Oleh, Luh Irma Susanthi, S.Sos.,M.Pd
Koordinator Penyuluh Agama Hindu Kecamatan Tejakula
SINGARAJA FM,-Tumpek Uye merupakan salah satu hari suci dalam tradisi Hindu Bali hingga Hindu Nusantara yang mengandung nilai spiritual, etis, dan ekologis yang sangat mendalam. Perayaan ini sering kali dipahami secara sederhana sebagai hari untuk memberi persembahan kepada binatang. Namun, jika ditelaah melalui sastra suci, khususnya Lontar Sundarigama, Tumpek Uye sesungguhnya merupakan sistem ajaran tentang kesadaran hidup, tanggung jawab manusia, dan keharmonisan kosmis. Tumpek Uye (disebut juga Tumpek Kandang) dirayakan setiap 210 hari sekali dalam kalender Bali. Hari ini diperuntukkan untuk menghormati binatang, baik yang dipelihara maupun yang hidup bebas di alam. Tumpek Uye mengajarkan satu hal penting, manusia bukan penguasa mutlak alam, tetapi penjaga kehidupan.
Fenomena di tengah tantangan zaman modern, krisis lingkungan, eksploitasi binatang, dan krisis empati, Tumpek Uye menjadi ajaran yang sangat relevan. Hari suci ini menegaskan bahwa kasih tidak cukup berhenti pada perasaan, tetapi harus berkembang menjadi kesadaran spiritual dan diwujudkan dalam tanggung jawab nyata terhadap seluruh ciptaan Tuhan.
Pemahaman tentang Tumpek
Uye dapat dikaji dalam Lontar
Sundarigama. Landasan sastra yang memberi makna dalam nilai yang terkandung
dalam setiap ritusnya. Tumpek Uye secara jelas tertuang dalam Lontar
Sundarigama sebagaimana dikaji oleh I Nyoman Suarka dalam bukunya SUNDARIGAMA,
dalam lontar tersebut disebutkan:
“Uye Saniscara Kliwon, Tumpek Kandang ngaran, pakreti ring
sarwa pasu, sato, mina, paksi, mwang patik wenang widhi-widananya.”
Artinya:
“Pada hari Saniscara Kliwon Uye disebut Tumpek Kandang, sebagai hari suci
(pakreti) bagi seluruh binatang berkaki empat, semua satwa, ikan, burung, serta
makhluk hidup lainnya yang patut diperlakukan sesuai ketentuan dharma.”
Kata pakreti
dalam teks ini bermakna penting, karena menunjuk pada tindakan ritual yang
bertujuan memulihkan dan menjaga keseimbangan kosmis, dengan demikian Tumpek
Uye bukan sekadar perayaan simbolik, melainkan upaya spiritual untuk
mengharmoniskan kembali hubungan manusia dengan seluruh makhluk hidup.
Penyebutan sarwa pasu, sato, mina, paksi menunjukkan bahwa ajaran
ini bersifat inklusif dan ekologis. Semua makhluk hidup, baik yang berada di
darat, air, maupun udara, memiliki kedudukan penting dalam tatanan semesta.
Tumpek Uye sarat dengan makna, dalam nilai teologis
pemuliaan Binatang sangat mulia, dalam pandangan teologis Hindu, binatang
bukanlah objek mati yang dapat diperlakukan semena-mena. Mereka adalah bagian
dari ciptaan Tuhan yang menjalankan fungsi kosmisnya masing-masing. Tumpek Uye
menegaskan bahwa manusia tidak berada di atas alam, melainkan di dalam sistem
kehidupan yang saling bergantung. Ajaran ini sejalan dengan Kitab Suci Bhagavad
Gita 5.18 yang berbunyi,
“Vidya-vinaya-sampanne brahmane gavi hastini
suni caiva sva-pake ca panditah sama-darsinah”
Artinya:
“Orang bijaksana memandang sama seorang brahmana, seekor sapi, seekor
gajah, seekor anjing, maupun orang yang hina, karena mereka melihat dengan
penglihatan spiritual.”
