Oleh : Luh Irma Susanthi, S.Sos.,M.Pd.
Koordinator Penyuluh Agama Hindu Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng Bali.
Ritual Hening di Tengah
Bisingnya Zaman
Rutinitas dalam dinamika kehidupan modern, manusia kerap terjebak dalam aktivitas serba cepat, identitas digital yang terus diperbarui, dan tuntutan sosial yang tak kunjung mereda, ditengah derasnya arus distraksi itulah tradisi Hindu Bali yang hadir sebagai penuntun, menghadirkan ruang untuk kembali pada keheningan diri. Salah satunya melalui peringatan Sugihan Bali, sebuah momentum spiritual yang memiliki makna mendalam bukan hanya bagi umat Hindu, tetapi juga bagi generasi muda yang tengah mencari arah dan keseimbangan hidup.
Sugihan Bali dan Relevansinya di Era Modern memberi ruang untuk tumbuhnya kesadaran moral yang mulia redup. Sugihan Bali dirayakan setiap Jumat Kliwon Wuku Sungsang, sehari setelah Sugihan Jawa, jika Sugihan Jawa menitikberatkan pada penyucian Bhuana Agung, maka Sugihan Bali lah yang menekankan penyucian Bhuana Alit, yakni diri manusia.
Kehidupan dalam era
digital, konsep penyucian diri memperoleh relevansinya kembali. Generasi muda
kini hidup dengan paparan informasi tanpa batas, tekanan performa dari media
sosial, dan beragam beban psikologis yang sering tidak terlihat. Penyucian diri
baik secara sekala maupun niskala menjadi ruang jeda untuk kembali menemukan
kejernihan batin. Makna Etimologis, Sugi dan Bali adalah penjabaran dari sebuah
nilai spiritual. Kata Sugi berarti membersihkan, sedangkan Bali merujuk pada
daya kekuatan dalam diri, dengan demikian, Sugihan Bali dapat dimaknai sebagai
proses pembersihan kekuatan hidup, agar jiwa kembali jernih dan siap menyambut
cahaya Dharma di Hari Galungan.
Makna ini memberi pesan
spiritual yang sangat kuat:
bahwa kebersihan tidak
hanya menyangkut tubuh, tetapi juga pikiran, niat, dan orientasi hidup.
Ajaran Lontar sebagai
Penuntun Zaman adalah bentuk sebuah refleksitas Hindu, acuan untuk mengenal
warisan sejarah Nusantara, dalam Lontar Sundarigama disebutkan,
Artinya: “Oleh karenanya, sucikanlah badan jasmani dan rohani masing-masing dengan memohon tirta pembersihan.”
Ajaran ini sejalan dengan kebutuhan manusia modern yang kian sering lupa menjaga keseimbangan antara kesehatan fisik dan mental. Tirta dalam konteks ini tidak hanya dimaknai sebagai air suci, tetapi juga simbolisasi dari kejernihan pikiran, kebeningan batin, dan kesadaran yang bersih.
Dua Dimensi Penyucian, Sekala dan Niskala
1. Penyucian Sekala
Penyucian sekala mencakup kegiatan memperbaiki kebersihan fisik dan lingkungan. Menggunakan tirta pembersihan atau penglukatan, umat menyucikan tubuh agar layak menjadi wadah Sang Jiwa Suci.
Dalam konteks kekinian,
penyucian sekala bisa dimaknai pula sebagai upaya membersihkan ruang hidup,
mengorganisasi waktu, serta menata pola hidup agar harmonis.
2. Penyucian Niskala
Penyucian niskala berfokus pada aspek rohani. Ia dilakukan melalui semadi, tapa brata, yoga, serta pengendalian indria. Di era digital, kegiatan ini dapat diwujudkan melalui meditasi singkat, refleksi harian, maupun pembatasan konsumsi informasi yang bersifat merusak kualitas batin.
Bagi generasi muda, penyucian niskala menjadi langkah penting untuk tidak terjebak dalam arus perbandingan sosial dan tekanan ekspektasi semu yang sering muncul di ruang digital.
Perspektif Bhagavad Gītā tentang Penyucian Diri dijabarkan dalam kitab suci, Bhagavad Gītā V.17 memberikan penjelasan mendalam tentang pembersihan jiwa:
> tad-buddhayas tad-ātmānas tan-niṣṭhās tat-parāyaṇāḥ
gacchanty apunar āvṛttim
jñāna-nirdhūta-kalmaṣāḥ
“Mereka yang pikirannya tertuju kepada Tuhan, jiwanya disucikan, dan akhirnya mencapai ketenangan.”
Sloka ini mengisyaratkan bahwa penyucian diri bukanlah sekadar ritual, tetapi perjalanan menuju kesadaran yang lebih tinggi. Pikiran yang terarah, hati yang bersih, dan hidup yang berpegang pada Dharma akan membawa seseorang pada ketentraman yang tidak tergoyahkan oleh perubahan zaman.
Sugihan Bali sebagai Momentum Reorientasi Diri
Generasi muda kerap mencari “ruang pulang” di tengah tekanan akademik, pekerjaan, tuntutan karier, dan dinamika pergaulan digital. Sugihan Bali dapat diartikan sebagai kesempatan untuk,
Menata ulang prioritas dan tujuan hidup
Menjernihkan pikiran dari rasa cemas dan gelisah
Memperkuat hubungan dengan keluarga dan Sang Pencipta
Mengembalikan diri pada
nilai-nilai spiritual yang memberi keteduhan, dengan demikian, perayaan Sugihan
Bali bukan hanya tradisi, melainkan nilai hidup yang menawarkan keseimbangan di
tengah dunia yang serba cepat.
Menuju Galungan dengan Jiwa yang Bersih
Galungan bukan sekadar hari perayaan, melainkan simbol kemenangan Dharma atas Adharma. Untuk memasuki hari agung ini, diri yang bersih adalah syarat utama. Sebab kemenangan Dharma pertama-tama harus terjadi di dalam diri kita sendiri melalui disiplin, ketulusan, dan kesadaran.
Sugihan Bali memberikan landasan spiritual agar manusia tidak hanya menjalankan ritual Galungan secara lahiriah, tetapi juga merasakannya secara batiniah. Ketika jiwa bersih, cahaya Galungan bukan hanya disambut, tetapi benar-benar dihayati.
Hadirkanlah momentum
spiritual dalam sebuah cahaya yang menyala dari dalam diri tempat Sang Hyang
Atman bersemayam sebagai percikan kecil Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Sugihan Bali
menegaskan bahwa penyucian diri adalah inti dari kehidupan spiritual Hindu. Ia
mengingatkan bahwa di balik kemajuan teknologi dan kenyamanan modern, manusia
tetap membutuhkan ruang hening untuk merawat jīwa. Momentum ini mengajak kita,
terutama generasi muda, untuk kembali pada jati diripada cahaya yang tidak
pernah padam di dalam diri. Karena ketika batin jernih, hidup akan lebih
terang, lebih damai, dan lebih bermakna.
.png)
0Komentar