![]() |
| Luh Irma Susanthi, S.Sos.,M.Pd Koordinator Penyuluh Agama Hindu Kecamatan Kubutambahan |
SINGARAJA FM,-Kualitas kehidupan di
tengah kehidupan modern yang serba cepat, Hari suci Anggarakasih Tambir sering
hadir hanya sebagai penanda kalender rohani. Sebagian umat menjalankannya
dengan senang hati tetapi ada juga dengan
rasa terbebani, sebagian lagi dengan euforia sesaat, dan tak sedikit
generasi muda yang memandangnya sekadar rutinitas tanpa makna. Padahal,
Anggarakasih Tambir menyimpan pesan spiritual yang sangat dalam, yadnya bukan
tentang apa yang dipersembahkan, melainkan tentang kesadaran siapa yang mempersembahkan.
Yadnya dan beban status
sosial menjadi isu tren yang benar- benar menghadapkan umat pada nilai apa itu
kebenaran? Fenomena yang sering muncul di tengah umat adalah anggapan bahwa
yadnya identik dengan banten yang banyak dan mahal. Tak jarang muncul rasa
minder, bahkan enggan ber-yadnya, karena merasa tidak mampu menyamai standar
sosial di sekitarnya. Yadnya pun bergeser makna, dari sarana penyucian diri
menjadi ajang pembanding status.
Padahal dalam Lontar
Sundarigama, ditegaskan bahwa yadnya tidak diukur dari besar kecilnya
persembahan, tetapi dari ketulusan niat yang mempersembahkannya,
“Nista utama madya ning
yadnya, tan wenten ring akweh alit banten, nanging ring suci ning manah.”
(kutipan Lontar
Sundarigama) “Tinggi rendahnya yadnya bukan terletak pada banyak atau
sedikitnya banten, melainkan pada kesucian hati. Pesan ini sangat relevan hari
ini, ketika yadnya dijadikan beban sosial, maka yang bekerja bukan lagi bhakti,
melainkan ego. Yadnya yang terjebak euforia dan rutinitas semata. Anggarakasih
Tambir juga kerap dirayakan sebagai puncak Pujawali dengan semangat ramai,
namun seakan cepat berlalu. Upacara
selesai, sesajen diturunkan, lalu hidup kembali seperti biasa tanpa perubahan
sikap, tanpa refleksi batin, hingga akhirnya
Yadnya berhenti pada seremoni belaka.
Bhagavadgītā IX .11
menegaskan,
“Avajānanti māṁ mūḍhā
mānuṣīṁ tanum āśritam”
param bhavam ajananto,
mama bhuta mahesvaram.
Artinya,b
“Orang yang tidak
memahami hakikat, memandang sesuatu hanya dari bentuk luarnya.”
Ketika yadnya hanya
dipahami sebagai acara, bukan proses penyadaran, maka esensi spiritualnya
lenyap. Anggarakasih Tambir seharusnya lebih dimaknai sebagai titik hening
untuk menata kembali relasi manusia dengan Tuhan, sesama, dan dirinya sendiri.
Generasi Muda dan rutinitas tanpa makna akan menyebabkan bias dan dangkal dalam
memandang nilai sebuah Yadnya, bagi generasi muda, yadnya sering diwariskan
sebagai “yang harus dilakukan”, bukan “yang perlu dipahami”. Inilah tantangan
besar hari ini. Ketika makna tidak dijelaskan, yadnya terasa kering, bahkan
membosankan. Padahal sesungguhnya, yadnya adalah jalan penemuan jati diri.
Bhagavadgītā jelas menjabarkan,
“Saha-yajñāḥ prajāḥ sṛṣṭvā
purovāca prajāpatiḥ
anena prasavisyadvam,
esa vo' stv ista kamadhuk (BG III.10)
“Bersama yadnya,
manusia diciptakan untuk saling menopang kehidupan.”
Artinya, manusia
menemukan maknanya justru ketika ia mau memberi, bukan hanya mengambil.