Ayat ini menegaskan bahwa nilai kehidupan tidak ditentukan oleh bentuk,
spesies, atau status, melainkan oleh percikan Tuhan (Atman)
yang sama di dalam semua makhluk, menegaskan kesetaraan spiritual seluruh
makhluk hidup. Orang bijaksana memandang sama manusia dan binatang karena
mereka melihat kehadiran Atman yang sama di dalamnya. Tumpek Uye merupakan
pengejawantahan ajaran tersebut dalam konteks budaya dan spiritual Nusantara.
Leluhur Nusantara
memuliakan perayaan ini dalam setiap ritus perayaan sesuai dengan Desa, Kala, Patra masing-
masing. Tata Upacara berperan sebagai
sebuah Nilai Pendidikan Kesadaran yang membentuk kasih yang penuh tanggung
jawab. Lontar Sundarigama juga menjelaskan sarana upacara Tumpek Uye sebagai berikut:
“Suci daksina pras, penek, ajuman, soda prani putih kuning,
canang lenga wangi, burat wangi, panyeneng, pasucian.”
Rangkaian sarana ini memiliki makna simbolik yang mendalam. Suci
daksina melambangkan ketulusan dan kesadaran suci. Pras, penek, dan
ajuman merupakan simbol persembahan kehidupan dan rasa syukur. Soda
prani putih kuning melambangkan keseimbangan antara kesucian dan
kesejahteraan.
Sementara itu, canang
lenga wangi dan burat wangi melambangkan keharuman niat dan
kemurnian batin, sedangkan pasucian menegaskan bahwa Tumpek Uye adalah
proses penyucian hubungan manusia dengan alam dan Binatang, dengan demikian
ritual berfungsi sebagai media pendidikan spiritual, bukan sekadar formalitas
keagamaan. Sang Hyang Rare Angon sangat erat kaitannya dengan perayaan hari
suci ini. Lontar Sundarigama selanjutnya menyebutkan,
“Asta wakna ring sanggar, mangarcana ring Sang Hyang Rare
Angon.”
Artinya:
Pengetahuan ini diabadikan dalam Teknik
bebanternan yang sarat dengan nilai agama dilaksanakan dengan delapan aspek
ritual di sanggar sebagai pemujaan kepada Sang Hyang Rare Angon.”Sang Hyang Rare Angon” merupakan simbol Tuhan
sebagai penggembala dan pelindung makhluk hidup. Ia melambangkan aspek
ilahi yang mengasuh, menjaga, dan melindungi kehidupan, khususnya
makhluk-makhluk yang lemah dan tak bersuara. Pemujaan ini menegaskan bahwa
Tuhan hadir tidak hanya di tempat suci, tetapi juga dalam relasi manusia dengan
alam.
Tumpek Uye dalam konsep Seva adalah bentuk sebuah pengetahuan dalam nilai pelayanan yang sangat sederhana tetapi sarat dengan makna. Tumpek Uye mengajarkan nilai yang sangat signifikan yaitu pelayanan tanpa pamrih. Merawat binatang, memberi makan, menjaga kesehatannya, dan tidak menelantarkan kehidupannya. Nilai inilah reward bagi kemuliaan terlahir sebagai manusia. Keutamaan manusia dalam ajaran Hindu tidak terletak pada kekuasaan untuk menundukkan alam, melainkan pada kemampuan untuk bertanggung jawab secara etis. Inilah yang membedakan manusia dari makhluk lain. Tumpek Uye menjadi pengingat bahwa semakin tinggi kesadaran manusia, semakin besar pula kewajibannya untuk melindungi kehidupan. Pelayanan ini bukan semata-mata tindakan sosial, melainkan praktik spiritual yang luhur, dalam konteks ini, seva kepada binatang berarti seva kepada Tuhan, karena Tuhan hadir dalam seluruh ciptaan-Nya. Spiritualitas tidak berhenti pada doa, tetapi diwujudkan dalam tindakan etis sehari-hari.
