |
| Gambar Ilustrasi Wayang Sapu Leger |
Oleh, Luh Irma Susanthi,S.Sos.,M.Pd
Koordinator Penyuluh Agama Kecamatan Tejakula.
SINGARAJA FM,-Setiap kali seseorang lahir pada hari Tumpek Wayang, hampir selalu muncul satu pertanyaan yang sama di tengah masyarakat: “Apakah anak ini harus Nyapu Leger?”
Lalu muncul pertanyaan yang lebih dalam lagi, “Jika tidak Nyapu Leger, apakah hidupnya akan celaka?” Bahkan ada yang sampai bertanya dengan nada cemas, “Apakah hidupnya bisa terhenti?”
Pertanyaan-pertanyaan ini menunjukkan satu hal, tradisi Nyapu Leger sering dipahami bukan sebagai jalan kesadaran spiritual, tetapi sebagai sesuatu yang menakutkan.Tumpek Wayang itu sendiri merupakan tumpukan dari waktu-waktu transisi dan hari itu jatuh pada Sabtu/Saniscara Kajeng Kliwon, Wayang. Saniscara merupakan hari terakhir dalam perhitungan Saptawara. Kajeng adalah hari terakhir dalam perhitungan Triwara, dan Kliwon merupakan hari terakhir dalam perhitungan Pancawara. Sedangkan Tumpek Wayang adalah tumpek terakhir dari urutan enam tumpek yang ada dalam siklus kalender pawukon Bali.Kajian yang memveri pesan moral banyak tumpukan sifat dan karakter yang terbebankan dan oleh semesta secara emosional ditakdirkan menderita karena mengalami gangguan emosi dan menyusahkan orang lain. Untuk melawan akibat keadaan yang tidak menguntungkan itu, orang Bali melakukan upacara ”penebusan dosa khusus” yang disebut lukatan sapuh leger, dengan harapan Hyang Widhi akan menganugerahkan nasib baik pada anak itu dan menjamin bahwa hari ”lahir yang tidak baik” itu tidak akan berdampak buruk pada perkembangan selanjutnya. Padahal jika kita kembali membaca sastra Hindu dan lontar Bali, makna sebenarnya jauh lebih dalam dan menenangkan.Kelahiran Wuku Wayang dalam Perspektif Kosmis
dalam sistem wariga Bali, tidak terlepas dalam pemaknaan waktu, setiap kelahiran terjadi dalam jaringan waktu kosmis. Waktu tidak dipahami sekadar hitungan hari, tetapi memiliki energi tertentu. Wuku Wayang dipercaya sebagai salah satu titik waktu yang memiliki kekuatan simbolis berkaitan dengan kala atau dimensi waktu kosmis.
Dalam Lontar Kala Tattwa disebutkan,
Apabila ada manusia lahir pada wuku Wayang, patut dilakukan penyucian melalui Nyapu Leger.
Kata “patut” dalam lontar ini sangat penting. Ia tidak berarti ancaman, melainkan anjuran kebijaksanaan. Leluhur Bali memahami bahwa kelahiran dalam momentum kosmis tertentu perlu diseimbangkan melalui ritual penyelarasan energi, dengan kata lain, Nyapu Leger bukan hukuman, tetapi proses harmonisasi.
Apakah Tuhan Memerintahkan Nyapu Leger?
Sebuah kajian yang menguatkan tentang latar belakang upacara nyapuh leger dengan media wayang kulit pada Tumpek Wayang adalah data sastra dalam naskah lontar. Salah satunya lontar Kala Purana berbunyi: ”… Muwah binuru sang Pancakumara; katekang ratri masa ning tengah wengi. Hana dalang angwayang, nemoning tumpek wayang, sang anama Mpu Leger. Sampun angrepakena wayang, saha juru redep/ gender/nya, wus pada tinabeh, merdu swaranya, manis arum….”.
Artinya, setelah dikejar sang Pancakumara oleh Dewa Kala, sampai menjelang tengah malam ada seorang pria/dalang bernama Mpu Leger mempertunjukkan wayang pada waktu Tumpek Wayang. Setelah menghadap ke depan kelir segera juru gender membunyikan gamelannya, suaranya merdu dan nyaring….
Pesan moral yang ditangkap, hal mulia terjadi setelah adanya ruwatan Nyapu Leger.
Jika ditelusuri dalam kitab suci Hindu yang lebih universal, tidak ada sloka yang secara literal memerintahkan Nyapu Leger. Namun prinsip yang mendasarinya yaitu penyucian diri dan keseimbangan kosmis sangat kuat dalam ajaran Hindu. Bhagavad Gita 3.10 menyebutkan,
“Saha-yajñāḥ prajāḥ sṛṣṭvā purovāca prajāpatiḥ
anena prasaviṣyadhvaṁ eṣa vo’stv iṣṭa-kāma-dhuk.”
