TUO6BUOpGUd9BUYpGSroBSGiGY==
Light Dark
Pelajaran Hidup dari Pagerwesi: Kekuatan, Keteguhan, dan Perlindungan

Pelajaran Hidup dari Pagerwesi: Kekuatan, Keteguhan, dan Perlindungan

Daftar Isi
×

SINGARAJA FM,-Hari Suci Pagerwesi, yang jatuh pada Budha Kliwon Wuku Shinta, merupakan salah satu momen penting dalam kalender keagamaan Hindu Bali. Empat hari setelah Hari Saraswati—saat umat memuja turunnya ilmu pengetahuan suci—Pagerwesi hadir untuk mengingatkan agar ilmu itu tidak sekadar berhenti sebagai pengetahuan, tetapi dipagari, dijaga, dan dimanfaatkan untuk menguatkan diri di jalan dharma.

Dalam bahasa sederhana, Pagerwesi adalah pagar besi. Sebagaimana besi yang keras, kokoh, dan sukar ditembus, demikianlah diharapkan umat Hindu menjaga dirinya dari serangan adharma, kebodohan, dan pengaruh buruk yang bisa melemahkan jiwa.

Dalam Lontar Sundarigama, Pagerwesi ditegaskan sebagai momentum umat Hindu untuk memperkuat diri.

….Sira sang mānuṣa kabeh, mangke Pagerwesi, wenang ngaturaken bhakti ring Ida Sang Hyang Widhi, pinaka pagering jñāna, pinaka panyengkeraning adharma.”

Artinya: “Wahai seluruh umat manusia, pada Hari Pagerwesi seyogyanya mempersembahkan bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi, sebagai pagar dari pengetahuan, sebagai benteng yang menghalangi masuknya adharma.”

Sastra ini menekankan bahwa ilmu pengetahuan tidak akan bermanfaat tanpa pagar spiritual. Tanpa keteguhan sradha, ilmu bisa salah arah, bahkan tidak jarang menjerumuskan. Oleh karenanya, Hari suci Pagerwesi adalah momentum untuk kita meneguhkan diri agar ilmu dan dharma menjadi cahaya yang menerangi dan melindungi dalam menjalankan swadharma kehidupan.

Jika kita telisik lebih dalam ada tiga nilai utama pada hari suci pagerwesi

1.      Kekuatan (Śakti)

Kekuatan yang dimaksud bukan hanya kekuatan fisik, melainkan śakti daya spiritual yang lahir dari bhakti dan disiplin rohani. Dengan doa, sembahyang, serta kesungguhan menjalankan dharma, manusia membangun energi positif yang melindungi diri dari kerapuhan mental dan keputusasaan.

2.      Keteguhan (Sthiti)

Seperti besi yang kokoh, Pagerwesi mengajarkan keteguhan hati. Di era modern yang penuh godaan mulai dari budaya konsumerisme, hedonisme, hingga informasi palsu (hoaks) keteguhan pada dharma menjadi pagar yang menjaga manusia dari kehancuran moral. Hari suci pagerwesi mengingatkan kita, bahwa tanpa keteguhan, ilmu (widya) dan sradha akan mudah runtuh dan tergerus oleh arus perubahan.

3.      Perlindungan (Rakṣā)

Pemaknaan hari suci pagerwesi adalah perlindungan batin. Dengan sembahyang, umat Hindu sesungguhnya sedang membangun “benteng cahaya” di dalam diri. Benteng ini menjaga pikiran (manacika) agar tetap jernih, menjaga perkataan (wacika) agar penuh kebenaran, dan menjaga perbuatan (Kayika) agar selaras dengan ajaran serta jalan dharma.

Di zaman digital, banyak hal yang bisa melemahkan pagar diri kita. Media sosial misalnya, bisa menjadi sumber inspirasi positif, tapi juga bisa menjadi jalan masuknya hal negative seperti kebencian, iri hati, dan kebohongan. Hari suci agerwesi mengingatkan agar kita tidak hanya pintar secara intelektual, tetapi juga bijak secara spiritual.

Bila Pagerwesi diibaratkan pagar, maka yang dipagari bukanlah rumah, melainkan jiwa. Kita harus melindungi diri dari keserakahan, amarah dan kebingungan batin. Dengan begitu, kehidupan menjadi lebih seimbang, penuh makna, dan bermanfaat bagi sesama. Jadikan ilmu sebagai cahaya, bukan sekadar hiasan, karena ilmu tanpa keteguhan hanya akan menjadi kosong, kemudian bangun pagar kesadaran dalam diri dengan kendalikan pikiran, perkataan, dan perbuatan, serta lawanlah adharma dengan ketulusan dan cinta kasih karena pagar terbaik bukanlah kebencian, melainkan welas asih.

Hari Suci Pagerwesi adalah momentum untuk memperkuat benteng diri. Ia mengajarkan bahwa kehidupan selalu penuh ujian, tetapi dengan kekuatan spiritual, keteguhan hati, dan perlindungan dharma, manusia akan tetap berdiri kokoh menghadapi arus zaman yang semakin deras tidak terkendali. Pagerwesi sejatinnya bukan sekadar hari suci, tetapi pangeling (pengingat) agar kita selalu memagari hidup dengan dharma. Karena hanya dengan pagar dharma, kita bisa hidup tenang, teguh dan penuh cahaya.

Oleh ; I Gede Widiantara, S.Sos

Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Buleleng.



0Komentar

sn
sn
Special Ads