![]() |
| Kondisi SDN 5 Banjar Pasca Diterjang Banjir |
SINGARAJA FM,-Banjir yang menerjang wilayah Kecamatan Banjar menyebabkan kerusakan cukup serius di SD Negeri 5 Banjar. Sedikitnya tiga ruang kelas, ruang perpustakaan, serta mess sekolah mengalami kerusakan akibat terendam air dan lumpur tebal.
Kepala SDN 5 Banjar, I Made Wismaya, mengungkapkan bahwa informasi pertama mengenai banjir yang melanda sekolah diterimanya pada malam hari sekitar pukul 20.00 WITA dari petugas tata usaha yang tinggal di mess sekolah.
“Sekitar pukul delapan malam saya ditelepon oleh staf TU yang tinggal di mess sekolah. Ia mengabarkan bahwa sekolah terkena banjir. Bahkan kondisinya lebih parah dibandingkan banjir yang terjadi pada tahun 2018,” ungkap Wismaya saat memberikan keterangan.
Menurutnya, luapan air sungai yang berada di dekat lingkungan sekolah menyebabkan air masuk ke sejumlah ruangan dan membawa material lumpur dalam jumlah besar.
Kerusakan paling parah terjadi pada tiga ruang kelas, yakni kelas III, kelas IV, dan kelas VI. Selain itu, ruang perpustakaan juga mengalami kerusakan cukup berat karena hampir seluruh koleksi buku terendam air dan lumpur.
“Yang terdampak itu tiga ruang kelas, perpustakaan, dan mess sekolah. Di perpustakaan hampir semua buku rusak karena terendam air. Bahkan peralatan elektronik seperti komputer dan perlengkapan audio juga ikut terendam,” jelasnya.
Ia menambahkan, sejumlah perangkat elektronik bantuan pemerintah yang ada di sekolah juga ikut terdampak. Komputer, perangkat audio, hingga televisi layar besar yang berada di ruang perpustakaan ikut terendam air sehingga belum dapat dipastikan apakah masih dapat digunakan atau tidak.
“Untuk komputer dan peralatan lain masih belum berani dipastikan apakah bisa dipakai atau tidak karena sempat terendam. Sementara televisi hanya sedikit terkena air, tetapi tetap perlu diperiksa,” ujarnya.
Selain merusak fasilitas di dalam ruangan, banjir juga membawa lumpur dengan ketebalan cukup tinggi yang menutupi lantai kelas dan area sekolah. Bahkan sebagian tembok ruangan mengalami kerusakan akibat tekanan air.
“Lumpurnya sangat banyak dan tebal. Kalau dibersihkan secara manual oleh guru dan siswa tentu tidak memungkinkan. Kami membutuhkan alat berat untuk membersihkannya,” tambah Wismaya.
Meski demikian, proses pembelajaran di sekolah tetap berlangsung. Dengan jumlah siswa sebanyak 67 orang, pihak sekolah sementara menerapkan sistem belajar bergiliran (shift) dengan memanfaatkan ruang kelas di lantai atas yang tidak terdampak banjir.
“Untuk sementara anak-anak tetap masuk sekolah karena hari Senin sudah mulai UTS dan TKA. Kami menggunakan sistem shift. Satu kelompok belajar sampai pukul 09.00, kemudian dilanjutkan kelompok berikutnya hingga siang,” jelasnya.
Sementara itu, penanganan awal pascabanjir telah mendapat perhatian dari pemerintah daerah. Tim sarana dan prasarana dari Dinas Pendidikan sudah turun ke lokasi untuk melakukan peninjauan kondisi sekolah.
Selain itu, I Nyoman Sutjidra selaku Bupati Buleleng juga sempat datang langsung meninjau kondisi sekolah yang terdampak banjir.
“Pak Bupati sudah datang melihat langsung kondisi sekolah. Selain itu Pak Camat, Kepala Desa, dan Dinas Sosial juga sudah turun ke lokasi untuk melihat situasi di lapangan,” kata Wismaya.
Ia berharap adanya bantuan penanganan lebih lanjut, terutama untuk pembersihan lumpur serta perbaikan fasilitas sekolah yang rusak agar proses belajar mengajar dapat kembali berjalan normal.
“Kami sangat berharap ada bantuan alat berat untuk membersihkan lumpur dan penanganan kerusakan bangunan. Karena kalau dibiarkan lama tentu akan mengganggu kegiatan belajar mengajar di sekolah,” harapnya.
Banjir yang melanda kawasan tersebut tidak hanya berdampak pada lingkungan sekolah, tetapi juga pada permukiman warga di sekitar sungai yang turut terendam akibat derasnya arus air yang datang secara tiba-tiba

0Komentar