Artinya:
Pada awal penciptaan, Tuhan menciptakan manusia bersama yadnya (upacara suci) dan berkata: melalui yadnya inilah engkau akan berkembang dan mencapai kesejahteraan.
Sloka ini menjelaskan bahwa upacara bukanlah beban, melainkan sarana menjaga keseimbangan hidup.
Jika Tidak Nyapu Leger, Apakah Hidup Akan Celaka?
Inilah bagian yang sering disalahpahami, dalam ajaran Hindu, kehidupan manusia tidak ditentukan oleh satu ritual saja. Kehidupan ditentukan oleh karma, dharma, dan kesadaran spiritual.
Kesadaran spiritual adalah refleksi dalam satu bait sloka yang universal,
“Dharmo rakṣati rakṣitaḥ.”
Artinya:
Dharma akan melindungi mereka yang melindungi dharma.
Artinya jelas, yang menjaga kehidupan manusia adalah dharma, bukan ketakutan.
Nyapu Leger membantu manusia menyelaraskan dirinya dengan energi kosmis, tetapi hidup seseorang tidak berhenti hanya karena satu ritual tidak dilakukan, dalam Hindu, selalu ada banyak jalan penyucian seperti melukat, prayascitta, atau praktik spiritual lainnya.
Mengapa Leluhur Mewariskan Nyapu Leger?
Leluhur Bali adalah pengamat alam yang sangat bijaksana. Mereka memahami bahwa manusia hidup dalam hubungan dengan alam, waktu, dan energi semesta. Ritual seperti Nyapu Leger diciptakan bukan untuk menakut-nakuti manusia, tetapi untuk mengingatkan manusia agar hidup selaras dengan alam semesta,
dalam simbolisme pewayangan, kekuatan Bhatara Kala bukan sekadar sosok menakutkan, tetapi lambang waktu yang tidak pernah berhenti. Manusia yang tidak selaras dengan waktu akan mudah terjebak dalam kekacauan hidup. Karena itu, ritual atau upacara Yadnya dilaksanakan untuk menata kembali keseimbangan tersebut.
Makna Nyapu Leger di Era Modern tidak pernah bisa lepas dari era yang serba digital hari ini, manusia sering mengalami kelelahan mental, kecemasan, dan tekanan sosial. Banyak orang mencari cara untuk reset hidup mereka, meditasi, detoks media sosial, atau terapi spiritual. Menariknya, leluhur Nusantara sebenarnya telah lama mengenal konsep itu.
Nyapu Leger dapat dipahami sebagai reset energi spiritual, sebuah momen untuk membersihkan diri dari kekacauan batin dan kembali pada keseimbangan hidup.
Jadi, Apakah Hidup Akan Berhenti Jika Tidak Nyapu Leger?
Jawabannya sederhana: tidak.
Hidup manusia tidak ditentukan oleh satu ritual. Hidup ditentukan oleh karma, dharma, dan kesadaran hidup yang benar.Namun Nyapu Leger tetap memiliki nilai penting, ia adalah warisan kebijaksanaan leluhur yang mengajarkan manusia untuk hidup selaras dengan waktu, alam, dan Tuhan, dan mungkin di situlah pesan terbesarnya. Bukan karena takut hidup berhenti, tetapi karena manusia ingin hidup lebih selaras, lebih jernih, dan lebih damai di tengah perjalanan waktu yang terus bergerak.
Adbhirgatrani suddhyanti,
manah satyena suddhyanti
widyatapobhyam bhutatma
budhhir jnyanena suddyanti. (Manawa Dharmasastra, V.109)
Artinya: Badan dibersihkan dengan udara, pikiran disucikan dengan kebenaran dan kebenaran (satya), atman dibersihkan dengan ilmu pengetahuan suci dan tapa brata, budhi disucikan dengan jnana.
Pada akhirnya di era modern yang serba cepat dan digital, manusia wajib mengenal istilah reset. Ketika perangkat teknologi bermasalah, kita menekan tombol reset agar sistem kembali seimbang. Reset energi adalah konsep penyeimbangan energi kembali, ritual Nyapu Leger, terutama bagi mereka yang lahir pada hari Tumpek Wayang atau dalam wuku Wayang adalah reset yang tak ternilai dalam penguatan Sraddha dan Bakti umat pada Sang Pemberi Kehidupan.

0Komentar