Anggarakasih Tambir adalah momentum untuk menyadarkan generasi muda bahwa hidup
bukan sekadar bekerja dan mengejar hasil, tetapi tentang bagaimana hidup
memberi makna.
Ber-yadnya di tengah
tuntutan hidup adalah pelayanan sederhana.
Realitas hari ini tak
bisa dihindari, yakni tanpa bekerja dan
menghasilkan uang, manusia sulit bertahan hidup. Lalu di mana ruang yadnya?
Apakah yadnya harus selalu berbentuk upacara besar?
Bhagavadgītā memberikan
jawaban yang sangat praktis:
“Yat karoṣi yad aśnāsi
yaj juhoṣi dadāsi yat, yat tapasyasi kaunteya tat kuruṣva mad-arpaṇam” (BG
IX.27)
“Apa pun yang engkau
lakukan, makan, persembahkan, atau kerjakan lakukanlah sebagai persembahan.”
Inilah yadnya praktis:
bekerja dengan jujur, melayani dengan tulus, menafkahi keluarga dengan dharma.
Anggarakasih Tambir mengajarkan bahwa hidup sehari-hari pun bisa menjadi yadnya
bila dilakukan dengan kesadaran. Bagaimana menyikapi dogma di masyarakat
ketika Banten dianggap sebagai Pemborosan?
Sebagian kritik
menyebut banten sebagai pemborosan. Kritik ini perlu dijawab dengan bijak.
Masalahnya bukan pada bantennya, tetapi pada cara memaknainya. Ketika banten
menjadi ajang gengsi, ia memang kehilangan nilai. Namun ketika banten menjadi
simbol bhakti dan sarana konsentrasi batin, ia justru mendidik manusia untuk
memberi dan melepaskan. Lontar Sundarigama menegaskan keseimbangan,
“Yadnya tidak boleh
dipaksakan, tidak pula menjadi beban.”
Artinya, yadnya harus
proporsional, sadar, dan membebaskan, bukan menekan. Anggarakasih Tambir adalah
bagian dari Cermin Diri . Anggarakasih Tambir bukan soal seberapa lengkap
banten, seberapa ramai upacara, atau seberapa sering dilakukan. Ia adalah
cermin batin apakah yadnya membuat kita lebih lembut, lebih sadar, dan lebih
manusiawi?
Di tengah dunia yang
sibuk, Anggarakasih Tambir mengajak umat untuk berhenti sejenak dan bertanya,
Apakah yadnya yang aku
lakukan mendekatkan aku pada hakikat hidup, atau justru menjauhkanku dari
kesederhanaan?
Karena pada akhirnya,
yadnya yang sejati adalah ketika hidup itu sendiri menjadi persembahan.Nilai
sebuah persembahan terdapat dalam kualitas bakti seseorang. Bakti sebagai
kesadaran tertinggi generasi muda.
Bagi generasi muda,
penting dipahami bahwa bakti dalam yadnya bukanlah kepatuhan buta, melainkan
kesadaran tertinggi tentang arah hidup. Berbakti kepada Catur Guru, Guru
Swadyaya (Tuhan), Guru Rupaka (orang tua), Guru Pengajian (pendidik), dan Guru
Wisesa (pemerintah) bukanlah penghambat masa depan, justru penyangga kehidupan
yang kokoh. Bhagavadgītā menegaskan bahwa kesadaran yang dipersembahkan dengan
bhakti tidak pernah sia-sia. Ketika generasi muda ber-yadnya dengan bakti,
mereka sedang menyiapkan hidupnya sendiri: membangun karakter, etika kerja, dan
keteguhan batin. Bakti tidak mematikan mimpi, ia menuntun mimpi agar berjalan
selaras dengan dharma dan tidak kehilangan makna.Semoga setiap generasi muda
paham dan mulai bangkit untuk memuliakan kehidupannya dalam hal sederhana
sekalipun dalam konteks sebuah rekan kerja.Semoga Semua Mahluk Berbahagia.
.jpeg)
0Komentar