![]() |
| Suasana Persembahyangan Hari Raya Kuningan |
Oleh : Luh Irma Susanthi, S
Sos., M.Pd.
Koordinator Penyuluh Agama Hindu Kecamatan Kubutambahan
SINGARAJA FM,-Hari Suci Kuningan bukan hanya penanda berakhirnya rangkaian suci Galungan, tetapi juga tonggak spiritual untuk mengenal diri lebih dalam, dalam ajaran Hindu, perjalanan menuju kesadaran sejati dimulai dari pemahaman Tri Śarīra yakni Stūla Śarīra (tubuh kasar), Sūkṣma Śarīra (tubuh halus), dan AntahKāraṇa Śarīra (tubuh penyebab). Kuningan hadir sebagai “ruang hening” untuk menyadari kembali tubuh, pikiran, dan jiwa di tengah derasnya arus digitalisasi.
Makna ini juga
ditegaskan dalam Lontar Sundarigama, teks suci yang sangat bersejarah mengenai
tata hari raya Galungan dan Kuningan, didalamnya disebutkan, salah satu
kutipannya,
“Rangda ring amangkya,
dewatā teka ring angga.”
“Pada hari Kuningan,
para dewa datang menyertai tubuh dan kesadaran manusia.”
Sloka ini mengandung
pesan bahwa Kuningan adalah hari ketika energi sattvika turun menyertai umat
untuk meningkatkan kejernihan pikiran, kesehatan batin, dan kesucian tujuan
hidup. Maka, memuliakan Tri Śarīra pada Kuningan berarti membuka diri agar
tubuh, pikiran, dan jiwa dapat tersentuh cahaya para dewa.
Stūla Śarīra, Menyadari Tubuh sebagai Media
Dharma.
Taittirīya Upaniṣad
mengingatkan bahwa kesadaran dimulai dari tubuh:
“अन्नमयोऽन्नमयेनैव
जीवति”
Annamayo’nnamayenaiva
jīvati
“Tubuh kasar hidup dari
apa yang kita masukkan ke dalamnya, di era digital, tubuh manusia bekerja dua
kali lebih berat kurang gerak, kurang tidur, dan sering terjebak dalam pola
hidup cepat yang melelahkan. Kuningan mengajak umat kembali memuliakan tubuh sebagai
kuil kecil tempat hidup berlangsung.
Pustaka Lontar
Sundarigama mengajarkan, umat dianjurkan membuat tamiang dan endogan, dua
simbol yang mewakili perlindungan dan keseimbangan. Keduanya melambangkan bahwa
tubuh perlu dijaga dari “serangan adharma”baik berupa penyakit, stres, maupun
pola hidup tidak sehat.
Pada tingkat modern,
Kuningan adalah momentum untuk, mengatur ulang ritme makan, tidur, dan
aktivitas fisik;
merawat tubuh dari
kelelahan digital, menanamkan kebiasaan hidup sattvika agar tubuh menjadi media
dharma.
Stūla Śarīra yang
seimbang menjadi pintu pertama menuju kesadaran diri.
Sūkṣma Śarīra,
Menjernihkan Pikiran di Tengah Bisingnya Dunia Digital
Sūkṣma Śarīra terdiri
dari pikiran, perasaan, dan prana, di era digital, bagian inilah yang paling
mudah goyah pikiran terseret opini, emosi diombang-ambingkan informasi, dan
prana terkuras tanpa disadari.
Bhagavad Gītā 6.5
mengingatkan:
उद्धरेदात्मनात्मानं
नात्मानमवसादयेत्
।
आत्मैव
ह्यात्मनो
बन्धुरात्मैव
रिपुरात्मनः
॥५॥
uddhared ātmanātmānaḿ
nātmānam avasādayet
ātmaiva hy ātmano
bandhur
ātmaiva ripur ātmanaḥ
“Angkatlah dirimu
dengan kekuatan dirimu sendiri.”
