Oleh : Luh Irma Susanthi,S.sos.,M.Pd
Penyuluh Agama Hindu Buleleng
SINGARAJA FM,-Pernahkah kita berhenti
sejenak dari layar ponsel…
menutup notifikasi,
lalu bertanya pada diri sendiri:
“Apakah jiwaku sudah
benar-benar bersih?”
Menjelang hari raya Galungan, umat Hindu Bali mengenal dua hari suci Sugihan Jawa dan Sugihan Bali.
Banyak orang tahu
tentang ritualnya, tapi tidak semua memahami maknanya.
Kata “Jawa” dalam
Sugihan Jawa bukan menunjuk pulau Jawa,
melainkan berasal dari
kata Jīwa roh, atau sukma.
Artinya, Sugihan Jawa
adalah hari penyucian jiwa.
Hari untuk membersihkan
bhuwana alit tubuh dan pikiran manusia,
agar selaras dengan
bhuwana agung alam semesta.
Namun, makna Sugihan
Jawa sejatinya lebih dalam.
Ia juga mengingatkan
kita tentang Tri Ṛṇa tiga hutang suci
yang melekat pada setiap manusia v sejak
lahir.
Pertama, Deva Ṛṇa hutang kepada para dewa.
Para dewa telah memberikan kita udara untuk bernapas, sinar matahari untuk hidup, dan bumi untuk berpijak.
Di era digital seperti
sekarang, kita bisa melunasi hutang itu dengan cara yang sederhana namun
bermakna:
menjaga alam,
mengurangi sampah plastik, menanam pohon, dan hidup selaras dengan bumi.
Ketika kita menjaga
alam, sejatinya kita sedang memuliakan Hyang Widhi dalam wujud nyata.
Kedua, Rṣi Ṛṇa hutang kepada para guru dan bijaksana.
Para Ṛṣi telah
mewariskan pengetahuan suci, Weda, dan dharma yang membimbing umat manusia.
Kini, para guru itu
hadir bukan hanya di ashram, tetapi juga di dunia maya.
Melunasi hutang ini
berarti menggunakan teknologi dengan bijak:
bukan untuk menyebar
kebencian, tapi untuk berbagi pengetahuan;
bukan untuk memamerkan
diri, tapi untuk menyalakan cahaya kebijaksanaan.
Ketiga, Pitra Ṛṇa hutang kepada leluhur dan orang tua.
Kita tidak akan ada
tanpa doa mereka.
Maka, di tengah
kesibukan modern, mari kita luangkan waktu untuk menghormati leluhur,
bukan hanya lewat
upacara pitra yadnya, tapi juga dengan melanjutkan nilai-nilai luhur mereka
kejujuran, kasih, dan
ketulusan.
Ketika kita hidup
dengan nilai-nilai itu, sejatinya kita menjaga nyala suci warisan keluarga.
Bhagavad Gītā V.17 menegaskan:
> तद्बुद्धयस्तदात्मानस्तन्निष्ठास्तत्परायणाः ।
tad-buddhayas
tad-ātmānas tan-niṣṭhās tat-parāyaṇāḥ
gacchanty apunar āvṛttim
jñāna-nirdhūta-kalmaṣāḥ
“Mereka yang pikirannya tertuju kepada Tuhan, jiwanya disucikan dan mencapai ketenangan.”
Sloka ini menggambarkan hakikat Sugihan Jawa:
penyucian bukan sekadar
ritual luar, tapi kebangkitan kesadaran batin.
Jiwa yang suci adalah
jiwa yang sadar, jujur, dan selaras dengan dharma.
di dunia digital yang serba cepat ini, Sugihan Jawa kita untuk menekan butuh h huuutombol refresh bukan pada layar ponsel, tapi pada batin.
Membersihkan pikiran
dari iri, kata dari kebohongan, dan hati dari keserakahan.
Mari jadikan Sugihajn Jawa sebagai momentum reset spiritual,
agar kita kembali ingat
siapa diri kita:
bukan sekadar pengguna
teknologi, tapi penjaga keharmonisan alam;
bukan sekadar manusia
modern, tapi pewaris dharma purba.
✨ Sugihan Jawa bukan hanya pembersihan
ritual, tetapi juga penyadaran diri
bahwa manusia sejati
adalah ia yang mampu melunasi hutang suci kepada alam, guru, dan leluhurnya,
dengan cara hidup yang
bersih, bijak, dan penuh kasih.
Ia yang mampu melunasi
hutang suci kepada alam, guru, dan leluhurnya,
dengan cara hidup yang bersih, bijak, dan penuh kasih.
.png)
0Komentar