TUO6BUOpGUd9BUYpGSroBSGiGY==
Light Dark
Mengapa Umat Mudah Senang Tapi Sulit Bahagia? Sukha dan Śānti, Dua Rasa, Satu Kesadaran

Mengapa Umat Mudah Senang Tapi Sulit Bahagia? Sukha dan Śānti, Dua Rasa, Satu Kesadaran

Daftar Isi
×

Oleh: Luh Irma Susanthi, S.Sos., M.Pd

Koordinator Penyuluh Agama Hindu Kecamatan Tejakula.

SINGARAJA FM,-Fenomena riuhnya keadaan di era digital hari ini, umat manusia termasuk umat Hindu sekilas tampak begitu mudah merasa senang. Senang karena notifikasi berbunyi, senang karena unggahan mendapat tanda suka, senang karena keinginan terpenuhi dengan cepat. Namun, di balik semua itu, semakin banyak jiwa yang justru merasa lelah, gelisah, dan kehilangan ketenangan batin,  disinilah pertanyaan penting muncul, Mengapa kita mudah senang, tetapi sulit bahagia?

Momentum Buda Cemeng Menail menjadi ruang refleksi yang sangat relevan untuk menjawab kegelisahan ini. Sistem ritus dalam tradisi Hindu Bali hingga Nusantara kerap menyimpan banyak makna untuk sebuah nilai pembelajaran. Hari suci Buda Cemeng jatuh pada setiap hari Rabu Wage diperingati sebagai hari suci pemujaan Bhatari Sri atau Dewi Padi dan Bhatari Manik Galih atau Dewi Beras.Umat Hindu meyakini bahwa pada hari suci Buda Cemeng, Bhatari Sri dan Bhatari Manik Galih turun ke dunia memberikan kesuburan dan kehidupan bagi dunia( umredyaken Hurip ring jagat).Menurut Lontar Sundarigama(Sundarigama, I Made Suarka) adalah simbol pikiran kosong dan sempurna karena telah terputus dari ikatan nafsu Indria( Budha Cemeng Ngaran Ajnana Suksma, Pamegat 

Ing Indriya) oleh karena itu hari suci Buda Cemeng Buda Cemeng Menail dipahami sebagai hari untuk menahan diri, mengendapkan gejolak indria, dan menata ulang kesadaran. Sebuah jeda spiritual di tengah dunia yang terlalu cepat dan berisik, dalam ajaran Hindu, dikenal dua rasa yang sering disamakan namun sejatinya berbeda, Sukha dan Śānti. Sukha adalah rasa senang yang lahir dari pemuasan indria sesuatu yang menyenangkan, tetapi bersifat sementara. Sementara Śānti adalah kedamaian batin yang lahir dari kesadaran, pengendalian diri, dan keterhubungan dengan Dharma. Sukha datang dan pergi, sedangkan Śānti menetap dalam nilai spiritualitas.

Bhagavad Gītā memberikan penjelasan mendalam tentang perbedaan ini, dalam Bhagavad Gītā 5.22, Sri Kṛṣṇa menegaskan,

Ye hi saṁsparśa-jā bhogā

duḥkha-yonaya eva te

ādy-antavantaḥ kaunteya

na teṣu ramate budhaḥ

Artinya:

“Kenikmatan yang lahir dari sentuhan indria sesungguhnya adalah sumber penderitaan. Ia memiliki awal dan akhir. Orang bijaksana tidak melekat padanya.”

Sloka ini menegaskan bahwa rasa senang yang bersumber dari luar dari benda, pujian, atau pengakuan tidak pernah benar-benar membawa kebahagiaan sejati. Ia hanya memberi sensasi sesaat, lalu meninggalkan kekosongan yang menuntut pemuasan ulang. Inilah sebabnya manusia modern mudah senang, tetapi sulit bahagia. Sebaliknya, kebahagiaan sejati dalam Hindu bertaut erat dengan kesadaran akan tujuan kelahiran manusia. Manusia lahir bukan semata untuk menikmati dunia, melainkan untuk menapaki jalan Dharma, mengolah karma, dan menyucikan batin. Kelahiran sebagai manusia adalah anugerah mulia (manuṣya janma), karena hanya dalam wujud inilah seseorang mampu membedakan yang benar dan yang semu. Bhagavad Gītā kembali menegaskan hal ini dalam BG 6.23

yang memberi pesan spiritual, 

“Itulah yang disebut yoga, keterpisahan dari penderitaan. Yoga harus dijalani dengan tekad dan keteguhan hati.”

Yoga di sini bukan sekadar gerak tubuh, melainkan latihan kesadaran latihan untuk melepaskan keterikatan berlebihan pada sukha, agar batin mencapai śānti. Inilah hakikat kebahagiaan yang diajarkan dalam Hindu: bukan menolak kesenangan, tetapi tidak diperbudak olehnya.

Buda Cemeng Menail mengajarkan kebijaksanaan ini secara simbolik dan praktis, dengan mengurangi aktivitas yang memicu kesenangan indria, umat diajak kembali ke dalam diri. Hening bukanlah kekosongan, melainkan ruang bagi kebijaksanaan untuk tumbuh,  dalam keheningan itulah manusia belajar membedakan mana yang hanya menyenangkan, dan mana yang benar-benar membahagiakan.

Isu ini sangat faktual di tengah kehidupan umat hari ini. Banyak keluarga tampak baik-baik saja di luar, tetapi rapuh di dalam. Banyak anak tumbuh cepat secara digital, tetapi miskin ketenangan batin. Banyak orang dewasa produktif secara ekonomi, tetapi kelelahan secara spiritual. Semua ini adalah tanda bahwa kita terlalu lama mengejar sukha, namun lupa menumbuhkan śānti.

Bhagavad Gītā 2.66 dengan tegas menyatakan, 

Nāsti buddhir ayuktasya

na cāyuktasya bhāvanā

na cābhāvayataḥ śāntir

aśāntasya kutaḥ sukham

Artinya:

“Tanpa pengendalian diri tidak ada kebijaksanaan. Tanpa kebijaksanaan tidak ada perenungan. Tanpa perenungan tidak ada kedamaian. Tanpa kedamaian, dari mana datang kebahagiaan?”

Melalui refleksi Buda Cemeng Menail, umat diajak kembali pada kesadaran bahwa kebahagiaan sejati bukan soal seberapa banyak yang dimiliki, tetapi seberapa dalam kita memahami diri. Saat senang mulai dikendalikan, di sanalah bahagia menemukan rumahnya. Sukha membuat umat tersenyum, Śānti membuat kita mengerti.

Refleksi Buda Cemeng Menail, adalah  belajar bahagia tanpa melukai, tenang tanpa menghakimi. Empati tumbuh saat sukha dan śānti berdamai dalam diri.

Tidak ada yang ditinggikan, tidak ada yang direndahkan.

Sukha adalah rasa, Śānti adalah arah. Buda Cemeng Menail mengajarkan keduanya berjalan bersama menuju welas asih.Semoga Semua Mahluk Berbahagia🙏

0Komentar

sn
sn
Special Ads