Kuningan adalah waktu
untuk “mengangkat diri” dari kebisingan, membasuh pikiran melalui mantra, dan
memulihkan energi batin, dalam Lontar Sundarigama, disebutkan bahwa pada
Kuningan, para dewa memberikan “ketenangan pikiran dan kejernihan buddhi”
kepada umat yang tulus bersembahyang, di era digital, ajaran ini menjadi sangat
relevan, kurangi paparan informasi berlebih, lakukan kontemplasi singkat, atur
napas untuk menyeimbangkan prana, saring apa yang masuk ke pikiran sebagaimana
kita menyaring makanan bagi tubuh. Kuningan adalah jeda suci bagi pikiran, agar
tubuh halus bisa memancarkan kembali cahaya kejernihan.
Antah Kāraṇa Śarīra:
Menyentuh Diri Terdalam di Hari Bercahaya
Antah Kāraṇa Śarīra
adalah tubuh penyebab inti kesadaran yang memuat karma, niat suci, dan bibit
dharma. Lontar Sundarigama menggambarkan Kuningan sebagai waktu ketika “atma
dibersihkan oleh sinar keemasan para dewa”, sehingga manusia mampu melihat
tujuan hidupnya dengan lebih jelas.
Ajaran ini selaras
dengan sloka Chandogya Upaniṣad 6.8.7:
“तत्त्वमसि
— Tat Tvam Asi”
“Engkau adalah itu jiwa
yang bersumber dari cahaya suci.”
Pada tingkat spiritual,
Kuningan mengembalikan umat kepada niat tertinggi,
untuk hidup lebih
benar, lebih jernih, dan lebih tulus.
Antah Kāraṇa Śarīra
menjadi seperti cerminia memantulkan apakah hidup kita sudah sesuai dharma atau
justru menyimpang dari tujuan,di era modern, ini berarti merefleksikan, Apakah
keputusan hidup kita sejati atau hanya mengikuti tren?
Apakah penggunaan
teknologi kita membawa manfaat atau justru menjauhkan dari diri sendiri?
Apakah tujuan hidup
kita semakin terang atau semakin kabur?
Kuningan mengajak kita
kembali menyalakan cahaya di dalam.
Kuningan dan Digitalisasi, Tradisi yang Tetap
Menyentuh Zaman
Lontar Sundarigama
tidak hanya berbicara tentang upacara, tetapi kesucian kesadaran, dalam konteks
digital, ajarannya memberi tiga pedoman penting:
“Maya ring awak, tan
wikan sangkāra”
“Jangan biarkan diri
tertipu oleh ilusi.”
Relevan dengan hoaks,
manipulasi digital, dan konsumsi media tanpa kendali.
“Linggihang dewa ring manah”
“Tempatkan dewa di
dalam pikiran.”
Artinya, isi pikiran
dengan hal yang murni, bukan hanya unggahan cepat atau konten penuh sensasi.
“Suksmeng angga, suksma dewakang teka”
“Lembutkan tubuh halus,
agar cahaya dewa dapat masuk.”
Ini adalah pesan
penting bahwa ketenangan batin adalah syarat spiritual di era serba cepat.
Kuningan menjadi
jembatan antara tradisi dan dunia digital, tradisi menjaga kedalaman,
digitalisasi membawa kecepatan, sementara kesadaran diri adalah pusat
keseimbangan.
Kuningan sebagai Cermin untuk Melihat Diri
Sendiri dan memuliakan semesta
Esensi Kuningan dari
konsep Tri Śarīra dan Lontar Sundarigama adalah ajakan untuk kembali pulang
kepada diri. Tubuh dirawat, pikiran dijernihkan, dan jiwa disinari ketulusan,
diera digital, pesan ini semakin penting,
kita bukan hanya
konsumen informasi, tetapi makhluk spiritual yang tengah mencari cahaya.
Kuningan memberi ruang
bagi umat Hindu untuk bertanya:
apakah tubuh kita telah
dihormati?
apakah pikiran kita
sudah bersih dari polusi digital?
apakah jiwa kita masih
terhubung dengan cahaya-Nya?
Jika jawabannya “iya”,
maka Kuningan telah bekerja.
Jika belum, Kuningan
menjadi awal perjalanan kembali.
Itulah keagungan
Kuningan hari ketika manusia diingatkan bahwa cahaya para dewa hanya dapat
masuk ke dalam diri yang dijaga melalui tubuh, pikiran, dan jiwa yang suci.

0Komentar