Tumpek Uye memberi sebuah
kesadaran Dharma dalam perspektif dharma, Tumpek Uye mengajarkan bahwa
kasih adalah hukum kosmis. Kasih bukan sekadar emosi, tetapi prinsip moral yang
harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Manusia yang melanggar keseimbangan alam
berarti melanggar dharma .Inilah hakekat dari sebuah tanggung
jawab untuk semesta. Tumpek Uye juga berkaitan erat dengan konsep Tri
Rna, yaitu tiga hutang suci manusia. Dewa Rna dilunasi dengan menjaga
ciptaan Tuhan. Rsi Rna diwujudkan dengan mengamalkan ajaran para resi yang
menekankan keharmonisan dengan alam. Pitra Rna dipenuhi dengan mewariskan
lingkungan yang lestari kepada generasi berikutnya, dengan demikian Tumpek Uye
merupakan praktik spiritual yang bersifat lintas generasi dan berorientasi pada
keberlanjutan kehidupan. Tumpek Uye ternyata juga memiliki nilai dalam
Perspektif Ekoteologi. Kehidupan dalam pandangan perspektif ekoteologi, Tumpek
Uye merupakan ajaran ekologis yang sangat maju. Alam dipandang sebagai ruang
sakral, binatang sebagai bagian dari keluarga kosmis, dan manusia sebagai
makhluk utama karena moralnya, bukan karena kekuasaannya.
Ajaran ini sejalan dengan kearifan
lokal Nusantara yang menempatkan alam sebagai ibu dan manusia sebagai penjaga
harmoni. Tumpek Uye menjadi wujud nyata ekoteologi Hindu yang hidup dan
kontekstual sebagai sebuah relevansi bagi kehidupan masa kini dan bagi
pelayanan pada semesta, di era serba digital Tumpek Uye relevan dengan isu
kesejahteraan hewan, krisis iklim, dan keberlanjutan lingkungan. Bagi generasi
muda, ajaran ini mengajarkan bahwa spiritualitas sejati harus berdampak pada
cara hidup yang lebih empatik dan bertanggung jawab. Tumpek Uye mengingatkan
bahwa kualitas iman seseorang tercermin dari cara ia memperlakukan makhluk yang
paling lemah.
Tumpek Uye, sebagaimana diajarkan dalam Lontar Sundarigama, merupakan perayaan kasih yang telah berkembang menjadi kesadaran dan tanggung jawab. Ia mengajarkan bahwa memuliakan binatang dan alam adalah bagian tak terpisahkan dari memuliakan Tuhan. Melalui Tumpek Uye, umat Hindu diajak untuk kembali pada jati diri spiritualnya sebagai penjaga harmoni semesta, disanalah Tumpek Uye menemukan makna terdalamnya, sebuah ajaran luhur untuk memuliakan semua ciptaan Tuhan demi keseimbangan dunia dan keluhuran kemanusiaan. Kalau kita ingin dunia lebih baik, mulai dari cara kita memperlakukan ciptaan Tuhan dengan seadil – adilnya, karena hewan punya hak untuk bertumbuh, berkembang biak, dan melanjutkan kehidupannya. Tumpek Uye mengingatkan kita bahwa kasih tanpa kesadaran adalah kebiasaan kosong, kesadaran tanpa kasih adalah kekeringan batin, ketika kasih menjadi kesadaran, manusia menata hidupnya dengan penuh makna. Tumpek Uye mengajak manusia untuk kembali menyadari tanggung- jawabnya sebagai bagian dari kehidupan yang saling terhubung. Kasih yang lahir dari kesadaran akan menuntun manusia untuk hidup lebih bijak, tidak eksploitatif dan penuh empati, baik di dunia nyata maupun di ruang digital. Mengasihi hewan bukan sekedar simbol ritual, melainkan wujud tanggung-jawab moral untuk menjaga keseimbangan alam, menghormati kehidupan dan mengendalikan ego. Pada akhirnya, Tumpek Uye menjadi pengingat bahwa kasih sejati tidak selalu terlihat atau terdengar, tetapi terasa dalam kesadaran dan tangungjawab.

0Komentar