![]() |
| Siwarātri di Era Digital, Melayani Sang Diri, Memuliakan Anugerah Menjadi Manusia |
Oleh, Luh Irma
Susanthi, S.Sos.,M.Pd
Koordinator Penyuluh
Agama Hindu Kecamatan Tejakula .
SINGARAJA FM,-Fenomena di tengah
riuhnya getaran zaman ketika jari lebih sering menyentuh layar daripada dada
sendiri, manusia hidup dalam terang teknologi namun sering kehilangan cahaya
batin. Notifikasi berbunyi nyaris tanpa jeda, informasi mengalir tanpa sempat
direnungi, dan identitas digital perlahan menggantikan jati diri sejati, dalam
situasi inilah Hari Suci Siwarātri hadir bukan sebagai ritual kuno, melainkan
sebagai undangan spiritual paling relevan di era digital, undangan untuk
berhenti, berjaga, dan melayani Sang Diri.
Sivarātri secara
harfiah berarti malam Śiva malam kesadaran. Ia jatuh pada malam tergelap,
ketika bulan lenyap dari langit. Namun justru dalam kegelapan itulah manusia
diajak menyalakan cahaya dari dalam dirinya sendiri, di tengah dunia yang sibuk
memamerkan pencapaian, Siwarātri mengajarkan keberanian untuk jujur pada diri,
siapa aku, ke mana aku berjalan, dan untuk apa aku hidup? Kisah Lubdaka adalah
hasil mahakarya Mpu Tanakung, yang menyimpan banyak nilai kehidupan, tetapi
yang penting dipahami sesungguhnya dari cerita Lubdhaka merupakan simbolik tentang ajaran Ketuhanan
dalam Hindu, diterjemahkan bahwa Pemburu itu sesungguhnya asas dasar manusia,
dimana manusia sebagai pemburu cahaya, pemburu Ketuhanan.
“Bahwa setiap manusia
di dunia ini wajib berburu kebajikan, esensi Ketuhanan. Itu sebabnya yang
diburu binatang. Sifat kebinatangan itulah yang diburu. Binatang juga disebut
satwa itu juga bisa bermakna pemusnahan sifat buruk menuju sifat-sifat kebaikan
dan itulah yang harus dimunculkan dalam dirinya,” Jadi Siwaratri itu
sesunguhnya malam perenungan bagi umat Hindu untuk merenungi dan menyadari
siapa jati dirinya agar matutur ikang atma ri jatinya atau dialog antara jiwa
dan kesejatiannya. Dia sadar tentang dirinya itu adalah jiwa atau atman yang
tidak lain memiliki persamaan sifat dengan asas Ketuhanan itu sendiri dengan
asas Siwa,” Malam Perenungan Dosa, jeda
dari dunia yang terlalu bising, dalam kitab suci Bhagavadgītā ditegaskan bahwa akar
penderitaan manusia bukan semata dosa lahiriah, melainkan avidyā ketidaktahuan
akan jati diri,
“Nadatte kasyacit papam
Na caiva sukrtam vibhuh
Ajñānenāvṛtaṁ jñānaṁ
tena muhyanti jantavaḥ”
(Bhagavadgītā V.15)
Artinya,
Pengetahuan tertutupi
oleh ketidaktahuan, sehingga manusia tersesat.
Kehidupan di era
digital, avidyā sering berwujud halus, kecanduan pengakuan, haus validasi,
kemarahan di kolom komentar, dan lupa mendengar suara batin. Siwarātri menjadi
malam refleksi, bukan untuk menghakimi diri, tetapi untuk menyadari di mana
kita kehilangan arah.
Perjalanan Lubdaka
adalah kisah kesadaran di tengah ketidaksempurnaan. Perayaan hari suci
Siwarātri juga diperkuat dalam dasar sastra salah satunya Kekawin Siwarātri
Kalpa, Siva Purna dan yang paling fenomenal adalah kisah Lubdaka.
Mengapa Sivarātri
selalu dikaitkan dengan Lubdaka, si pemburu? Karena ia adalah cermin manusia
modern , tidak sempurna, penuh keterbatasan, namun memiliki potensi kesadaran.
Lubdaka tidak memahami filsafat tinggi, tetapi ia berjaga semalaman, menahan
lapar, dan tanpa sadar melakukan tapa.
Kitab suci Bhagavadgītā
IX.30 menegaskan pesan harapan ini bagi setiap perjalanan umat yang
menjabarkan, Bahkan orang yang paling berdosa sekalipun, jika dengan tulus
mendekat kepada-Ku, patut disebut suci. Lubdaka mengajarkan bahwa kesadaran
tidak menunggu manusia sempurna, kesadaran lahir ketika manusia mau terjaga
dari kelalaian.Pelaksanaan Siwarātri dibagi menjadi tiga jenjang, utama , madya
,nista, setiap tahapan intinya adalah penekanan pada pemaknaan jagra, upawasa
dan mona, yang ketiga hal tersebut pada hakekatnya adalah cara atau jalan untuk
menjalankan konsep Tri Rna, sebagai langkah dasar pelayanan kepada Sang Diri,
dalam konsep Tri Ṛṇa, manusia memiliki tiga hutang suci: kepada Tuhan (Dewa Ṛṇa),
para Ṛṣi (Ṛṣi Ṛṇa), dan leluhur (Pitṛ Ṛṇa). Namun Siwarātri mengajarkan bahwa
pelunasan Tri Ṛṇa tidak selalu dimulai dari luar, melainkan dari pelayanan
batin kepada Sang Diri (Ātman).
