SINGARAJA FM,-Hari Suci Pagerwesi, yang jatuh pada Budha Kliwon Wuku Shinta, merupakan salah satu momen penting dalam kalender keagamaan Hindu Bali. Empat hari setelah Hari Saraswati—saat umat memuja turunnya ilmu pengetahuan suci—Pagerwesi hadir untuk mengingatkan agar ilmu itu tidak sekadar berhenti sebagai pengetahuan, tetapi dipagari, dijaga, dan dimanfaatkan untuk menguatkan diri di jalan dharma.
Dalam bahasa sederhana,
Pagerwesi adalah pagar besi. Sebagaimana besi yang keras, kokoh, dan sukar
ditembus, demikianlah diharapkan umat Hindu menjaga dirinya dari serangan
adharma, kebodohan, dan pengaruh buruk yang bisa melemahkan jiwa.
Dalam Lontar
Sundarigama, Pagerwesi ditegaskan sebagai momentum umat Hindu untuk memperkuat
diri.
“….Sira sang mānuṣa kabeh, mangke
Pagerwesi, wenang ngaturaken bhakti ring Ida Sang Hyang Widhi, pinaka pagering
jñāna, pinaka panyengkeraning adharma.”
Artinya: “Wahai seluruh
umat manusia, pada Hari Pagerwesi seyogyanya mempersembahkan bhakti kepada Ida
Sang Hyang Widhi, sebagai pagar dari pengetahuan, sebagai benteng yang
menghalangi masuknya adharma.”
Sastra ini menekankan bahwa
ilmu pengetahuan tidak akan bermanfaat tanpa pagar spiritual. Tanpa keteguhan sradha, ilmu bisa salah arah, bahkan tidak jarang menjerumuskan. Oleh karenanya, Hari suci Pagerwesi adalah momentum untuk kita meneguhkan diri agar
ilmu dan dharma menjadi cahaya yang menerangi dan melindungi dalam menjalankan swadharma kehidupan.
Jika kita telisik lebih dalam ada tiga nilai utama
pada hari suci pagerwesi
1. Kekuatan (Śakti)
Kekuatan
yang dimaksud bukan hanya kekuatan fisik, melainkan śakti daya spiritual yang lahir dari
bhakti dan disiplin rohani. Dengan doa, sembahyang, serta kesungguhan
menjalankan dharma, manusia membangun energi positif yang melindungi diri dari
kerapuhan mental dan keputusasaan.
2. Keteguhan (Sthiti)
Seperti
besi yang kokoh, Pagerwesi mengajarkan keteguhan hati. Di era modern yang penuh
godaan mulai dari budaya konsumerisme,
hedonisme, hingga informasi palsu (hoaks)
keteguhan
pada dharma menjadi pagar yang menjaga manusia dari kehancuran moral. Hari suci pagerwesi mengingatkan kita, bahwa tanpa keteguhan, ilmu (widya) dan sradha
akan mudah
runtuh dan tergerus
oleh arus perubahan.
3. Perlindungan (Rakṣā)
Pemaknaan hari suci pagerwesi adalah
perlindungan batin. Dengan sembahyang, umat Hindu sesungguhnya sedang membangun
“benteng cahaya” di dalam diri. Benteng ini menjaga pikiran (manacika) agar tetap jernih,
menjaga perkataan (wacika)
agar penuh kebenaran, dan menjaga perbuatan
(Kayika)
agar selaras dengan ajaran
serta jalan dharma.
Di zaman digital,
banyak hal yang bisa melemahkan pagar diri kita. Media sosial misalnya, bisa menjadi sumber
inspirasi positif, tapi juga bisa menjadi jalan masuknya hal negative seperti kebencian, iri
hati, dan kebohongan. Hari
suci agerwesi
mengingatkan agar kita tidak hanya pintar secara intelektual, tetapi juga bijak
secara spiritual.
Bila Pagerwesi
diibaratkan pagar, maka yang dipagari bukanlah rumah, melainkan jiwa. Kita
harus melindungi diri dari keserakahan, amarah dan kebingungan batin. Dengan
begitu, kehidupan menjadi lebih seimbang, penuh makna, dan bermanfaat bagi
sesama. Jadikan ilmu sebagai cahaya, bukan
sekadar hiasan, karena ilmu
tanpa keteguhan hanya akan menjadi kosong, kemudian bangun pagar kesadaran
dalam diri dengan kendalikan
pikiran, perkataan, dan perbuatan,
serta lawanlah adharma dengan ketulusan dan cinta
kasih karena pagar
terbaik bukanlah kebencian, melainkan welas asih.
Hari Suci Pagerwesi
adalah momentum untuk memperkuat benteng diri. Ia mengajarkan bahwa kehidupan
selalu penuh ujian, tetapi dengan kekuatan spiritual, keteguhan hati, dan perlindungan
dharma, manusia akan tetap berdiri kokoh menghadapi arus zaman yang semakin deras tidak terkendali. Pagerwesi
sejatinnya bukan
sekadar hari suci, tetapi pangeling
(pengingat) agar kita selalu memagari hidup dengan dharma. Karena hanya dengan
pagar dharma, kita bisa hidup tenang, teguh dan penuh cahaya.
Oleh ; I Gede Widiantara, S.Sos
Penyuluh Agama Hindu
Kantor Kementerian Agama Kabupaten Buleleng.

0Komentar