![]() |
| Rahina Tumpek Klurut Berbarengan Dengan Purnama Kepitu |
Luh Irma Susanthi, S.Sos.M.Pd
Koordinator Penyuluh Agama Hindu Kecamatan Tejakula.
Momentum pertemuan yang
sangat luar biasa, karena tidak setiap hari suci hadir dengan getaran yang
sama. Ada hari-hari tertentu yang seolah membawa pesan lebih dalam dari
semesta, mengetuk kesadaran manusia agar berhenti sejenak dan mendengar suara
batinnya sendiri. Tumpek Krulut yang bertepatan dengan Purnama Kepitu adalah
salah satunya sebuah perjumpaan sakral antara kasih sayang dan cahaya
kesadaran, dalam Lontar Sundarigama, Tumpek Krulut dimaknai sebagai hari
penyucian rasa, saat manusia diajak melembutkan batin dan merawat keindahan
jiwa. Ia dipersembahkan kepada Bhatara Iswara, manifestasi Tuhan sebagai
penjaga kesucian, seni, dan keharmonisan, namun hakikat Tumpek Krulut tidak
berhenti pada gamelan, kidung, atau simbol seni. Ia adalah ajakan untuk mendiamkan
sejenak kebisingan batin yang selama ini menumpuk oleh amarah, luka, dan
kekecewaan, ketika Tumpek Krulut jatuh bertepatan dengan Purnama Kepitu,
maknanya menjadi berlapis. Purnama adalah fase bulan paling terang sebuah
simbol puncak kejernihan pikiran dan keterbukaan hati. Kepitu sendiri secara
spiritual sering dikaitkan dengan proses penyembuhan dan pemurnian emosi,
konsep sederhana namun penuh makna dari kemampuan untuk memahami konsep Sapta
Timira yang selalu mengikuti ritme kehidupan, tujuh kegelapan yang ada dalam
diri manusia, yang harus diperhitungkan dengan spirit dan kecerdasan, maka
pertemuan ini bukan sekadar kebetulan kalender, melainkan penyatuan rasa yang
dilembutkan dan pikiran yang diterangi, di tengah realitas hari ini ketika kasus
bullying, depresi, dan bunuh diri, terutama di kalangan Gen Z, semakin
mengkhawatirkan perpaduan Tumpek Krulut dan Purnama Kepitu terasa sangat
relevan. Kita hidup di zaman yang ramai suara, tetapi miskin empati. Banyak
anak muda terlihat kuat di layar, namun rapuh di balik senyum digitalnya.
Mereka sering merasa tidak cukup baik, tidak didengar, dan tidak dimengerti,
dalam konteks inilah pesan Tumpek Krulut menemukan urgensinya. Kasih sayang
dalam Hindu bukan emosi sesaat, tetapi laku hidup.Kitab suci Bhagavadgita
menegaskan bahwa kualitas manusia utama terletak pada welas asihnya,
adveṣhṭā sarva-bhūtānāṁ
maitraḥ karuṇa eva cha
nirmamo nirahankāraḥ
sama-duḥkha-sukhaḥ kṣhamī
santuṣhṭaḥ satataṁ yogī
yatātmā dṛiḍha-niśhchayaḥ
mayy
arpita-mano-buddhir yo mad-bhaktaḥ sa me priyaḥ
(Bhagavadgita XII.13
dan 14)
Artinya,
Ia yang tidak membenci
siapa pun, bersahabat, penuh kasih dan welas asih dialah yang dicintai Tuhan.
Bullying tumbuh dari
ego dan kebencian, sedangkan bunuh diri sering lahir dari perasaan tidak dicintai.
Maka jawaban spiritualnya bukan sekadar nasihat “harus kuat”, melainkan
kehadiran yang menenangkan dan empati yang nyata. Purnama Kepitu menguatkan
pesan ini dengan simbol cahaya. Bhagavadgita mengingatkan bahwa dalam diri
setiap manusia ada cahaya yang tidak pernah padam:
(Bhagavadgita XIII.17)
Ia adalah cahaya dari
segala cahaya, melampaui kegelapan, dan bersemayam di hati setiap makhluk. Bagi
mereka yang sedang berada di titik terendah hidupnya, sloka ini adalah
pengingat bahwa hidupnya tetap bernilai, meskipun pikirannya sedang gelap.
Tumpek Krulut berfungsi melembutkan jalan agar cahaya itu kembali terlihat,
tidak terhalang oleh luka batin dan rasa tidak berharga.
Namun penting disadari,
ritual saja tidak otomatis menyembuhkan batin. Lontar Sundarigama secara halus
mengingatkan bahwa upacara tanpa penghayatan hanya akan menjadi rutinitas
kosong. Bhagavadgita bahkan menegaskan bahwa manusia harus berperan aktif
menyelamatkan dirinya, diperkuat dalam ,
Sloka Bhagavad Gita
VI.5
uddhared ātmanātmānaḿ
nātmānam avasādayet
ātmaiva hy ātmano
bandhur
ātmaiva ripur ātmanaḥ
Artinya yang sangat
relevan,
Hendaknya seseorang
mengangkat dirinya dengan kesadaran, jangan menjatuhkan dirinya sendiri.
Artinya, Tumpek Krulut
dan Purnama Kepitu harus diterjemahkan ke dalam tindakan nyata, mendengar tanpa
menghakimi, menciptakan ruang aman di keluarga dan sekolah, serta mengakui
bahwa kesehatan mental adalah bagian dari dharma menjaga kehidupan.
Lalu siapa yang patut
disalahkan ketika di hari suci sekalipun masih ada duka? Ajaran Hindu tidak mengajarkan mencari kambing
hitam, melainkan introspeksi kolektif. Bukan hari sucinya yang gagal, tetapi
kita yang sering lupa menghidupi nilainya dalam keseharian.
Jika Tumpek Krulut
melembutkan hati dan Purnama Kepitu menerangi pikiran, maka perpaduannya adalah
yadnya batin yang sangat mulia sebuah persembahan kasih sayang untuk
menyelamatkan kehidupan. Semoga momentum suci ini menjadi awal perubahan,
ketika empati lebih kuat daripada ejekan, dan cahaya harapan lebih terang daripada
keputusasaan.
Lontar Sundarigama
menekankan bahwa hari suci Tumpek bukan hanya peristiwa ritual, tetapi titik
harmonisasi antara bhuwana agung (alam semesta) dan bhuwana alit (diri
manusia).
Tumpek Krulut
menghaluskan rasa (bhava),
Purnama Kepitu menerangi
manah (pikiran).
Ketika rasa dilembutkan
dan pikiran diterangi, maka,
kemarahan kehilangan
tempatnya, kebencian melemah, empati menemukan ruang tumbuh,i nilah kondisi
batin ideal untuk menekan kekerasan verbal, bullying, dan keputusasaan hidup.
Nilai dalam cahaya kesadaran dan kasih sayang adalah yang termulia makna dari kitab suci
Bhagavadgitabdan kajian lontar Sundarigama
sebagai peneguh kesadaran umat dan menegaskan bahwa cahaya kesadaran
adalah kunci pembebasan dari kegelapan batin.

0Komentar