Pada malam Sivarātri,
Dewa Ṛṇa dimuliakan ketika manusia menyadari bahwa hidup bukan semata hasil
kerja keras, melainkan anugerah kesadaran ilahi. Ṛṣi Ṛṇa dihormati saat manusia
mau berjaga dari kelalaian, membaca ulang makna hidup, dan belajar dari
keheningan. Pitṛa Ṛṇa ditebus bukan hanya lewat ritual, tetapi melalui perilaku
hidup yang bermoral, sadar, dan bertanggung jawab. Pelaksanaan dari ketiga
konteks itu adalah latihan 1, Jagra( melek/ terjaga sepanjang hari) hendaknya
manusia paham untuk selalu terjaga dalam kesadaran emotional, intelektual dan
spiritualitas.
2, Upawasa( tidak makan
atau minum) adalah kemampuan untuk memberi ruang pada diri menemukan hakekat
Sang Jati Diri dari sebuah nilai tanpa keterikatan karena saat ini umat belajar
untuk tanpa terikat ketika dalam fase tidak ada asupan makanan fisik dan (
maya/ ilusi)
3.Mona( Tanpa
berbicara)
Kehidupan yang
mengajarkan pentingnya Brata atau pengendalian diri dalam Manacika Parisudha.
Siwarātri menjadi latihan spiritual
untuk persembahan tuntasnya hutang kehidupan yakni Tri Ṛṇa melalui sebuah kesadaran, bukan
sekadar seremonial. Puncak kesadaran bangkit dari Avidyā yang diperkuat juga
dalam
Kitab suci Bhagavadgītā
VI.5 menjabarkan,
“Uddhared ātmanātmānaṁ
nātmānam avasādayet”
atmaiva hy atmano bandhur, atmaiva ripur
atmanah.
Artinya,
Manusia harus
mengangkat dirinya sendiri dengan kesadarannya.
Sivarātri adalah malam
di mana manusia berhenti menyalahkan dunia, sistem, atau zaman. Ia menjadi
momen untuk bangkit dari avidyā menyadari bahwa diri sejati bukan tubuh, bukan
jabatan, bukan citra digital, melainkan Ātman yang sadar dan merdeka.
Penebusan Dosa sebagai
Transformasi Kesadaran
Penebusan dosa dalam
Hindu bukan transaksi spiritual, melainkan perubahan arah hidup. Seperti
ditegaskan dalam Bhagavadgītā IV.37, pengetahuan membakar dosa seperti api
membakar kayu. Pada Siwarātri, manusia tidak sekadar memohon ampun, tetapi
berjanji pada dirinya sendiri untuk hidup lebih sadar esok hari. Melayani Sang
Diri, adalah bentuk penghargaan pada sebuah nilai yang Adi Luhung yakni memuliakan kelahiran sebagai manusia.
Terlahir sebagai
manusia adalah anugerah langka. Sivarātri mengajarkan bahwa cara terbaik
memuliakan kelahiran ini bukan dengan kesempurnaan palsu, melainkan dengan
kesadaran jujur dan keberanian berubah, di tengah dunia yang sibuk membangun
citra, Momentum Sivarātri mengajak
manusia membangun makna yang sangat mulia. Maka Siwarātri di era digital bukan
sekadar malam tanpa tidur, tetapi malam pulang ke diri. Sebuah pelayanan sunyi
kepada Sang Diri, agar manusia layak menyandang anugerah tertinggi, menjadi
manusia yang sadar. Pengetahuan yang mulia dalam cahaya sunyi Hari suci
Siwarātri, Tri Ṛṇa tidak lagi dipahami sebagai beban kewajiban, melainkan
sebagai pelayanan lembut kepada Sang Diri. Terlahir sebagai manusia adalah
anugerah agung kesempatan langka untuk sadar, memilih, dan bertumbuh. Pada
malam ini, manusia berhenti melayani ego dan mulai melayani Ātman, menundukkan indria, meredam pikiran, dan
mengingat asal cahaya hidupnya. Dewa Ṛṇa dimuliakan ketika kesadaran diarahkan
kembali kepada sumber ilahi dalam diri. Ṛṣi Ṛṇa dihormati saat manusia mau berjaga
dari kelalaian dan belajar dari sunyi. Pitṛa Ṛṇa ditebus ketika hidup dijalani
dengan nilai, bukan sekadar diwarisi, maka Sivarātri adalah sembah bakti
tertinggi atas kelahiran sebagai manusia melayani diri sejati agar layak
menyandang anugerah kehidupan. Perenungan konsep Yadnya sebagai persembahan
yang tulus iklas pada Purwaning Tilem
itu adalah hakekat Hari suci Siwaratri,
karena saat Purwaning Tilem Kapitu Sang Hyang Siwa sedang melakukan Yoga
Samadi, untuk memberikan anugrah kepada baktanya atau kepada para pengikutnya.
Anugrah berupa ketajaman batiniah, dengan cara melakukan tapa ,brata yoga
samadi, dan saat Tilem Kapitu sebagai malam tergelap dalam ilmu Jyotisa (
perbintangan) adalah malam Mahasiwaratri
yaitu malam paling gelap malam dimana siwa benar-benar melakukan yoga samadi
dan memberikan anugrah kepada umatnya,” Momentum inilah yang sangat penting
untuk memberi cahaya kesadaran bukan hanya sembahyang saat hari Siwarātri
tetapi dengan pengetahuan mulia ini umat mampu untuk memuliakan kelahirannya
dalam setiap episode kehidupannya.

0Komentar